GEA di Bulan April

Foto dulu sebelum mendaki Ciremai

G-Ex kembali lagi! Tanggal 3-5 Mei 2015, tujuh Brur (Rizki, Revaz, Naufal, Ongga, Tito, Nanda, dan Randy) dan 5 Bruri (Selvia, Sarah, Febby, Reni, dan Cindytami) mendaki ke gunung tertinggi di Jawa Barat, yaitu ke Gunung Ciremai dengan ketinggian 3078 mdpl. Perjalanan ini dilakasanakan di tengah penatnya UTS dan praktikum yang melanda massa GEA. Alhamdulillah acara GEA Explorer ini berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti.

IMPK

Pemenang Kontes Foto pada saat IMPK

IMPK (Ilmu Medan, Peta, dan Kompas) 2015 dilaksanakan pada tanggal 11 April 2015. IMPK dilakasanakan di wilayah Citatah, Padalarang. Acara ini dilaksanakan untuk membantu massa GEA memahami ilmu medan dan orientasi wilayah dengan peta dan kompas agar tidak chaos saat melapang. Sebelum terjun langsung ke lapangan, massa GEA mendapat pembekalan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 10 April 2015.

Poster Sosialisasi Geohumanisme dengan himpunan lain

Poster Sosialisasi Geohumanisme dengan himpunan lain

Pada tanggal 13 April 2015 bertempat di Ruang Hilmi Panigoro, sosialisasi kegiatan geohumanisme dengan beberapa himpunan seperti HMTL ITB, HIMA BIO “NYMPHEA” ITB, HIMA Mikro “ARCHEA” ITB, HMK “AMISCA” ITB, dan HIMAREKTA “AGRAPANA” ITB dilaksanakan. Dalam sosialisasi ini dibahas tentang kegiatan Geohumanisme yang akan dilaksanakan pada tahun 2015 seperti tujuan diadakannya kegiatan, waktu dan tempat kegiatan, serta rangkaian acara geohumanisme.

Paskah GEA

Acara Paskah GEA

 Kamis, 16 April 2015, Paskah GEA dilakasanakan untuk memeperingati Hari Kematian Yesus Kristus yang tahun ini jatuh pada tanggal 3 April 2015. Acara ini diselenggarakan di Ruang Hilmi Panigoro dengan tema Kekudusan dan Kasih Persaudaraan.

1432444775759

Gea Cooking Club April

GCC (GEA Cooking Club) bulan April dilaksanakan pada hari Jumat, 17 April 2015. GEA Cooking Club ini diselenggarakan di lapangan parkir Laboratorium Kimia Dasar. Terlihat para cowok GEA sedang menyiapkan bahan untuk keperluan memasak.

Rangkaian Acara DIES Natalis GEA 6 Dekade sudah dimulai di bulan April pada tanggal 29-30 April seperti Home Tournament (HT) yang berisi berbagai macam perlombaan seperti Rangking 1 GEA yang dimenangkan oleh Imron (GL’12), FIFA Competition yang diadakan untuk massa GEA yang menyukai FIFA yang dimenangkan oleh Yongki (GL’12) dan Ayub (GL’13), Fun Soccer sebagai fasilitas untuk cowok GEA yang menyukai sepak bola yang dimenangkan oleh Tim Faishal (GL’13), dan Tarik Tambang yang mengeratkan hubungan internal antara massa GEA yang dimenangkan oleh Tim Prima (GL’13). Selain itu, dilaksanakan pula Master Chef GEA, lomba masak dengan bahan utama kornet yang dimenangkan oleh Tim Dea (GL’13) dengan Chef jagonya Farras (GL’12) yang mengubah kornet menjadi masakan yang mantap untuk disantap.

HT

Hasil Home Tournament

Semedo, Rumah bagi Vertebrata Tertua di Indonesia

by Sukiato Kurniawan (‘GL 2011)

Situs Semedo pertama kali muncul ke permukaan panggung ilmiah pada tahun 2005. Sebagai situs yang paling baru ditemukan, belum banyak penelitian yang pernah dilakukan secara menyeluruh, padahal Semedo dapat menjadi kunci emas bagi ilmu pengetahuan di bidang arkeologi, paleontologi, paleoantropologi, geologi, serta berbagai bidang Ilmu Kuarter lainnya. Berikut laporan penulis (Sukiato Khurniawan, GL 11) yang kini tengah mendalami disiplin geologi serta paleontologi vertebrata di situs ini.

Tenar akibat Kegigihan Pengabdian Pak Dakri

Pak Dakri, begitulah warga memanggil pria paruh baya yang kerap kali dijumpai apabila memasuki Balai Informasi Purbakala Situs Semedo. Sifatnya yang bersahabat dan gaya bicaranya yang khas serta informatif selalu mampu mencairkan suasana hati pengunjung yang baru tiba. Tak hanya itu, pembawaannya yang berapi-api dan lugas dalam memberikan penjelasan mengenai fosil-fosil yang dipajang di area display (ruang pamer) tidak pernah mematikan rasa penasaran pengunjung untuk menggali ilmu tentang sejarah kehidupan purba daerah Semedo.

Sore hari itu, saat saya sedang mendata ulang fosil yang pernah diidentifikasi oleh Badan Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Pak Dakri menceritakan bagaimana awalnya beliau merintis pembangunan Pondok Informasi Semedo, yang lebih sering dikenal sebagai Museum Semedo.

Pak Dakri yang kini berumur 59 tahun telah mengumpulkan fosil sejak tahun 1987 saat dirinya sedang mengurus ladang sekaligus merangkap sebagai seniman. Kala itu, beliau gemar menelusuri sungai dan berjalan di perbukitan yang ditanami jagung untuk mengumpulkan pecahan-pecahan tubuh hewan. Beliau menyadari bahwa pecahan tulang hewan yang ditemukan itu bukanlah berasal dari hewan-hewan yang hidup sekarang. Bagaimana caranya tempurung kura-kura laut bisa sampai terdampar ditengah kebun jagung? Bagaimana mungkin gigi ikan hiu bisa ditemukan di tengah aliran sungai? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang kemudian mengantarkan Pak Dakri untuk tak henti-hentinya mengumpulkan fosil serta menganalisis singkapan lokasi penemuannya di sekitar lingkungan Semedo.

Memang pada awalnya, setiap hal yang hendak dikembangkan selalu mendapat hambatan dari orang-orang di sekitar. Begitu pula yang sempat dirasakan Pak Dakri dahulu. Beliau pernah dicap aneh oleh penduduk dan mendapatkan respon negatif karena kegemarannya mengumpulkan fosil-fosil ketimbang mengangkat cangkul dan mengurus ladangnya. Namun segala macam perkataan yang menyerangnya tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus mengamankan fosil-fosil dari tangan-tangan usil masyarakat sekitar.

Ketekunan Pak Dakri beserta tiga orang temannya: Pak Sunardi, Pak Duman, dan Pak Anshori-lah yang mengantar Semedo tampil ke panggung dunia ilmiah. Berkat bantuan Bambang Purnama dan Slamet Heriyanto dari LSM Gerbang Mataram yang pada tahun bukan Juni 2005 melaporkan temuan situs ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Semedo secara perlahan mulai berdiri tegak dan mendapat lirikan dari para peneliti maupun warga sekitar.

Semedo bagi Gerbang Ilmu Pengetahuan

Pada tahun 2005, setelah terjalin kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal dan Balai Arkeologi Yogyakarta, banyak peneliti yang mulai berdatangan untuk mempelajari Situs Semedo, sebut saja dari Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri (mulai 2005), Museum Sangiran (mulai 2005), Museum Geologi Bandung (2014) dan Institut Teknologi Bandung (mulai 2014). Hingga kini, kegiatan yang sudah dilakukan adalah menginventarisasi dan mengidentifikasi fosil temuan hingga dilakukannya ekskavasi pada lokasi seputar temuan fosil manusia purba.

Hingga kini, berbagai fosil yang telah diidentifikasi antara lain gajah purba (Elephas, Stegodon, dan Mastodon/Sinomastodon bumiajuensis?), kerbau purba (Bubalus palaeokerabau), banteng purba (Bos palaeosondaicus), kura-kura (Testudo sp. dan Trionyx sp.), buaya (Crocodilus sp.), harimau (Panthera sp.), serigala (Canis sp.), hyaena (Hyaena sp.), dan rusa (Cervus hippelaphus). Selain itu, ditemukan pula fosil hewan laut seperti kura-kura (Goechelone?), fragmen gigi ikan hiu (Charcarodon megalodon), serta Moluska seperti Anadara/Arca, Turitella, Murex dan Antigona.

Puncak temuan yang paling menggegerkan barangkali datang dari fragmen fosil Homo erectus yang ditemukan pada tahun 2011 serta diberi nama Semedo 1, yang kemudian menambah panjang album keluarga Homo erectus di Indonesia. Fosil ini terdiri dari sedikit pecahan bagian ocipital serta bagian parietal kiri-kanan. Menurut penelitian oleh Widiyanta (2011), Semedo 1 memiliki kemiripan dengan fosil Homo erectus Grogolan Wetan yang ditemukan di daerah Sangiran. Kesamaan morfologi dan biometri kedua fosil ini mungkin mencerminkan bahwa Semedo 1 dapat digolongkan ke dalam jenis Homo erectus tipik yang hidup sekitar 250.000-900.000 tahun yang lalu. Temuan ini mungkin merupakan temuan yang telah dinanti-nantikan, sebab sebelumnya telah banyak ditemukan artefak berupa kapak perimbas, kapak penetak, dan alat serut-bilah yang terbuat dari batugamping (koral) terkersikkan, sebagai penciri adanya peradaban manusia pada masa lampau. Walaupun belum ditemukan fosil tengkorak yang lengkap dengan seluruh wajah, namun temuan ini mampu menjanjikan temuan-temuan lain yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Hingga kini, tidak hanya Museum Semedo saja yang melakukan pengumpulan fosil. Biasanya, warga-warga yang menemukan fosil ketika beraktivitas di kebun juga turut mengoleksi, namun harus dilaporkan kepada pihak Museum Semedo untuk diinventarisasi. Hal ini dilakukan agar dapat meminimalisasi risiko kegiatan jual-beli fosil yang pada beberapa daerah sempat terjadi. Tentunya sangat disayangkan apabila Semedo dengan kumpulan fosil-fosil tua yang menakjubkan ini dijualbelikan serta jatuh kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Gading Elephas sp.

Gading Elephas sp.

fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?

fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?

Koleksi artefak Situs Semedo

Koleksi artefak Situs Semedo

Rahang bawah kiri Stegodon sp.

Rahang bawah kiri Stegodon sp.

Koleksi Mollusca

Koleksi Mollusca

fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)

fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)

Cervidae dan Cervus hippelaphus

Cervidae dan Cervus hippelaphus

Fauna Semedo, Fauna Tua Indonesia

Banyaknya jenis spesies dan jumlah individu yang ditemukan menjadikan fauna purba Semedo menarik untuk diteliti. Apabila mengacu pada biostratigrafi fauna vertebrata Jawa oleh de Vos et al. (1982) dan Sondaar (1986), maka kehadiran fosil-fosil Semedo dapat digolongkan dari Fauna Satir, Fauna Cisaat, Fauna Trinil-HK, dan Fauna Kedungbrubus.

Fauna Satir di Semedo dicirikan oleh hadirnya fosil gigi molar Mastodon (Sinomatodon bumiajuensis?). Di endapan yang sama, juga dilaporkan ditemukan fosil kura-kura (Geochelone?) yang belum diekskavasi, namun telah tersingkap dengan sangat jelas di lapangan. Tak hanya itu, ditemukan pula fragmen gigi dan rahang yang diidentifikasi milik Hyaena sp. Apabila fosil Hyaena ini terbukti bersifat insitu dari lapisan yang sama dengan Mastodon, maka Semedo kemungkinan dapat mengisi bahkan menggeser Fauna Satir yang hingga saat ini diketahui terdiri dari fosil Mastodon, Hexaprotodon simplex, Geochelone atlas, dan Cervidae.

Fauna Cisaat di Semedo ditandai dengan hadirnya fosil Stegodon sp. (Stegodon trigonocephalus?)

Fauna Trinil-HK di Semedo dicirikan oleh melimpahnya fosil Suidae (Sus brachygnathus), Bovidae (Bubalus palaeokerabau dan Bibos palaeosondaicus), Stegodon, Cervidae, Rhinocerotidae (Rhinoceros sondaicus?), Hippopotamidae, dan Felidae.

Fauna Kedungbrubus umumnya ditandai oleh kemunculan genus Elephas. Di Semedo, telah ditemukan pecahan rahang bawah kiri Elephas sp, sehingga lebih kurang fauna-fauna Semedo menjangkau umur yang disebandingkan dengan fauna ini.

(Catatan: sebagian penamaan fosil penulis ambil dari laporan oleh Widiyanta (2014), pengamatan di Museum Semedo, serta identifikasi awal yang bersifat sementara oleh penulis. Pengukuran biometri dan analisis lanjut perlu dilakukan agar mendapatkan bistratigrafi daerah Semedo yang lebih detail).

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

Berperang dengan Pencari Batu Akik!

Situs Semedo pun tidak lepas dari ancaman pencari batu akik yang kini tengah naik daun di seluruh penjuru Indonesia. Sepanjang penelitian penulis, saat menelusuri sungai bersama Pak Dakri, kami sempat menjumpai warga yang tengah menghancurkan singkapan untuk mencari batu akik. Warga yang terlibat dalam pencarian ini berasal dari desa-desa sebeah, bukan berasal dari Desa Semedo yang umumnya sudah mengerti megenai dunia perfosilan. Hal yang menjadi ketakutan kami adalah bahwa artefak yang terbuat dari koral terkersikkan (bahan yang sangat bagus untuk dibuat perhiasan) diambil dan digunakan oleh warga yang belum mampu membedakan mana yang fosil, artefak, dan batu biasa.

Selain itu, penulis juga sempat diajak Pak Dakri untuk mengecek laporan warga bahwa telah ditemukan pecahan gading gajah (Proboscidea) yang telah dihancurkan oleh pemburu batu akik. Benar saja, di lapangan, kami mendapati 4 buah fragmen yang berhasil diselamatkan warga serta 6 fragmen tambahan yang bersifat insitu, serta pecahan bekas benturan benda keras buatan manusia.

Kebetulan sekali, pada saat turun dari bukit untuk kembali mencari singkapan batuan, Pak Dakri menemukan fragmen fosil yang kecil yang tersingkap sedikit ke permukaan. Setelah kami mencoba membukanya, kami mendapatkan sebuah fosil humerus Bovidae yang lengkap dengan tingkat fosilisasi yang sangat baik. Awalnya, karena kami hendak melanjutkan perjalanan untuk mencari singkapan, Pak Dakri sempat menawarkan untuk menitipkan fosil ini kepada warga atau menyembunyikannya sementara waktu di bawah pohon. Namun setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk membawanya langsung ke museum dan memberhentikan perjalanan kami hari itu agar fosil ini dapat terselamatkan dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

Fenomena batu akik mungkin membawa rejeki mendadak bagi beberapa pihak, namun apabila warga tidak mendapatkan informasi dan edukasi yang cukup, maka tentunya akan membawa dampak yang buruk bagi situs purbakala seperti Semedo ini. Berdasarkan laporan yang penulis baca dari berbagai media, ternyata sudah terjadi beberapa perusakan terhadap situs arkeologi di beberapa penjuru Indonesia, seperti di Curug Dago (Bandung, Jawa Barat) dan situs peninggalan purbalaka zaman batu di Papua. Alangkah baiknya apabila pihak situs dari manapun dapat melaporkan kepada pihak berwajib serta mampu bekerjasama dengan PPNS Purbakala untuk menangani permasalahan ini.

Pecahan fosil yang dilaporkan warga

Pecahan fosil yang dilaporkan warga

Pecahan fosil ulah pemburu batu akik

Pecahan fosil ulah pemburu batu akik

Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan

Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan

semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

Rencana Pengembangan Museum Situs Semedo

Pengembangan Situs Semedo agar dapat lebih bermanfaat serta menambah daya pikat masyarakat untuk mengenal dunia kepurbakalaan Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Berkat kegigihan dari berbagai pihak, kini Situs Semedo tengah berada dalam rencana pengembangan lanjut. Apabila tidak ada kendala, maka diperkirakan pembangunan Museum Semedo yang lebih layak akan mulai dijalankan pada tahun 2015 ini dan selesai pada akhir tahun 2016. Dengan melihat jumlah pengunjung sebanyak lebih kurang 50-an orang per hari, dengan dibangunnya Museum yang lebih megah tentu akan menambah daya tarik masyarakat dari berbagai kalangan. Desain masterplan, pembebasan lahan, serta hal-hal teknis dan administratif telah dipersiapkan secara matang. Pada saat penulis sedang berada di daerah penelitian, penulis sempat mengamati pihak-pihak yang bertugas dalam pembangunan mulai melakukan survei untuk memperlancar rencana pendirian museum.

Lahan sebesar dua hektar juga telah dipersiapkan. Apabila sesuai rencana, maka lahan seluas satu hektar akan digunakan sebagai lahan parkir, sementara satu hektar lain akan dibangun menjadi museum, dilengkapi dengan penginapan yang dikhususkan untuk peneliti dan mahasiswa yang ingin mendalami disiplin ilmu Kuarter daerah Semedo. Semua ini tidak terlepas dari perhatian dari berbagai pihak, terutama Bapak Dakri, yang selalu menekankan agar dibangunnya pondokan atau penginapan khusus peneliti agar lebih memperlancar studi disini. Selain bangunan inti, kondisi jalan yang rusak parah juga perlu dibenahi. Kabarnya, kini telah terjalin koordinasi dengan Departemen Pekerjaan Umum untuk menyelesaikan permasalahan jalan umum setelah museum selesai dibangun.

Pembangunan pun tidak lepas dari pro dan kontra yang datang dari masyarakat sekitar. Untuk itu, perlu dilakukan suatu tindak lanjut agar mampu berdampak positif terhadap masyarakat. Berbagai langkah pun sudah direncanakan dan dipersiapkan oleh Tanti Asih, putri Bapak Dakri, yang bertugas sebagai informan, guide, sekaligus pengembang Museum Semedo. Rencananya, penduduk di sekitar akan dilibatkan dalam kegiatan pengembangan jasa dari bidang usaha ekonomi kreatif dan ekonomi kecil-menengah. Salah satunya adalah dengan mendorong kreativitas masyarakat untuk mengembangkan masakan khas tradisional Semedo, kesenian wayang, souvenir, jasa transportasi, hingga wahana hiburan seperti taman bermain anak-anak. Harapannya, dengan dibangunnya Museum Semedo, tidak terbentuk kesenjangan sosial antara masyarakat dengan pihak museum, serta mampu mendorong masyarakat untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Kondisi pondok informasi saat ini

Kondisi pondok informasi saat ini

Lestarikan Fosil, Lestarikan Situs Purbakala, Visit Museum!

Museum telah lama menjadi daya tarik bagi berbagai kalangan dari berbagai rentang usia pula. Museum dapat menjadi alternatif yang cukup menarik sebagai wahana hiburan sekaligus edukasi yang bernilai tinggi. Karena hanya di dalam museum lah, kita mampu belajar dari sejarah, mengambil kearifan dari masa lampau, serta mengamalkannya ke dalam kehidupan kini. Entah itu museum dengan latar belakang apapun, perlu kita lestarikan dan dijaga keutuhannya.

Sudah sepantasnya pihak-pihak pemerintah mencurahkan perhatian yang lebih, konsentrasi yang lebih terfokus, serta pengembangan yang lebih terarah agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para peneliti, masyarakat Indonesia secara umum, maupun wisatawan mancanegara. Lebih dari itu, peningkatan minat studi-edukasi melalu kunjungan ke museum juga harus terus menjadi gagasan rutin bagi pihak-pihak pelaksana pendidikan di Indonesia. Tak hanya pihak pemerintah, masyarakat secara umum juga sepatutnya mengambil peran dan tanggung jawab terhadap perkembangan dan kelestarian museum.

Melalui rencana pengembangan Museum Situs Semedo, penulis sangat mengharapkan timbulnya keinginan, keberanian, dan ketekunan dari generasi penerus selanjutnya untuk terus mengembangkan situs purbakala yang memiliki potensi luar biasa ini. Di samping itu, semoga kita juga mampu mendekatkan diri dengan fosil, temuan purbakala, serta sejarah agar dapat memahami arti penting kehidupan. Sudah sepantasnya dan sudah tiba waktunya bagi kita untuk menjaga pusaka peninggalan alam Indonesia, melalui pelestarian: baik itu pelestarian fosil, pelestarian situs purbakala, maupun pelestarian segala sesuatu yang mengandung nilai historis yang tinggi, karena pada dasarnya, ini adalah tanggung jawab kita semua!

Senin, 13 April 2015
dari saung Balai  Informasi Purbakala Situs Semedo,

S.

Catatan: Jalan menuju Situs Semedo:
Dari Kota Tegal (ke arah timur) atau Semarang-Pekalongan-Pemalang (ke arah barat), berhenti di pos polisi Pasar Suradadi, kemudian belok ke arah selatan, masuk ke Jalan Raya Suradadi (Kertasari), dan ikuti papan penunjuk arah ke Situs Semedo. Kondisi jalan raya untuk saat ini sangat rusak. Apabila pengunjung naik kendaraan umum dari Jalur Pantura, setelah berhenti di Pasar Suradadi, dapat dilanjutkan dengan jasa ojek.

Daftar Pustaka:

De Vos, J., Sartono, S., hardjasasmita, S., dan Sondaar P.Y. 1982. The Fauna from Trinil, Type Locality of Homo erectus, A Reinterpretation. Geologie & Mijnbouw 61: 207-211

Hertler, C dan Rizal, Y. 2005. Excursion Guide to Pleistocene Hominid Sites in Central and East Java. ITB-JGW University

Sondaar, P.Y. 1984. Faunal Evolution and The Mammalian Biostratigraphy of Java. Courier Forschungs Institut Senckenberg 69: 219-235

Widiyanto, H. 2011. Nafas Sangiran: Nafas Situs-Situs Hominid. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran

Widiyanta, W. 2014. Situs Sangiran-Situs Semedo: Perbandingan Potensi Kedua Situs Pleistosen di Jawa. Jurnal Sangiran No. 3

——————————————

Sukiato Khurniawan

Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknoloi Bandung (FITB-ITB). Saat ini tengah melakukan penelitian geologi dan paleontologi di Situs Semedo, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebagai salah satu syarat bagi kelulusan studi tingkat Sarjana (Strata 1). Penulis memilih mendalami paleontologi, khususnya paleontologi vertebrata dan paleoanthropologi sebagai spesialisasi dari disiplin ilmu kebumian. Penulis dapat dihubungi melalui surel sukiato.kho@students.itb.ac.id, atau akun FB: Sukiato Khurniawan

FIELDTRIP ANTAM HMTG “GEA” ITB

1395163_763677080352930_13309461824765508_n

ANTAM (PT. Aneka Tambang Tbk.) merupakan perusahaan milik pemerintah indonesia dan masyarakat sebagai industri pertambangan. Sebagian besar saham dari perusahaan ini milik pemerintah sebesar 65% dan sisanya milik masyarakat. Perusahaan ini mengelola , mengeksplorasi dan memasarkan sumber daya mineral di Indonesia. Beberapa cakupan mineral yang menjadi komoditas utama ialah bijih nikel, emas, perak, batubara dan bauksit.

Salah satu produksi emas dan perak ANTAM berasal dari daerah Pongkor, Jawa Barat, tempat yang GEA kunjungi, dan merupakan tambang bawah tanah. Menurut informasi yang didapatkan, tambang emas pongkor memiliki tiga urat emas utama yakni Ciguha, Kubang Cicau dan Ciurug. Metode yang digunakan yaitu conventional cut and fill stoping dan mechanised cut and fill.

Pada kesempatan ini, GEA berkesempatan mengikuti kegiatan fieldtrip ke ANTAM untuk mendapatkanpengetahuan lebih tentang eksplorasi mineral. Tidak hanya itu, dapat juga mempelajari lokasi cebakan mineral di wilayah tersebut secara menyeluruh seperti, dimensi cadangan yang ekonomis ditempat itu, sebaran, tipe alterasi, mengetahui segala informasi source-nya dan melakukan segala kegiatan lapangan seperti analisis singkapan.
Pada tanggal 20 mei 2014, GEA melaksanakan kegiatan fieldtrip GEA yang pertama dan merupakan salah satu program kerja dari divisi lapangan. Keberangkatan dijadwalkan pada pukul 2.00 pagi. Namun karena beberapa hal, akhirnya keberangkatan dimulai pukul 03.00 WIB. Fieldtrip kali ini didampingi oleh salah satu dosen geologi , bapak Nurcahyo Indro Baruki (Pak Uki). Fieldtrip ini diikuti oleh 20 peserta dari GEA. Fieldtrip berlokasi di ANTAM pongkor, jawa barat. Perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu sekitar 8 jam, sehingga sampai di tempat tujuan pukul 10.30 WIB.
Ketika sampai di Antam, GEA mendapat sambutan dari bapak Nurcahyo dan presentasi tentang eksplorasi dan gambaran geologi daerah pertambangan emas PT. ANTAM, Pongkor. Didalam presentasi yang disampaikan pihak ANTAM menyebutkan bahwa pongkor merupakan daerah pertambangan emas tipe bawah tanah yang ramah lingkungan. Lubang tambang berada sekitar 30 m dibawah permukaan tanah.

Selain itu kita dijelaskan sedikit tentang bagaimana eksplorasi kimia, pengembangan tambang, tipe bijih, dimensi, bentuk bijih, , dan pengolahan emas di PT. ANTAM ini. Setelah pemaparan pengetahuan seputar eksplorasi dan penambangan, kita diajak mengunjungi lapangan tempat penambangannya dan lapangan pengolahan.

Pukul 12.30 GEA melakukan persiapan dengan memakai pakaian lapangan yang lengkap untuk keselamatan. 01.00 mulai mengunjungi tunnel underground mining. Saat di lapangan pemandu lapangan mengajak untuk memasuki tunnel dan melihat singkapan bijih. Di dalam lubang penambangan ini sangat lembab, banyak air dan sedikit oksigen serta gelap, sehingga pengamatan yang dilakukan cukup terbatas. Pemandu memberi tahu bahwa kandungan emas di pongkor tidaklah cukup besar, 1 ton material broken ore, kandungan Au hanya 10%, namun walaupun begitu, masih ekonomis untuk ditambang. “Produksi pongkor dengan freeport bahkan sangatlah jauh perbedaannya, 1 minggu produksi freeport samadengan 1 bulan produksi pongkor”,begitu ujarnya. Dipongkor masih banyak kendala dalam proses pengembangan pertambangan diantaranya masalah air dan limbah tilling.

Pukul 2.00 peserta harus segera meninggalkan lubang penambangan, hal tersebut karena akan segera dilakukan blasting, sehingga harus dilakukan pengosongan area penambangan. Lalu peserta dimobilisasi menuju area pengolahan emas. Disini kita dipandu oleh beberapa orang, yang ternyata aumni metalurgi ITB tahun 2005. Disini dijelaskan proses pemisahan Au dengan metoda elektrolisis dan pemisahan dengan karbon aktif. Sederhananya pertama broken ore dari area pertambangan diangkut lalu digiling menjadi sangat halus lalu pemisahan kandungan didalamnya termasuk pemisahan emas. Hasil akhir berupa blok-blok berukuran 30 x 30cm. Blok-blok ini bukan sepenuhnya emas murni, sehingga akan dilakukan pemisahan lagi. Nah, pemisahan ini tentunya ditempat yang berbeda, bukan di pongkor, bogor.

Pukul 04.30peserta selesai melakukan kegiatan lapangan. Setelah itu mobilisasi menuju office dan melanjutkan acara terakhir, penutupan dan ucapan terimaksih kepada pihak aANTAM. Pukul 05.00 kpeserta bergegas kembali ke bandung. Tidak jauh beda, waktu yang ditempuh sekitar 8 jam dan sampai di ITB puku 01.00 WIB.

 

Faisal Siddiq

Kepala Departemen Lapangan

Bidang Keprofesian

HMTG “GEA” ITB

“Yuk, Belajar Mapping!”

faisal2

Berbicara dengan geologi, tidak akan lepas dengan lapangan. Lapangan sudah menjadi rumah kedua bagi seorang geologist. Untuk lebih memahami lapangan, pada awal semester genap 2013/2014 tepatnya pada hari Senin, 20 Januari 2014, mahasiswa Teknik Geologi ITB mengadakan kegiatan lapangan. Kegiatan ini diinisoasi oleh Departemen Lapangan HMTG “GEA” ITB.

Kegiatan lapangan yang dilakukan meliputi deskripsi singkapan, melihat objek geologi, dan orientasi lapangan. Kegiatan lapangan ini diawali dengan kegiatan pra-lapangan yang dilaksanakan sehari sebelumnya. Kegiatan pra-lapangan ini berisi diskusi mengenai manajemen lapangan sekaligus menentukan lokasi observasi. Kegiatan pra-lapangan meliputi analisis geologi regional, analisis peta kontur, dan tren kontur terhadap kedudukan lapisan. Lokasi observasi yang ditentukan adalah Padalarang. Padalarang merupakan lokasi yang sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa Teknik Geologi ITB.

Pada hari-H, kegiatan diawali dengan persiapan alat dan pengumpulan peserta. Peserta menuju lokasi dengan menggunakan keretaapi. Jumlah peserta yang ikut serta dalam kegiatan ini berjumlah 21 orang. Peserta mencapai lokasi pada pukul 08.00 WIB. Setelah itu peserta melakukan briefing, pembagian alat, pembagian kelompok, dan dilanjutkan dengan mencari objek geologi di sepanjang sungai, tebing, maupun pada daerah pertambangan.

Materi yang dipelajari pada kegiatan kali ini adalah membedakan singkapan batuan dengan bongkah, dan mengenai orientasi medan. Selain itu dari pengalaman di lapangan kali ini peserta dapat membuktikan bahwa tren dari pola kontur menggambarkan kedudukan lapisan. Selain itu, peserta belajar membuat lintasan geologi di sepanjang sungai Cibogo, Padalarang. Berdasarkan referensi pada peta geologi lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972) lintasan geologi yang dikunjungi adalah formasi Cibogo yang merupakan hasil endapan sistem turbidit.

Kegiatan lapangan yang dilakukan berlangsung selama lima jam. Setelah itu peserta ishoma serta melakukan evaluasi mengenai kegiatan yang telah dilakukan. Peserta kemudian meninggalkan lokasi dan kembali ke Bandung dengan transportasi keretaapi. Kegiatan lapangan memang bukanlah kegiatan yang cukup menyenangkan bagi beberapa orang pada umumnya. Tapi bagi seorang geologist, kegiatan lapangan merupakan bagian dari hidupnya. Dan bukan suatu hal yang baik bagi seseorang, ketika dia menyisihkan bagian hidupnya tersebut.

Faisal Siddiq

Kepala Departemen Lapangan

HMTG “GEA” ITB

Secuplik Tentang Geologi Teknik

engineeringgeologySeiring dengan revolusi industri, bidang teknik merupakan salah satu bidang yang berkembang. Geologi teknik pada mulanya muncul pada abad XVIII sebagai dampak dari proses konstruksi yakni insinyur terlibat dengan batuan dan tanah pada saat ekskavasi. Pada abad ini muncul tokoh-tokoh yang dikenal sebagai ‘Bapak Geologi’ antara lain Lewis Evans (1700-1756) fi Amerika, William Smith (176901839) di Inggris, Pierre Cordier (1777-1756) di Perancis dan masih banyak lagi. Mulanya, ketertarikan mereka adalah karena keingintahuan dan keinginan untuk menyelesaikan masalah pada teknik sipil dan pertambangan.

Pada akhir abad XIX, ilmu geologi dan teknik seperti berjalan sendiri-sendiri. Sedikit insinyur sipil yang mengerti ilmu geologi. Begitupun sebaliknya, banyak geologiwan yang fokus dan mendalami aplikasi ilmu geologi dalam bidang teknik. Awal abad XX, seorang tokoh ilmu sipil Charles Coulomb dan Macquorn Rankine berhasil mengembangan metode perhitungan deformasi massa bumi di bawah stress dalam pekerjaan enjinering. Selanjutnya pada 1925, Karl Terzaghi mempublikasikan tulisannya Erdbaumechanik mengeluarkan teori tentang mekanika tanah. Dalam publikasi lain, Terzaghi membahas pentingnya mengetahui kondisi geologi dalam pembangunan sipil.

The Association of Engineering Geologists (IAEG) dalam Laporan Tahunan pada tahun 2000 mendefinisikan Geologi Teknik sebagai disiplin ilmu yang menerapkan data geologi, teknik, dan prinsip-prinsip kedua ilmu tersebut yang: a) terjadi pada material batuan dan tanah, fluida permukaan dan bawah permukaan; b) interaksi material-material tersebut dan proses dalam geologi lingkungan sehingga faktor-faktor geologi dapat mempengaruhi dalam tahap perencanaan, desain, konstruksi, operasi dan perawatan struktur bangunan dan dalam pengembangan, pemeliharaan dan siklus sumber daya air tanah.

Geologi Teknik (Engineering geology) dikenal dalam beberapa nama seperti geological engineering, geotechnical engineering, earth science engineering, environmental engineering, engineering geomorphology, dan masih banyak lagi. Dalam setiap nama tersebut terdapat perbedaan fokus pada masing-masing disiplin. Di beberapa Negara, geologi teknik wajib dikuasai oleh lulusan program master. Disebut engineering geologist bila berasal dari program sarjana geologi. Sedangkan disebut geotechnical engineer bila program sarjana yang diambil merupakan enjinering.

David George Price dalam bukunya Engineering Geology, Principles and Practice (2006) mengatakan filosofi dari geologi teknik berdasar pada 3 hal:

  1. Semua pekerjaan enjinering dibangun dalam atau di atas tanah
  2. Tanah akan selalu mengalami reaksi terhadap konstruksi pada pekerjaan enjinering.
  3. Reaksi antara tanah dengan pekerjaan enjinering harus diakomodasi dalam pekerjaan enjineering itu sendiri.