GEA di Bulan Juli dan Agustus

SUARA GEA terbit lagi! Dengan tema “Kekayaan Maritim Indonesia” kali ini SUARA GEA membawakan informasi menarik mengenai kekayaan alam Indonesia yang berada di dalam air serta potensi kelautan Indonesia. Apa kamu sudah tahu tentang gas hidrat, Legenda Pantai Selatan yang dapat dijelaskan lewat fenomena tsunami, serta perbukitan karst di Bali yang dapat dijadikan destinasi wisata? Baca informasi lebih lengkapnya serta cerita-cerita menarik lainnya di bit.ly/suaragea1501!

SUARA GEA vol. 1 ed. 2015

Wisuda ketiga tahun akademik 2014/2015 yang sebelumnya dilaksanakan bulan Juli, tahun ini dilaksanakan tanggal 1 Agustus 2015. Pada Wisuda Agustus 2015 ini HMTG “GEA” ITB melepas 12 orang wisudawan dan wisudawati yang terdiri dari angkatan 2010 dan 2011. Rangkaian acara syukuran Wisuda Agustus 2015 dimulai pada tanggal 31 Juli 2015 dengan Acara Prodi yang dihadiri dosen, wisudawan, dan keluarga wisudawan yang dilaksanakan di R. Hilmi Panigoro pada pukul 13.00. Pada pukul 19.30 dilaksanakan Wisnite Wisuda Agustus 2015 yang dihadiri oleh wisudawan serta segenap massa GEA di Lapangan Parkir BSC-B. Acara ini dimeriahkan dengan performance oleh massa GEA dan Musang serta video-video yang dibuat massa GEA untuk wisudawan. Perayaan wisuda kali ini bertema GEA “The Explorer”. Tanggal 1 Agustus 2015 merupakan hari pelaksanaan Sidang Sarjana di Sabuga. Setelah sidang selesai, para wisudawan diarak oleh massa GEA dari Sabuga ke kampus. Acara dilanjutkan dengan prosesi penciuman bendera sebagai tanda lepasnya para wisudawan dari keanggotaan resmi HMTG “GEA” ITB. Rangkaian acara syukuran wisuda yang diketuai oleh M. Faishal Rachman (GL’13) berlangsung dengan lancar dan meriah.

Prosesi arak-arakan Wisuda Agustus 2015

Prosesi arak-arakan Wisuda Agustus 2015

_DSC9937

Wisudawan dan wisudawati GEA beserta Ketua Program Studi Teknik Geologi, Pak Budi Brahmantyo

Memasuki bulan Agustus, Departemen Hubungan Alumni mengadakan Kopi Sore pada hari Senin, 3 Agustus 2015. Bertempat di Ruang Hilmi Panigoro, Kopi Sore kali ini bertemakan “Sosialisasi IATMI dan Sharing Pengalaman Kerja di Timur Tengah” yang diisi oleh GEA Husni dari angkatan 1995.

kopsor

Berfoto bersama GEA Husni (’95) setelah sharing di acara Kopi Sore

Geohumanism datang lagi di tahun 2015 ini! Live-in Geohumanism 2015 diadakan pada tanggal 11-12 Agustus 2015. Geohumanism kali ini bertujuan untuk berusaha membenahi sistem sanitasi di Desa Tarumajaya supaya sampah warga tidak lagi dibuang ke Sungai Citarum. Maka dari itu, pada live-in ini dilakukan dua hal, yaitu membangun tempat sampah sementara untuk memisahkan sampah organik, sampah anorganik, dan sampah yang dapat dijual kembali serta melakukan survei air di beberapa aliran sungai untuk kemudian mengusulkan ke dinas kebersihan agar dapat diberi bak sampah yang nantinya akan secara rutin diambil. Cerita dan dokumentasi lengkapnya dapat dibaca di posting sebelumnya.

Setelah terpotong liburan semester, GEA Mengajar mulai dilakukan kembali pada tanggal 14 Agustus 2015. Akhirnya para GEA-GEA yang rindu mengajar adik-adik di Gunung Batu dapat kembali bertemu mereka dengan semangat di semester baru. Jangan lupa untuk ikut acara GEA Mengajar berikutnya ya!

FullSizeRender

Suasana GEA Mengajar di Gunung Batu

Akhirnya rangkaian acara GEA 6 DEKADE sampai ke puncaknya, yaitu Dies Night GEA 6 DEKADE. Pada acara ini, bukan hanya massa GEA yang ikut merayakan ulang tahun GEA yang ke-60, namun alumni GEA dari dekade-dekade sebelumnya pun turut diundang. Dies Night diramaikan oleh alumni GEA dari tahun 60-an hingga massa GEA sekarang. Salah satu mata acara dari Dies Night ini adalah sharing alumni dimana alumni dari berbagai dekade bercerita tentang pengalamannya sebagai GEA saat masih berkuliah di ITB. Acara yang bertempat di Aula Timur ITB ini berlangsung meriah dan lancar. Semoga semangat 60 tahun GEA bisa terus berlanjut dan GEA dapat terus berkembang ke arah yang lebih baik!

Beberapa alumni GEA dalam sesi sharing alumni

Beberapa alumni GEA dalam sesi sharing alumni

Massa GEA dari berbagai dekade berfoto bersama di acara Dies Night GEA 6 Dekade

GEA dari berbagai dekade berfoto bersama di acara Dies Night GEA 6 Dekade

Pada tanggal 26 Agustus 2015, Departemen Non-Lapangan mengadakan workshop bertajuk “Serial Workshop Membuat Karya Tulis dan Mengubah Skripsi Menjadi Publikasi: Mengelola Sitasi / Referensi” bersama Dr. Dasapta Erwin Irawan, S.T., M.T.. Pada workshop yang diadakan di Ruang Hilmi Panigoro ini, massa GEA belajar mengelola sitasi dengan rapi dan mudah menggunakan aplikasi sehingga mempermudah proses pembuatan daftar pustaka dapat dilakukan dengan praktis. Selain itu, pada tanggal 27 Agustus 2015 juga diadakan pelatihan dasar-dasar software Arcgis oleh staf Departemen Non-Lapangan.

Suasana workshop bersama Pak Dasapta Erwin Irawan

Suasana workshop bersama Pak Dasapta Erwin Irawan

Departemen Beasiswa mengadakan “Sharing Beasiswa LPDP Bareng GEA” pada tanggal 27 Agustus 2015 di Ruang Hilmi Panigoro. Sharing ini diisi oleh 8 orang alumni GEA yang berkesempatan mendapatkan beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk melanjutkan studi ke universitas di Inggris. Para alumni GEA menjelaskan informasi beasiswa LPDP secara umum, persyaratan pendaftaran, tahap-tahap pendaftaran, serta tips menjalani proses seleksi dan wawancara hingga akhirnya lolos seleksi.

lpdp

Berfoto bersama setelah sharing beasiswa LPDP bersama alumni GEA

 

GEA di Bulan April

Foto dulu sebelum mendaki Ciremai

G-Ex kembali lagi! Tanggal 3-5 Mei 2015, tujuh Brur (Rizki, Revaz, Naufal, Ongga, Tito, Nanda, dan Randy) dan 5 Bruri (Selvia, Sarah, Febby, Reni, dan Cindytami) mendaki ke gunung tertinggi di Jawa Barat, yaitu ke Gunung Ciremai dengan ketinggian 3078 mdpl. Perjalanan ini dilakasanakan di tengah penatnya UTS dan praktikum yang melanda massa GEA. Alhamdulillah acara GEA Explorer ini berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti.

IMPK

Pemenang Kontes Foto pada saat IMPK

IMPK (Ilmu Medan, Peta, dan Kompas) 2015 dilaksanakan pada tanggal 11 April 2015. IMPK dilakasanakan di wilayah Citatah, Padalarang. Acara ini dilaksanakan untuk membantu massa GEA memahami ilmu medan dan orientasi wilayah dengan peta dan kompas agar tidak chaos saat melapang. Sebelum terjun langsung ke lapangan, massa GEA mendapat pembekalan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 10 April 2015.

Poster Sosialisasi Geohumanisme dengan himpunan lain

Poster Sosialisasi Geohumanisme dengan himpunan lain

Pada tanggal 13 April 2015 bertempat di Ruang Hilmi Panigoro, sosialisasi kegiatan geohumanisme dengan beberapa himpunan seperti HMTL ITB, HIMA BIO “NYMPHEA” ITB, HIMA Mikro “ARCHEA” ITB, HMK “AMISCA” ITB, dan HIMAREKTA “AGRAPANA” ITB dilaksanakan. Dalam sosialisasi ini dibahas tentang kegiatan Geohumanisme yang akan dilaksanakan pada tahun 2015 seperti tujuan diadakannya kegiatan, waktu dan tempat kegiatan, serta rangkaian acara geohumanisme.

Paskah GEA

Acara Paskah GEA

 Kamis, 16 April 2015, Paskah GEA dilakasanakan untuk memeperingati Hari Kematian Yesus Kristus yang tahun ini jatuh pada tanggal 3 April 2015. Acara ini diselenggarakan di Ruang Hilmi Panigoro dengan tema Kekudusan dan Kasih Persaudaraan.

1432444775759

Gea Cooking Club April

GCC (GEA Cooking Club) bulan April dilaksanakan pada hari Jumat, 17 April 2015. GEA Cooking Club ini diselenggarakan di lapangan parkir Laboratorium Kimia Dasar. Terlihat para cowok GEA sedang menyiapkan bahan untuk keperluan memasak.

Rangkaian Acara DIES Natalis GEA 6 Dekade sudah dimulai di bulan April pada tanggal 29-30 April seperti Home Tournament (HT) yang berisi berbagai macam perlombaan seperti Rangking 1 GEA yang dimenangkan oleh Imron (GL’12), FIFA Competition yang diadakan untuk massa GEA yang menyukai FIFA yang dimenangkan oleh Yongki (GL’12) dan Ayub (GL’13), Fun Soccer sebagai fasilitas untuk cowok GEA yang menyukai sepak bola yang dimenangkan oleh Tim Faishal (GL’13), dan Tarik Tambang yang mengeratkan hubungan internal antara massa GEA yang dimenangkan oleh Tim Prima (GL’13). Selain itu, dilaksanakan pula Master Chef GEA, lomba masak dengan bahan utama kornet yang dimenangkan oleh Tim Dea (GL’13) dengan Chef jagonya Farras (GL’12) yang mengubah kornet menjadi masakan yang mantap untuk disantap.

HT

Hasil Home Tournament

Semedo, Rumah bagi Vertebrata Tertua di Indonesia

by Sukiato Kurniawan (‘GL 2011)

Situs Semedo pertama kali muncul ke permukaan panggung ilmiah pada tahun 2005. Sebagai situs yang paling baru ditemukan, belum banyak penelitian yang pernah dilakukan secara menyeluruh, padahal Semedo dapat menjadi kunci emas bagi ilmu pengetahuan di bidang arkeologi, paleontologi, paleoantropologi, geologi, serta berbagai bidang Ilmu Kuarter lainnya. Berikut laporan penulis (Sukiato Khurniawan, GL 11) yang kini tengah mendalami disiplin geologi serta paleontologi vertebrata di situs ini.

Tenar akibat Kegigihan Pengabdian Pak Dakri

Pak Dakri, begitulah warga memanggil pria paruh baya yang kerap kali dijumpai apabila memasuki Balai Informasi Purbakala Situs Semedo. Sifatnya yang bersahabat dan gaya bicaranya yang khas serta informatif selalu mampu mencairkan suasana hati pengunjung yang baru tiba. Tak hanya itu, pembawaannya yang berapi-api dan lugas dalam memberikan penjelasan mengenai fosil-fosil yang dipajang di area display (ruang pamer) tidak pernah mematikan rasa penasaran pengunjung untuk menggali ilmu tentang sejarah kehidupan purba daerah Semedo.

Sore hari itu, saat saya sedang mendata ulang fosil yang pernah diidentifikasi oleh Badan Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Pak Dakri menceritakan bagaimana awalnya beliau merintis pembangunan Pondok Informasi Semedo, yang lebih sering dikenal sebagai Museum Semedo.

Pak Dakri yang kini berumur 59 tahun telah mengumpulkan fosil sejak tahun 1987 saat dirinya sedang mengurus ladang sekaligus merangkap sebagai seniman. Kala itu, beliau gemar menelusuri sungai dan berjalan di perbukitan yang ditanami jagung untuk mengumpulkan pecahan-pecahan tubuh hewan. Beliau menyadari bahwa pecahan tulang hewan yang ditemukan itu bukanlah berasal dari hewan-hewan yang hidup sekarang. Bagaimana caranya tempurung kura-kura laut bisa sampai terdampar ditengah kebun jagung? Bagaimana mungkin gigi ikan hiu bisa ditemukan di tengah aliran sungai? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang kemudian mengantarkan Pak Dakri untuk tak henti-hentinya mengumpulkan fosil serta menganalisis singkapan lokasi penemuannya di sekitar lingkungan Semedo.

Memang pada awalnya, setiap hal yang hendak dikembangkan selalu mendapat hambatan dari orang-orang di sekitar. Begitu pula yang sempat dirasakan Pak Dakri dahulu. Beliau pernah dicap aneh oleh penduduk dan mendapatkan respon negatif karena kegemarannya mengumpulkan fosil-fosil ketimbang mengangkat cangkul dan mengurus ladangnya. Namun segala macam perkataan yang menyerangnya tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus mengamankan fosil-fosil dari tangan-tangan usil masyarakat sekitar.

Ketekunan Pak Dakri beserta tiga orang temannya: Pak Sunardi, Pak Duman, dan Pak Anshori-lah yang mengantar Semedo tampil ke panggung dunia ilmiah. Berkat bantuan Bambang Purnama dan Slamet Heriyanto dari LSM Gerbang Mataram yang pada tahun bukan Juni 2005 melaporkan temuan situs ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Semedo secara perlahan mulai berdiri tegak dan mendapat lirikan dari para peneliti maupun warga sekitar.

Semedo bagi Gerbang Ilmu Pengetahuan

Pada tahun 2005, setelah terjalin kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal dan Balai Arkeologi Yogyakarta, banyak peneliti yang mulai berdatangan untuk mempelajari Situs Semedo, sebut saja dari Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri (mulai 2005), Museum Sangiran (mulai 2005), Museum Geologi Bandung (2014) dan Institut Teknologi Bandung (mulai 2014). Hingga kini, kegiatan yang sudah dilakukan adalah menginventarisasi dan mengidentifikasi fosil temuan hingga dilakukannya ekskavasi pada lokasi seputar temuan fosil manusia purba.

Hingga kini, berbagai fosil yang telah diidentifikasi antara lain gajah purba (Elephas, Stegodon, dan Mastodon/Sinomastodon bumiajuensis?), kerbau purba (Bubalus palaeokerabau), banteng purba (Bos palaeosondaicus), kura-kura (Testudo sp. dan Trionyx sp.), buaya (Crocodilus sp.), harimau (Panthera sp.), serigala (Canis sp.), hyaena (Hyaena sp.), dan rusa (Cervus hippelaphus). Selain itu, ditemukan pula fosil hewan laut seperti kura-kura (Goechelone?), fragmen gigi ikan hiu (Charcarodon megalodon), serta Moluska seperti Anadara/Arca, Turitella, Murex dan Antigona.

Puncak temuan yang paling menggegerkan barangkali datang dari fragmen fosil Homo erectus yang ditemukan pada tahun 2011 serta diberi nama Semedo 1, yang kemudian menambah panjang album keluarga Homo erectus di Indonesia. Fosil ini terdiri dari sedikit pecahan bagian ocipital serta bagian parietal kiri-kanan. Menurut penelitian oleh Widiyanta (2011), Semedo 1 memiliki kemiripan dengan fosil Homo erectus Grogolan Wetan yang ditemukan di daerah Sangiran. Kesamaan morfologi dan biometri kedua fosil ini mungkin mencerminkan bahwa Semedo 1 dapat digolongkan ke dalam jenis Homo erectus tipik yang hidup sekitar 250.000-900.000 tahun yang lalu. Temuan ini mungkin merupakan temuan yang telah dinanti-nantikan, sebab sebelumnya telah banyak ditemukan artefak berupa kapak perimbas, kapak penetak, dan alat serut-bilah yang terbuat dari batugamping (koral) terkersikkan, sebagai penciri adanya peradaban manusia pada masa lampau. Walaupun belum ditemukan fosil tengkorak yang lengkap dengan seluruh wajah, namun temuan ini mampu menjanjikan temuan-temuan lain yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Hingga kini, tidak hanya Museum Semedo saja yang melakukan pengumpulan fosil. Biasanya, warga-warga yang menemukan fosil ketika beraktivitas di kebun juga turut mengoleksi, namun harus dilaporkan kepada pihak Museum Semedo untuk diinventarisasi. Hal ini dilakukan agar dapat meminimalisasi risiko kegiatan jual-beli fosil yang pada beberapa daerah sempat terjadi. Tentunya sangat disayangkan apabila Semedo dengan kumpulan fosil-fosil tua yang menakjubkan ini dijualbelikan serta jatuh kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Gading Elephas sp.

Gading Elephas sp.

fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?

fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?

Koleksi artefak Situs Semedo

Koleksi artefak Situs Semedo

Rahang bawah kiri Stegodon sp.

Rahang bawah kiri Stegodon sp.

Koleksi Mollusca

Koleksi Mollusca

fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)

fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)

Cervidae dan Cervus hippelaphus

Cervidae dan Cervus hippelaphus

Fauna Semedo, Fauna Tua Indonesia

Banyaknya jenis spesies dan jumlah individu yang ditemukan menjadikan fauna purba Semedo menarik untuk diteliti. Apabila mengacu pada biostratigrafi fauna vertebrata Jawa oleh de Vos et al. (1982) dan Sondaar (1986), maka kehadiran fosil-fosil Semedo dapat digolongkan dari Fauna Satir, Fauna Cisaat, Fauna Trinil-HK, dan Fauna Kedungbrubus.

Fauna Satir di Semedo dicirikan oleh hadirnya fosil gigi molar Mastodon (Sinomatodon bumiajuensis?). Di endapan yang sama, juga dilaporkan ditemukan fosil kura-kura (Geochelone?) yang belum diekskavasi, namun telah tersingkap dengan sangat jelas di lapangan. Tak hanya itu, ditemukan pula fragmen gigi dan rahang yang diidentifikasi milik Hyaena sp. Apabila fosil Hyaena ini terbukti bersifat insitu dari lapisan yang sama dengan Mastodon, maka Semedo kemungkinan dapat mengisi bahkan menggeser Fauna Satir yang hingga saat ini diketahui terdiri dari fosil Mastodon, Hexaprotodon simplex, Geochelone atlas, dan Cervidae.

Fauna Cisaat di Semedo ditandai dengan hadirnya fosil Stegodon sp. (Stegodon trigonocephalus?)

Fauna Trinil-HK di Semedo dicirikan oleh melimpahnya fosil Suidae (Sus brachygnathus), Bovidae (Bubalus palaeokerabau dan Bibos palaeosondaicus), Stegodon, Cervidae, Rhinocerotidae (Rhinoceros sondaicus?), Hippopotamidae, dan Felidae.

Fauna Kedungbrubus umumnya ditandai oleh kemunculan genus Elephas. Di Semedo, telah ditemukan pecahan rahang bawah kiri Elephas sp, sehingga lebih kurang fauna-fauna Semedo menjangkau umur yang disebandingkan dengan fauna ini.

(Catatan: sebagian penamaan fosil penulis ambil dari laporan oleh Widiyanta (2014), pengamatan di Museum Semedo, serta identifikasi awal yang bersifat sementara oleh penulis. Pengukuran biometri dan analisis lanjut perlu dilakukan agar mendapatkan bistratigrafi daerah Semedo yang lebih detail).

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

Berperang dengan Pencari Batu Akik!

Situs Semedo pun tidak lepas dari ancaman pencari batu akik yang kini tengah naik daun di seluruh penjuru Indonesia. Sepanjang penelitian penulis, saat menelusuri sungai bersama Pak Dakri, kami sempat menjumpai warga yang tengah menghancurkan singkapan untuk mencari batu akik. Warga yang terlibat dalam pencarian ini berasal dari desa-desa sebeah, bukan berasal dari Desa Semedo yang umumnya sudah mengerti megenai dunia perfosilan. Hal yang menjadi ketakutan kami adalah bahwa artefak yang terbuat dari koral terkersikkan (bahan yang sangat bagus untuk dibuat perhiasan) diambil dan digunakan oleh warga yang belum mampu membedakan mana yang fosil, artefak, dan batu biasa.

Selain itu, penulis juga sempat diajak Pak Dakri untuk mengecek laporan warga bahwa telah ditemukan pecahan gading gajah (Proboscidea) yang telah dihancurkan oleh pemburu batu akik. Benar saja, di lapangan, kami mendapati 4 buah fragmen yang berhasil diselamatkan warga serta 6 fragmen tambahan yang bersifat insitu, serta pecahan bekas benturan benda keras buatan manusia.

Kebetulan sekali, pada saat turun dari bukit untuk kembali mencari singkapan batuan, Pak Dakri menemukan fragmen fosil yang kecil yang tersingkap sedikit ke permukaan. Setelah kami mencoba membukanya, kami mendapatkan sebuah fosil humerus Bovidae yang lengkap dengan tingkat fosilisasi yang sangat baik. Awalnya, karena kami hendak melanjutkan perjalanan untuk mencari singkapan, Pak Dakri sempat menawarkan untuk menitipkan fosil ini kepada warga atau menyembunyikannya sementara waktu di bawah pohon. Namun setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk membawanya langsung ke museum dan memberhentikan perjalanan kami hari itu agar fosil ini dapat terselamatkan dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

Fenomena batu akik mungkin membawa rejeki mendadak bagi beberapa pihak, namun apabila warga tidak mendapatkan informasi dan edukasi yang cukup, maka tentunya akan membawa dampak yang buruk bagi situs purbakala seperti Semedo ini. Berdasarkan laporan yang penulis baca dari berbagai media, ternyata sudah terjadi beberapa perusakan terhadap situs arkeologi di beberapa penjuru Indonesia, seperti di Curug Dago (Bandung, Jawa Barat) dan situs peninggalan purbalaka zaman batu di Papua. Alangkah baiknya apabila pihak situs dari manapun dapat melaporkan kepada pihak berwajib serta mampu bekerjasama dengan PPNS Purbakala untuk menangani permasalahan ini.

Pecahan fosil yang dilaporkan warga

Pecahan fosil yang dilaporkan warga

Pecahan fosil ulah pemburu batu akik

Pecahan fosil ulah pemburu batu akik

Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan

Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan

semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

Rencana Pengembangan Museum Situs Semedo

Pengembangan Situs Semedo agar dapat lebih bermanfaat serta menambah daya pikat masyarakat untuk mengenal dunia kepurbakalaan Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Berkat kegigihan dari berbagai pihak, kini Situs Semedo tengah berada dalam rencana pengembangan lanjut. Apabila tidak ada kendala, maka diperkirakan pembangunan Museum Semedo yang lebih layak akan mulai dijalankan pada tahun 2015 ini dan selesai pada akhir tahun 2016. Dengan melihat jumlah pengunjung sebanyak lebih kurang 50-an orang per hari, dengan dibangunnya Museum yang lebih megah tentu akan menambah daya tarik masyarakat dari berbagai kalangan. Desain masterplan, pembebasan lahan, serta hal-hal teknis dan administratif telah dipersiapkan secara matang. Pada saat penulis sedang berada di daerah penelitian, penulis sempat mengamati pihak-pihak yang bertugas dalam pembangunan mulai melakukan survei untuk memperlancar rencana pendirian museum.

Lahan sebesar dua hektar juga telah dipersiapkan. Apabila sesuai rencana, maka lahan seluas satu hektar akan digunakan sebagai lahan parkir, sementara satu hektar lain akan dibangun menjadi museum, dilengkapi dengan penginapan yang dikhususkan untuk peneliti dan mahasiswa yang ingin mendalami disiplin ilmu Kuarter daerah Semedo. Semua ini tidak terlepas dari perhatian dari berbagai pihak, terutama Bapak Dakri, yang selalu menekankan agar dibangunnya pondokan atau penginapan khusus peneliti agar lebih memperlancar studi disini. Selain bangunan inti, kondisi jalan yang rusak parah juga perlu dibenahi. Kabarnya, kini telah terjalin koordinasi dengan Departemen Pekerjaan Umum untuk menyelesaikan permasalahan jalan umum setelah museum selesai dibangun.

Pembangunan pun tidak lepas dari pro dan kontra yang datang dari masyarakat sekitar. Untuk itu, perlu dilakukan suatu tindak lanjut agar mampu berdampak positif terhadap masyarakat. Berbagai langkah pun sudah direncanakan dan dipersiapkan oleh Tanti Asih, putri Bapak Dakri, yang bertugas sebagai informan, guide, sekaligus pengembang Museum Semedo. Rencananya, penduduk di sekitar akan dilibatkan dalam kegiatan pengembangan jasa dari bidang usaha ekonomi kreatif dan ekonomi kecil-menengah. Salah satunya adalah dengan mendorong kreativitas masyarakat untuk mengembangkan masakan khas tradisional Semedo, kesenian wayang, souvenir, jasa transportasi, hingga wahana hiburan seperti taman bermain anak-anak. Harapannya, dengan dibangunnya Museum Semedo, tidak terbentuk kesenjangan sosial antara masyarakat dengan pihak museum, serta mampu mendorong masyarakat untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Kondisi pondok informasi saat ini

Kondisi pondok informasi saat ini

Lestarikan Fosil, Lestarikan Situs Purbakala, Visit Museum!

Museum telah lama menjadi daya tarik bagi berbagai kalangan dari berbagai rentang usia pula. Museum dapat menjadi alternatif yang cukup menarik sebagai wahana hiburan sekaligus edukasi yang bernilai tinggi. Karena hanya di dalam museum lah, kita mampu belajar dari sejarah, mengambil kearifan dari masa lampau, serta mengamalkannya ke dalam kehidupan kini. Entah itu museum dengan latar belakang apapun, perlu kita lestarikan dan dijaga keutuhannya.

Sudah sepantasnya pihak-pihak pemerintah mencurahkan perhatian yang lebih, konsentrasi yang lebih terfokus, serta pengembangan yang lebih terarah agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para peneliti, masyarakat Indonesia secara umum, maupun wisatawan mancanegara. Lebih dari itu, peningkatan minat studi-edukasi melalu kunjungan ke museum juga harus terus menjadi gagasan rutin bagi pihak-pihak pelaksana pendidikan di Indonesia. Tak hanya pihak pemerintah, masyarakat secara umum juga sepatutnya mengambil peran dan tanggung jawab terhadap perkembangan dan kelestarian museum.

Melalui rencana pengembangan Museum Situs Semedo, penulis sangat mengharapkan timbulnya keinginan, keberanian, dan ketekunan dari generasi penerus selanjutnya untuk terus mengembangkan situs purbakala yang memiliki potensi luar biasa ini. Di samping itu, semoga kita juga mampu mendekatkan diri dengan fosil, temuan purbakala, serta sejarah agar dapat memahami arti penting kehidupan. Sudah sepantasnya dan sudah tiba waktunya bagi kita untuk menjaga pusaka peninggalan alam Indonesia, melalui pelestarian: baik itu pelestarian fosil, pelestarian situs purbakala, maupun pelestarian segala sesuatu yang mengandung nilai historis yang tinggi, karena pada dasarnya, ini adalah tanggung jawab kita semua!

Senin, 13 April 2015
dari saung Balai  Informasi Purbakala Situs Semedo,

S.

Catatan: Jalan menuju Situs Semedo:
Dari Kota Tegal (ke arah timur) atau Semarang-Pekalongan-Pemalang (ke arah barat), berhenti di pos polisi Pasar Suradadi, kemudian belok ke arah selatan, masuk ke Jalan Raya Suradadi (Kertasari), dan ikuti papan penunjuk arah ke Situs Semedo. Kondisi jalan raya untuk saat ini sangat rusak. Apabila pengunjung naik kendaraan umum dari Jalur Pantura, setelah berhenti di Pasar Suradadi, dapat dilanjutkan dengan jasa ojek.

Daftar Pustaka:

De Vos, J., Sartono, S., hardjasasmita, S., dan Sondaar P.Y. 1982. The Fauna from Trinil, Type Locality of Homo erectus, A Reinterpretation. Geologie & Mijnbouw 61: 207-211

Hertler, C dan Rizal, Y. 2005. Excursion Guide to Pleistocene Hominid Sites in Central and East Java. ITB-JGW University

Sondaar, P.Y. 1984. Faunal Evolution and The Mammalian Biostratigraphy of Java. Courier Forschungs Institut Senckenberg 69: 219-235

Widiyanto, H. 2011. Nafas Sangiran: Nafas Situs-Situs Hominid. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran

Widiyanta, W. 2014. Situs Sangiran-Situs Semedo: Perbandingan Potensi Kedua Situs Pleistosen di Jawa. Jurnal Sangiran No. 3

——————————————

Sukiato Khurniawan

Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknoloi Bandung (FITB-ITB). Saat ini tengah melakukan penelitian geologi dan paleontologi di Situs Semedo, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebagai salah satu syarat bagi kelulusan studi tingkat Sarjana (Strata 1). Penulis memilih mendalami paleontologi, khususnya paleontologi vertebrata dan paleoanthropologi sebagai spesialisasi dari disiplin ilmu kebumian. Penulis dapat dihubungi melalui surel sukiato.kho@students.itb.ac.id, atau akun FB: Sukiato Khurniawan

GEA di Bulan Maret

Ketua BPA, Abdullah Azzam A. (12012058) mengesahkan BPH HMTG "GEA" ITB periode 2014/2015.

Ketua BPA, Abdullah Azzam A. (12012058) mengesahkan BPH HMTG “GEA” ITB periode 2014/2015.

Kepengurusan BPH HMTG “GEA” ITB periode 2014/2015 diawali dengan berakhirnya Rapat Anggota Musyawarah Kerja pada tanggal 7 Maret 2015. Syafiq Abdullah (12012017) mengetuai kepengurusan kali ini.

Rangkaian Acara PIT PERHIMAGI

Rangkaian Acara PIT PERHIMAGI

Pada awal bulan tepatnya tanggal 9 Maret 2015, Pekan Ilmiah Tahunan PERHIMAGI (PIT PERHIMAGI) berlangsung di Parapat, Sumatera Utara. GEA sebagi anggota PERHIMAGI turut mengirim perwakilannya yaitu Rizky Kurniawan (1201070) dan Vani Novita A. (1201052). Hasil dari PIT Perhimagi ini juga dijabarkan ke Massa GEA melalui GIM (GEA Informal Meeting) yang diadakan di ruang himpunan.

Salah satu pembicara, Merza Media (2007) menyampaikan presentasi tentang Open Hole Drilling

Salah satu pembicara, Merza Media (2007) menyampaikan presentasi tentang Open Hole Drilling

Tiga alumni GEA angkatan 2007, yaitu Fadli Syafitra, Dani Auliansyah, dan Merza Media menjadi tamu Kopi Sore yang diadakan Departemen Hubungan Alumni pada tanggal 14 Maret 2015. Kopi Sore diadakan di Ruang Hilmi Panigoro dihadiri oleh 47 orang. Fadli, Dani, dan Merza memaparkan presentasi seputar eksplorasi migas (khususnya Open Hole dan Close Hole Drilling) dari pukul 16.30-18.45 WIB.

GEA pada GEA-Nite

GEA pada GEA-Nite

21-22 Maret 2015, sekitar 50 orang GEA berangkat pada malam minggu (20.00 WIB) untuk menghadiri GEA Nite yang merupakan salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan IAGL di Epicentrum, Jakarta. Acara berlangsung ramai dan memberikan kesempatan bagi massa GEA bertemu dengan alumni GEA, pada acara tersebut GEA juga membawakan lagu-lagu Musang. Rangkaian acara dilanjutkan keesokan harinya dengan pertandingan sepak bola antara GFC (Gea Football Club) dengan IAGL FC. Rombongan GEA kembali ke Bandung pada Minggu Sore (15.00 WIB).

Ketua Kabinet KM-ITB periode 2014/2015, M. Jeffry Giranza (12010069) mengakhiri kepengurusannya dengan LPJ Kabinet KM-ITB tanggal 24 Maret lalu. LPJ ini mengundang segenap massa kampus ITB. Jeffry juga pernah menjabat sebagai Koordinator Regional Perhimagi Jabar, dan Kahim GEA periode 2012/2013. Saat ini PJS K3M ITB dipegang oleh Suka Pradita (Teknik Material ’11).

11681_10154204189291959_3629747467620559113_n

Wisudawan/wisudawati GEA Maret 2015https://gea.itb.ac.id/wp-admin/post.php?post=1206&action=edit&message=10

10653321_813341612048043_8531468950002989964_n

M. Jeffry Giranza memberikan orasi pada arak-arakan Wisuda Maret

Tanggal 27-28 Maret 2015 merupakan hari berbahagia untuk GEA dan segenap civitas akademika Teknik Geologi ITB. GEA melepas sebanyak 51 orang yang terdiri dari angkatan 2009 dan 2010 pada gelombang wisuda kali ini. Rangkaian Syukuran Wisuda dimulai pada tanggal 27 Maret pukul 13.00 WIB, dilaksanakan Acara Prodi yang mengundang segenap dosen dan orang tua wisudawan beserta wisudawan untuk membina silatruahim, acara prodi berakhir pada 17.00. Pukul 19.00 dilaksanakan Wisnite bagi massa GEA dan wisudawan GEA, acara ini dimeriahkan oleh penampilan dari wisudawan maupun massa GEA dan penayangan berbagai video berisi pesan/kenangan untuk wisudawan. Tanggal 28 Maret 2015 merupakan pelaksanaan Sidang Sarjana di Sabuga untuk meresmikan kelulusan wisudawan ITB. Selesainya Sidang Sarjana, wisudawan GEA diarak mengitari kampus, sayangnya arak-arakan dipotong akibat hujan deras. Massa GEA dan wisudawan langsung menuju basement Gedung Energi untuk melakukan prosesi Penciuman Bendera sebagai simbolisasi ‘lepas’nya keanggotaan GEA para wisudawan. Rangkaian Syukwis yang diketuai oleh Kausar Meloza berlangsung lancar dan mendapatkan pesan kesan baik dari wisudawan.

geajuaraigc

Perwakilan GEA untuk International Geomapping Competition yang terdiri dari Nabilah Adani (12011069), M. Reza Ramdhan (12011040), dan Faisal Siddiq (12011032) membawa pulang predikat “Best Poster” pada kompetisi yang dilaksanakan UGM tersebut. Kompetisi diselenggarakan 23-28 Maret 2015. Kabar baik lainnya datang dari Senator GEA, Reza Riezqi Ramadhan (12012023), yang terpilh menjadi Ketua Kongres KM-ITB tanggal 31 Maret lalu.

Coming Soon in April:

*Waktu/tanggal/tempat dapat berubah

3-5 April: Ge-Ex ke Gunung Ciremai

11-12 April: IMPK (Ilmu Medan, Peta, dan Kompas)
Merupakan sebuah wadah untuk GEA agar belajar lebih banyak mengenai lapangan mengingat pentingnya lapangan untuk geologi :)

29-30 April: Home Tournament Dies Natalis GEA