Di Atas Puncak Cikuray, Di Antara Awan

Berdiri di atas puncak gunung dengan ketinggian 2.818 mdpl dengan pemandangan awan yang melingkupi di atas kepala dan di bawah kaki tentunya meninggalkan kesan menyenangkan dan menenangkan tersendiri. Apalagi bagi sebagian gebot yang mengikuti G-Ex edisi Gunung Cikuray, Garut pada tanggal 7-9 Juni 2013 lalu, perjalanan tersebut merupakan kali pertama kami mendaki gunung.

Empat belas orang GEA tahap berkarya yang bermaksud mengisi liburan semester bersama teman-teman sepasukannya ini memulai perjalanan pada hari Jumat, 7 Juni 2013. Pukul tujuh malam kami meninggalkan sekre HMTG “GEA” ITB ke Terminal Cicaheum untuk menaiki bus menuju Garut, dan sampailah di sebuah masjid yang kami manfaatkan untuk bermalam sekitar pukul 23.00 WIB.

Hari Pertama

Dini harinya sebelum subuh, kami segera meninggalkan masjid untuk berangkat menuju kaki gunung Cikuray. Menggunakan angkot yang disewa, kami menempuh perjalanan sampai mencapai kebun teh, lalu menyambung kembali menggunakan truk sewaan untuk mencapai pos nol. Waktu menunjukkan sekitar pukul 9.30 saat kami turun dari truk dan disambut oleh kabut tebal sejauh mata memandang. Udara sejuk yang menenangkan semakin menyemangati kami untuk segera memulai perjalanan, apalagi banyaknya pendaki hari itu membuat kami tidak ingin kehilangan lahan untuk bermalam di atas nanti.

421625_670739399619684_1127952260_n_Salomon

Ada enam pos yang harus kami lewati sebelum mencapai puncak. Di menit-menit awal pendakian saat kami menyusuri lereng kebun teh yang cukup miring, rasa lelah mulai terasa karena ketidakbiasaan sebagian dari kami. Kabut semakin menipis berganti cahaya matahari yang semakin menghangatkan tengkuk membuat keringat kami perlahan-lahan mulai menetes. Pemandangan kebun teh yang terjal lama-kelamaan berganti dengan pemandangan padang ilalang. Mulanya berwarna ungu, kemudian putih, dilatari rumput kecoklatan dalam padang rumput yang luas. Hingga akhirnya lanskap tersebut berganti dengan pemandangan pepohonan dalam hutan yang terus menemani sampai puncak.

Medan yang terjal dan lembab membuat kami harus berhati-hati setiap melangkah. Dengan sigap teman-teman putra membantu teman-teman putri yang kesulitan saat menghadapi akar pohon yang menghalangi, atau undakan-undakan tinggi dan licin yang tidak ada habisnya sampai puncak. Pemandangan pohon yang terus-menerus terkadang menjemukkan, namun obrolan dan candaan yang menyenangkan sepanjang pendakian membuat semangat kami tetap terjaga sampai akhirnya pos enam pun berada di depan mata.

Kami mendirikan tenda pukul 17.00, dan tim putri mulai menanak nasi. Malam itu kami menghabiskan waktu bersama di tiga tenda. Setelah makan malam, sebagian dari kami asyik berfoto, sebagian bermain kartu, yang lainnya sibuk mengobrol, sampai akhirnya semuanya terlelap dan esok harinya kami bangun kembali pukul tiga dini hari untuk mengejar lanskap matahari terbit.

Hari Kedua

Pukul empat kami meninggalkan tenda dengan membawa spek secukupnya untuk melanjutkan perjalanan mencapai puncak. Shalat subuh pun dilakukan di dalam hutan di tengah perjalanan. Senter-senter yang bergerak di dalam gelapnya hutan diiringi obrolan-obrolan yang tidak seberisik kemarin membawa kami pada pendakian terakhir sekitar dua jam lamanya untuk menginjakkan kaki di titik tertinggi di lereng tersebut.

600739_670748679618756_690780004_n_Salomon

Perlahan langit mulai berwarna kebiruan pertanda kami sudah berjalan lama dengan nyaris tanpa istirahat. Sebagian mulai merasa lelah, namun semangat itu rasanya terpompa lagi saat melihat panorama yang tersingkap di belakang lereng yang ditutupi pepohonan. Lampu kota dipayungi oleh awan tipis terbingkai sungguh cantik, sehingga kami pun semakin tak sabar untuk melihatnya secara utuh dari atas puncak.

Dan setelah undakan terakhir, kami menyaksikan diri kami berada di antara dua lapisan awan. Di atas saat kami menengadah, dan di bawah kaki kami menutupi perkotaan, perbukitan, dan pegunungan di sekitarnya. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul enam pagi. Tanpa menunggu waktu lagi kami segera berfoto dan sebagian memasak air untuk membuat minuman hangat. Morfologi pegunungan yang menjulang di setiap sisi semakin memperindah panorama tersebut.

968937_670766409616983_1794219668_n_Salomon

Setelah puas mengambil ratusan foto, kami kembali ke pos enam untuk bersiap pulang. Menuruni bukit tidak semelelahkan mendakinya, maka kami hanya butuh waktu sebentar untuk mencapai tenda meskipun beberapa kecelakaan kecil seperti terpeleset lebih sering terjadi. Sebelum bersiap pulang, kami memasak makanan terakhir untuk sarapan. Pagi itu menunya adalah spagetti dengan saus dari susu dan kornet dan nasi rendang. Sungguh disyukuri bahwa pada ketinggian tersebut kami masih bisa makan seenak itu.

Pukul 12 siang kami mulai bergerak menuruni lereng untuk pulang. Hanya butuh waktu tiga jam untuk kembali mencapai pos nol, meski kami semua mengalami pengalaman terpeleset karena tanah yang licin. Menggunakan truk yang sama kami kembali ke terminal untuk menyewa kendaraan menuju Bandung. Akhirnya, dengan menggunakan mobil carry disambung angkot kami pun kembali ke kampus ITB pukul 23.30 WIB.

Salam kami untuk Cikuray, dan suka-duka di antara perjalanannya.

SAWARNA, Saat Keindahan Pantai Bertemu dengan Kemistisan Goa

Perjalanan G-Ex ke Pantai Sawarna kali ini memakan waktu di jalan yang sangat lama: diawali dengan perjalanan menuju barat daya Pulau Jawa yang memakan waktu 12 jam dan ditutup dengan perjalanan pulang ke Bandung yang menempuh waktu 14 jam. Sebanyak 34 anggota GEA berkumpul pada hari Kamis, 23 Mei 2013 sejak pukul 04.30 di Kubus (depan gerbang Ganesha) dan meninggalkan Bandung pukul 07.15. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami pun tiba di penginapan Cariang Resort pada pukul 19.15, dilanjutkan dengan makan malam dan beristirahat.

Read More

Catatan Perjalanan Menelusuri Tangkuban Perahu

Laskar pagi siap menghadapi tantangan hari ini, Selasa, 29 Mei 2012. Kali ini 4 anak dari GEA yaitu Malik, Lutfi, Aya dan Haris, yang akan saya sebut sebagai Laskar dalam tulisan ini, akan berjalan-jalan menelusuri Tangkuban Perahu yang terletak di sebelah utara kota Bandung. Jalan-jalan ini cukup berbeda dengan biasanya karena sang Laskar akan bersama anak-anak Sekolah Menengah Pertama dari Global Jaya yang berjumlah 80 anak. Inilah pengalaman pertama Laskar untuk menjadi teman belajar atau tour guide siswa – siswi SMP selama perjalanan untuk mengetahui tentang Tangkuban Perahu dan seluk-beluknya, ya apapun yang ingin mereka tanyakan terutama mengenai kondisi geologinya.

Perjalanan dimulai dengan siswa – siswi SMP Global Jaya dari Cihampelas menuju Tangkuban Perahu menggunakan dua bis dan Laskar pun terpisah di dua bis berbeda. Lokasi pertama tujuan rombongan ini adalah Kawah Domas, salah satu dari Kawah dari gunung Tangkuban Perahu. Kesan pertama yang masih teringat mengenai siswa – siswi SMP tersebut yaitu sebagian besar dari mereka terbiasa menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari karena sekolah ini merupakan sekolah internasional, sebuah kebiasaan yang sangat baik untuk dilakukan anak-anak seusia mereka.

Rombongan sampai di tempat pemberhentian bis kawasan Gunung Tangkuban Parahu sekitar pukul 11.00. Saat rombongan turun, kami langsung dibagi menjadi empat kelompok. Satu orang dari Laskar ini memimpin rombongan sekitar 20 siswa – siswi menuju lokasi tujuan pertama yaitu Kawah Domas yang berjarak 1,5 km dari terminal bis. Cuaca hari itu ternyata tidak bersahabat, ketika kami turun dari bis, mendung sudah terlihat. Sepanjang perjalanan, Laskar sedikit menjelaskan tentang Kawah Domas yang memiliki mata air panas. Belum sempat kami sampai di tempat tujuan, hujan mulai turun. Kami langsung memakai jas hujan dan siswa – siswi pun mengenakan payung yang mereka bawa. Guru – guru masih memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena sepanjang perjalanan pun tidak ada tempat untuk berteduh.

Setelah sampai di Kawah Domas, kami hanya bisa berteduh di warung – warung yang didirikan di dekat kawah. Kami takut jika siswa – siswi dipaksakan untuk turun ke kawah akan terjadi hal yang membahayakan. Suasana tidak terkondisi saat itu karena kami tidak diberitahu bagaimana rencana jika terjadi hujan demikian. Semua orang sudah terlanjur basah kuyup dan akhirnya banyak siswa – siswa yang tertarik untuk hujan – hujanan. Sebagian dari mereka ada yang berniat melihat mata air panas di sekitar kawah. Dengan penuh rasa khawatir kami menemani mereka dan menjelaskan bagaimana bisa terbentuknya air panas tersebut.Pertanyaan pun muncul dari salah satu siswa, ‘Apakah air tersebut mengandung gas berbahaya?’. Tentu saja berbahaya karena ada kemungkinan air kawah tersebut mengandung gas H2S, SO4 maupun CO2.  Akhirnya, hanya beberapa menit saja kami menikmati keindahan Kawah Domas disaat hujan turun. Setelah hujan agak reda, kami memutuskan untuk naik ke atas menuju terminal bis.

Perjalanan pulang lumayan melelahkan, jalur yang kami lalui cukup berbahaya karena jalan menjadi becek akibat diguyur hujan sebelumnya. Lutfi dan Aya menemani siswa – siswi yang tertinggal di belakang karena mereka bingung dengan arah jalan pulang sedangkan Malik dan Haris melesat jauh di depan bersama siswa –siswi yang mampu bergerak cepat untuk segera mendapatkan makan siang. Akhirnya tinggal satu anak yang tersisa bersama Lutfi, Aya dan beberapa guru dari SMP Global Jaya. Anak tersebut memiliki tubuh yang lumayan besar sehingga dia agak kesusahan untuk melalui jalan yang licin. Dua Laskar perempuan berusaha membantu sekuat tenaga untuk menjaga dia selama perjalanan agar tidak terjatuh dan guru – guru dari SMP Global Jaya pun memberi semangat kepada anak tersebut.

Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang, kami pun berhasil menyusul rombongan utama yang telah siap untuk santap makan siang. Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 13.00 dan tidak ada tanda – tanda bahwa cuaca akan cerah sehingga kita bisa menikmati pemandangan Kawah Ratu, karena jika cuaca seperti ini kemungkinan Kawah Ratu tidak akan terlihat sama sekali dan hanya kabut yang berkeliaran di sekitar kawah. Semua anak telah selesai makan dan membersihkan diri dari lumpur dan berganti baju dan kami pun siap untuk melanjutkan perjalanan. Semangat siswa – siswi Global Jaya tak terkalahkan oleh dinginnya suhu, memang sayang sekali jika mereka sudah jauh – jauh dari Jakarta akan tetapi tidak menilik ke kawah terbesar gunung yang memiliki bentuk seperti perahu terbalik ini.

Untuk mencapai kawah terbesar Gunung Tangkuban Perahu ini, Kawah Ratu, kami harus naik menggunakan angkutan khusus dari tempat wisata ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai Kawah Ratu dan benar seperti yang di duga sebelumnya, Kawah Ratu tertutup kabut sepenuhnya. Terlihat sedikit kekecewaan dimata anak – anak tersebut dan termasuk kami, sang Laskar. Melihat sedikit kekecewaan tersebut, Malik akhirnya memberi banyak penjelasan tentang Gunung Tangkuban Perahu dengan sedikit memberi gambaran di selembar kertas gambar ukuran A3.

Setelah penjelasan dari Malik selesai, kami berfoto bersama sebagai kenang – kenangan. Perjalanan pun berakhir pada pukul 15.00 dan rombongan pulang menuju tempat penginapan di daerah Cihampelas. Saat pulang, kami semua tertidur pulas di bis akibat kelelahan setelah melakukan perjalanan yang sangat menyenangkan hari ini. Semoga akan ada pengalaman – pengalaman berikutnya yag lebih mengasyikkan lagi yang bisa kami bagikan. Banyak hikmah yang bisa diambil dari perjalanan kali ini, salah satunya adalah alam itu bukan untuk dihindari akan tetapi alam butuh dimengerti. Ketika alam menginginkan hujan, kita tidak mampu untuk menghindarinya, akan tetapi kita harus mengerti bagaimana cara menyikapinya dengan baik.

 

Salam super dari kami, LASKAR ! hehe ^_^

 

Oleh
Lutfi Baiti (GEA’09)

Tiang-Tiang Bentukan Alam, Komparasi Irlandia dan Indonesia

Berdasarkan data dari Northern Ireland Tourism Facts 2007 didapatkan angka jumlah pengunjung dari lokasi wisata geologi Giant Causeway sebesar 712.714 pengunjung. Pengunjung yang datang kesini disajikan pemandangan sangat indah dari lava basalt yang mendingin membentuk kolom-kolom raksasa yang menghampar sangat indah untuk dipandang. Dari data yang sama juga didapatkan fakta bahwa Giant Causeway merupakan salah satu tujuan wisata terfavorit di Irlandia.

Dapat kita bayangkan dampak ekonomi yang didapat oleh warga sekitar dengan kehadiran ratusan ribu orang setiap tahunnya. Mereka bisa menjual pernak-pernik, menyediakan jasa pemandu wisata, layanan parkir, penginapan, dan lain-lain. Hal ini menjadi bukti bahwa pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar.

Keberadaan situs geologi yang luar biasa ini telah menarik minat masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal geologi dan kemudian mencari tahu kenapa bisa terbentuk bentukan yang seperti ini. Bentuk yang simetris membuat orang awam mungkin berpikir bahwa ini adalah hasil pahatan manusia zaman megalitikum. Namun jika kita menjelaskan secara geologi, maka kita akan memahami bahwa bentukan seperti ini merupakan bentuk alamiah dari magma ketika magma tersebut mendingin.

Kekar kolom terbentuk akibat respon tekanan akibat pendinginan lava (Mallet, 1875; Iddings, 1886, 1909; Spry, 1962). Lava merekah akibat pendinginan membentuk rekahan. Setelah rekahan terbentuk, rekahan tersebut berkembang. Perkembangan ini tegak lurus terhadap arah aliran. Bentuk segienam terbentuk diduga karena bentuk ini dianggap sebagai struktur paling stabil di alam, yaitu struktur yang mampu menahan beban lebih baik dari bentuk lainnya seperti yang dapat kita lihat pada struktur sarang lebah.

Publikasi yang wah dan fasilitas yang baik menunjang daerah Giant Causeway ini menjadi lokasi wisata andalan pemerintah Irlandia. Bahkan mungkin tak sedikit dari kita yang bercita-cita ingin pergi kesana melihat langsung panorama kekar kolom tersebut. Hal ini cukup baik untuk memancing rasa ingin tahu dan belajar. Namun kita tak perlu jauh-jauh untuk melihat fenomena ini. Di sebelah selatan Bandung, terdapat perbukitan intrusi Pliosen yang memiliki singkapan-singkapan indah, salah satunya adalah singkapan kekar kolom di dekat Gunung Lalakon.

Lokasi ini dapat kita capai dari arah Bandung menuju Cimahi dan kemudian diteruskan ke arah Nanjung menuju Stadion Si Jalak Harupat atau dari arah Soreang ke arah Cimahi. Di jalan ini kita akan menemui bukit-bukit andesit-dasit yang beberapa telah ditambang oleh warga. Salah satu bukit ini adalah Gunung Lalakon yang sempat heboh di media massa karena dipercaya oleh beberapa kalangan sebagai Piramida. Tepat di samping gunung Lalakon melihat dari arah SPBU Pertamina, singkapan kekar kolom ini kami lihat dan kami abadikan.

Dapat kita lihat kenampakan luar biasa dari kolom-kolom batuan beku yang terbentuk akibat intrusi dangkal magma pada sekitar 4 juta tahun yang lalu. Bentukan ini sangat menarik untuk diamati dan juga sangat cantik untuk menjadi objek foto. Jika kita bandingkan dengan Giant Causeway tentu sangat jauh berbeda, namun yang menjadi penting adalah bahwa lokasi ini sedang terancam bahaya. Di sekitar daerah ini merupakan daerah tambang aktif dengan tingkat produksi tinggi menelan bukit-bukit intrusi yang tentu menyimpan sangat banyak potensi. Penambangan ini berlangsung terus menerus dan kian menggerus bukit-bukit ini.

Selain dari potensi wisatanya, lokasi ini juga menjadi lokasi pembelajaran yang baik bagi para ahli geologi muda untuk mengenal sifat batuan beku. Maka dari itu saya menghimbau kepada kita semua untuk kembali peduli kepada alam dan tidak berbuat semaunya sendiri tanpa menghiraukan kepentingan lain, baik kepentingan manusia atau pun kepentingan alam.

Lokasi ini mungkin tak akan menjadi sehebat Giant Causeway atau lokasi-lokasi luar biasa lainnya di luar sana, namun apabila kita diamkan dan tak dipedulikan, maka lama kelamaan kita tak akan punya sama sekali warisan alam untuk kita pelajari dan manfaatkan. Oleh karena itu mari kita mengenal lingkungan sekitar kita, lokasi-lokasi menarik di sekitar kita sebelum mengunjungi tempat-tempat di luar negeri sana yang sudah jelas bagusnya. Karena akan menjadi sebuah peninggalan yang bermanfaat bagi generasi penerus kita nanti apabila kita mampu menjaga dan melestarikannya.

Salam Geologi

Muhammad Malik Arrahiem

HMTG “GEA” ITB

 

Secuil Cerita dari Gunung Guntur

Gunung Guntur (2249 mdpl) yang terletak di Garut, Jawa Barat merupakan sebuah puncak dari suatu kelompok gunungapi yang disebut dengan Komplek Gunung Guntur. Gunung ini merupakan gunungapi tipe A yang terakhir meletus pada tahun 1840. Karena erupsi terakhir ini relatif masih muda mengakibatkan tingkat erosi di gunung ini masih awal dan morfologinya masih halus belum tercabik erosi. Hasil erupsi terakhir ini mengakibatkan material Gunung Guntur ini relatif lepas-lepas. Hal ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menambang pasir di kaki Gunung Guntur.

Morfologinya yang menarik dan kemungkinan pemandangan di puncak yang indah karena ketiadaan vegetasi menarik minat kami untuk mendaki gunung ini. Gunung Guntur dapat dicapai dari Bandung dengan mudah, banyak angkutan umum yang melewati gunung ini. Kita bisa turun di jalan menuju CIpanas dan kemudian ikut menumpang truk penambang pasir Gunung Guntur sampai ke kaki gunung untuk memulai perjalanan. Perjalanan dimulai dari ketinggian 1000 mdpl hingga 2249 mdpl dengan trek cukup terjal.

Perjalanan dapat ditempuh dari Curug Citiis yang sesuai dengan namanya mengalirkan air yang dingin menyegarkan. Curug Citiis ini merupakan objek wisata yang sering dikunjungi warga Garut karena cukup indah dengan airterjun yang cukup tinggi. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan mendaki berbatu dan menyusuri punggungan dengan jurang yang dalam. Setelah melewati jalan yang berbatu kita masuk ke zona vegetasi renggang yang dicirikan oleh pepohonan yang cukup banyak namun renggang-renggang, disini relatif tidak terlalu terjal namun cukup berat hingga akhirnya kita akan masuk ke tekuk lereng awal dimana pendakian sangat terjal dan material yang kita injak adalah material lepas membuat kita kadang terperosok.

Perjalanan ke puncak sangat berat karena material lepas dan terjalnya punggungan, namun kita disuguhi pemandangan yang sangat indah yaitu padang rumput yang luar biasa. Pemandangan ini menjadi penyemangat untuk sampai di puncak. Sesampainya di puncak kita dapat melihat panorama Garut dan di sebelah selatan nampak Gunung Cikurai yang tinggi menjulang. Di puncak Gunung Guntur ini terdapat manifestasi panas bumi berupa tanah yang sangat panas dan beruap, juga suhu sekitar puncak yang relatif hangat membuat Gunung ini sangat nyaman untuk didaki.

Namun, pemandangan yang indah, manifestasi panas bumi, dan juga kesuburan tanah di sekitar Gunung Guntur ini juga bukan tanpa ancaman. Gunung Guntur masuk ke dalam gunungapi tipe A yang pernah meletus setelah tahun 1600. Menurut Ekspedisi Cincin Api Kompas, tahun 2011 ada sekitar 12 ribu keluarga tinggal di sekitar Gunung Guntur. Kesemua ini tentu berada dalam ancaman erupsi Gunung Guntur apabila kelak terjadi, padahal peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Guntur telah dibuat sejak 7 tahun yang lalu. Sangat diperlukan upaya memasyaratkan mitigasi di sekitar Gunung Guntur dengan berkaca pada erupsi Merapi dan kesiapsiagaan masyarakat sekitar Merapi untuk menghadapi bencana. Diperlukan juga kearifan lokal dari masyarakat Garut dalam memaknai hidup berdampingan dengan ancaman Gunung Guntur.

Oleh : Muhammad Malik Arrahiem (HMTG “GEA” ITB)