GEA di Bulan Juni

Pada tanggal 3 Juni 2015, Bidang Keprofesian mengadakan GEA Melapang. Kegiatan ini dilakukan di Citatah, Padalarang. Sasaran dari kegiatan ini adalah mengetahui tatanan geologi yg meliputi stratigrafi, struktur, geomorfologi, dan sejarah geologi dari daerah Citatah dan sekitarnya. Massa GEA yang ikut serta dalam kegiatan ini berjumlah 13 orang serta didampingi oleh Faisal (GL’11) sebagai pemateri.

GEA Melapang di Citatah, Padalarang

Diskusi dan Kajian Bersama GEA Jaka (GL’13) dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2015. Diskusi ini mengusung tema “Kontrak Mahakam dan Ketahanan Energi Indonesia Kedepannya”. Isu yang dibicarakan dalam diskusi ini adalah mengenai Blok Mahakam, yaitu blok migas Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Timur yang kontraknya dengan Total dan Inpex akan habis pada tahun 2017. Pertamina yang mendapatkan wewenang dari pemerintah untuk menjadi operator utama (PI 100%) pada tahun 2008 telah menyatakan sanggup mengelola Blok Mahakam. Pertamina diharapkan dapat mengetahui karakteristik reservoir Blok Mahakam agar jumlah produksi dalam masa transisi dapat terjaga hingga 2018 dan seterusnya. Selain itu, BUMD juga diharapkan dapat terlibat dalam pengelolaan Blok Mahakam. Diharapkan Blok Mahakam dapat menjadi pembelajaran dalam pengelolaan blok-blok migas lain yang juga akan segera berakhir kontraknya, karena diketahui dalam 10 tahun ke depan akan ada 32 blok migas yang kontraknya akan berakhir. Sudah saatnya Indonesia kembali berjaya dalam industri migas dan mencapai ketahanan energi!

GEA Explorer hadir lagi di bulan Juni ini! Tepatnya tanggal 8 Juni 2015, GEA Explorer melakukan perjalanan bertajuk “GEA Explorer: Situ Bandung, Brur?”. Kali ini perjalanan G-Ex tidak naik gunung seperti biasanya. Tujuan G-Ex kali ini adalah jalan-jalan simple namun tetap bisa melepas penat dengan melihat indahnya alam. Dalam perjalanan singkat ini, 12 orang GEA melakukan konvoi motor untuk berkunjung ke Situ Cileunca, yaitu sebuah danau buatan yang terletak di Pangalengan, Bandung Selatan. Perjalanan berlangsung dengan lancar, aman, dan seru tentunya!

GEA Explorer: Situ Bandung, Brur?

Pada tanggal 16 Juni 2015, tiga orang massa GEA, yaitu Rafi (GL’13) sebagai koordinator institut, Fachreza (GL’13), dan Clearesta (GL’13) mewakili HMTG “GEA” ITB menghadiri RAKERNAS PERHIMAGI 2015 dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Trisakti sebagai tuan rumahnya. Isi dari rakernas kali ini adalah pemaparan program kerja tiap regional oleh para koordinator regional, pembahasan PIT PERHIMAGI yang rencananya akan dilaksanakan di regional Jawa bagian timur (Yogyakarta), pembacaan surat rekomendasi dari IAGI dan DIKTI, pembahasan masalah internal dan eksternal PERHIMAGI, dan LPJ program kerja Pameran Geologi dari Badan Geologi.

Para peserta RAKERNAS PERHIMAGI 2015

Selamat datang para junior geologists, GEA 2012! Setelah melalui 34 hari melapang di Kampus LIPI Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah dalam rangka Kuliah Geologi Lapangan yang berlangsung dari tanggal 14 Mei 2015 , 87 orang GEA angkatan 2012 akhirnya kembali ke Bandung pada tanggal 17 Juni 2015. Semoga ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan di Karangsambung dapat terus melekat dan berguna dalam perjalanan mereka menjadi geologis sesungguhnya.

GEA 2012 di Karangsambung, Jawa Tengah

Tanggal 18 Juni 2015 merupakan hari pertama dari Bulan Suci Ramadhan 1436 H yang dirayakan oleh umat Islam dengan berpuasa selama sebulan penuh. HMTG “GEA” ITB mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat yang menjalankan.

image3Rangkaian acara GEA 6 Dekade belum berakhir! Pada tanggal 19 Juni 2015 dilaksanakan mata acara keempat dari GEA 6 Dekade, yaitu GEA Berbagi sebagai unjuk rasa syukur atas 60 tahun berdirinya HMTG “GEA” ITB. Dalam acara GEA Berbagi ini, massa GEA berbuka puasa dengan anak-anak dan anak yatim di daerah sekitar bawah Jembatan Pasupati. Acara diawali dengan menjemput anak-anak ke lokasi yang dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua GEA 6 Dekade, Selvia Novianti (GL’13). Sambil menunggu adzan Maghrib, massa GEA berkenalan, mengobrol, dan bermain dengan anak-anak. Acara diakhiri dengan salat Maghrib dan berbuka puasa bersama.

GEA 6 Dekade: GEA Berbagi

GEA di Bulan April

Foto dulu sebelum mendaki Ciremai

G-Ex kembali lagi! Tanggal 3-5 Mei 2015, tujuh Brur (Rizki, Revaz, Naufal, Ongga, Tito, Nanda, dan Randy) dan 5 Bruri (Selvia, Sarah, Febby, Reni, dan Cindytami) mendaki ke gunung tertinggi di Jawa Barat, yaitu ke Gunung Ciremai dengan ketinggian 3078 mdpl. Perjalanan ini dilakasanakan di tengah penatnya UTS dan praktikum yang melanda massa GEA. Alhamdulillah acara GEA Explorer ini berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan yang berarti.

IMPK

Pemenang Kontes Foto pada saat IMPK

IMPK (Ilmu Medan, Peta, dan Kompas) 2015 dilaksanakan pada tanggal 11 April 2015. IMPK dilakasanakan di wilayah Citatah, Padalarang. Acara ini dilaksanakan untuk membantu massa GEA memahami ilmu medan dan orientasi wilayah dengan peta dan kompas agar tidak chaos saat melapang. Sebelum terjun langsung ke lapangan, massa GEA mendapat pembekalan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 10 April 2015.

Poster Sosialisasi Geohumanisme dengan himpunan lain

Poster Sosialisasi Geohumanisme dengan himpunan lain

Pada tanggal 13 April 2015 bertempat di Ruang Hilmi Panigoro, sosialisasi kegiatan geohumanisme dengan beberapa himpunan seperti HMTL ITB, HIMA BIO “NYMPHEA” ITB, HIMA Mikro “ARCHEA” ITB, HMK “AMISCA” ITB, dan HIMAREKTA “AGRAPANA” ITB dilaksanakan. Dalam sosialisasi ini dibahas tentang kegiatan Geohumanisme yang akan dilaksanakan pada tahun 2015 seperti tujuan diadakannya kegiatan, waktu dan tempat kegiatan, serta rangkaian acara geohumanisme.

Paskah GEA

Acara Paskah GEA

 Kamis, 16 April 2015, Paskah GEA dilakasanakan untuk memeperingati Hari Kematian Yesus Kristus yang tahun ini jatuh pada tanggal 3 April 2015. Acara ini diselenggarakan di Ruang Hilmi Panigoro dengan tema Kekudusan dan Kasih Persaudaraan.

1432444775759

Gea Cooking Club April

GCC (GEA Cooking Club) bulan April dilaksanakan pada hari Jumat, 17 April 2015. GEA Cooking Club ini diselenggarakan di lapangan parkir Laboratorium Kimia Dasar. Terlihat para cowok GEA sedang menyiapkan bahan untuk keperluan memasak.

Rangkaian Acara DIES Natalis GEA 6 Dekade sudah dimulai di bulan April pada tanggal 29-30 April seperti Home Tournament (HT) yang berisi berbagai macam perlombaan seperti Rangking 1 GEA yang dimenangkan oleh Imron (GL’12), FIFA Competition yang diadakan untuk massa GEA yang menyukai FIFA yang dimenangkan oleh Yongki (GL’12) dan Ayub (GL’13), Fun Soccer sebagai fasilitas untuk cowok GEA yang menyukai sepak bola yang dimenangkan oleh Tim Faishal (GL’13), dan Tarik Tambang yang mengeratkan hubungan internal antara massa GEA yang dimenangkan oleh Tim Prima (GL’13). Selain itu, dilaksanakan pula Master Chef GEA, lomba masak dengan bahan utama kornet yang dimenangkan oleh Tim Dea (GL’13) dengan Chef jagonya Farras (GL’12) yang mengubah kornet menjadi masakan yang mantap untuk disantap.

HT

Hasil Home Tournament

Catatan Perjalanan GX ke Gn. Ciremai

by: Selvia Novianty (Ketua GX)

UTS, Tugas besar, Praktikum Geostruk, Praktikum Getek…….

Penat berkepanjangan kali brur GEA di bulan Maret kemarin. Mengingat akan hal tersebut, dan keinginan beberapa massa GEA Mencetuskan untuk mendaki Gunung Ciremai sebagai pelampiasan penat kami. Get a life lah bruuurr!

explore

Setelah beberapa hari mengumpulkan pasukan, akhirnya terkumpulah 7 brur dan 5 bruri, pasukan anti wacana beranggotakan 12 orang: Epi, Randy, Cindy, M. Rizky, Febby, Sarah, Nanda, Revaz, Naufal, Ongga, Tito, dan Reni. Sebenernya ada 3 jalur untuk mencapai puncak: Palutungan, Apuy, Linggarjati. Untuk pendakian kali ini kami memilih Jalur Apuy

Jumat, 3 April 2015

[Bandung – Pos 1 Bumi Perkemahan Berod]

Pagi itu kami sepakat untuk kumpul di himpunan jam 11, lalu belanja persediaan sedikit sampai 2.45 baru pergi.

persiapan

Persiapan dari kampus

Kami ber-12 menuju lapangan Sipil karena mau naik angkot ke poolnya Elf yang menuju Cikijing, disana menunggu Cindytami yang telat (ehem) juga sampai, akhirnya kami menyarter angkot ke Pagarsih dengan biaya Rp.5000,00 per orangnya.

persiapan2

Jalan dari kampus

Angkot2

Ini di angkot padet juga Brur

Perjalanan dari sipil ke Pagarsih memakan waktu 20 menit, diturunkanlah kami ke poolnya. Terjadi sedikit miskom antara supir angkot dan tempat dimana kami diturunkan. Ternyata ada 2 pool elf, sebenernya kami harus naik elf dengan pool rukun wargi tapi kami diturunkan di poolnya buhe jaya, alhasil kami menunggu hampir 2 jam untuk naik elf ke Cikijing.

Perjalanan

Menunggu hujan reda

Perjalanan2

Yap, jam 5.26 akhirnya kami semua berangkat, dengan carrier basah kehujanan. Tujuan kami kali ini rute elf Bandung-Cikijing dari Jalan Pagarsih menuju Terminal Maja di Kab. Majalengka. Harganya Rp35.000 saja brur, tapi harusnya lebih murah, karena kita pake carrier dan cem anak kuliahan gitu jadi dimahalin, padahal bisa saja hanya Rp30.000.

Setelah melewati jalanan yang harusnya padat oleh kendaraan karena long weekend tapi ternyata kosong sampe elf bisa ngebut, akhirnya kami sampai di terminal Maja, sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka pukul 20.30. Disana kami langsung ditawari pick up dengan harga cukup mahal, dan akhirnya setelah ditawar kami merogoh kocek Rp 20.000,00 untuk sampe Pos 1.

Pickup2

Di atas pick-up

Karena pick upnya selip, kami diturunkan kira-kira 500 meter sebelum bumi Perkemahan Berod, akhirnya kami pun jalan. Waktu menunjukkan pukul 22.01 pada saat itu.

Pickup3

Malam nan dingin menyambut kami di perkemahan Berod, kami langsung mencari space yang agak luas untuk membuat tenda. Setelah itu kami mengurusi perizinan untuk retribusi dan asuransi sebesar Rp 33.000,00 tidak ada sesuatu yang perlu disiapkan lebih dulu, kita tinggal mengisi simaksi dan buku tamu yang sudah disediakan di sana dan simaksinya tidak boleh hilang untuk laporan kalau sudah turun nanti. Dan disini kita janjian dengan Ghalih GEA’11 sang warlok yang dengan baik hati meminjamkan kami tenda. Sayangnya tidak sempet foto-foto sama Ghalih.

Di buper berod fasilitasnya sudah cukup lengkap, ada mushola, toilet, sekitar 4 – 5 warung yang menjual mulai nasi ayam, indomie, kopi, minuman minuman dan segala kebutuhan perut.

Lalu kami mendirikan tenda, dibantu ghalih juga, dan memasak masakan ala italia pada saat itu :)

Masak

Setelah makan kami memutuskan untuk tidur, mengingat bahwa besok kami perlu tenaga untuk mendaki, dan waktu juga sudah sangat malam, pada saat itu waktu menunjukan pukul 01.00 pagi.

 

Sabtu, 4 April 2015

[Buper Berod – Blok Arban – Tegal Wasawa – Tegal Jamuju – Sanghyang Rangkah]

Masakpagi

Pendakian dimulai sekitar jam 08.15 menuju pos – pos berikutnya. Target kita hari ini adalah camp di pos 5, karena pos 6 terlalu jauh untuk dijangkau dalam 1 hari.

 

Pemanasan

Sebelum dimulai, kami melakukan pemanasan dulu

 

Setelah pemanasan, akhirnya kami berang berang keselek sikat.

persiapanmendaki

Dari Pos 1Berod menuju Pos 2 Arban jalanan masih tergolong datar, kita hanya jalan sekitar 30 menit untuk sampai pos 2.

pendakian

Pos 2

Pos 2

Setelah pos 2, kita akan mulai memasuki hutan tropis selayaknya gunung – gunung di pulau jawa. Dari pos 2 ke pos 3 ini jaraknya cukup jauh dan jalanan mulai menanjak. Diantara pos 2 dan 3 juga terdapat pos bayangan, mungkin karena jaraknya terlalu jauh. Dari pos 3 sudah mulai turun kabut.

pos4-5

Diantara pos 4 dan pos 5 kami seringkali kesusahan karena ada jalur yang amat licin dan susah untuk dipanjat. Kita harus merangkak bak laba – laba biar selamat, alhasil dikit – dikit maju kita mundur beberapa langkah -___-.

Dengan badan sedikit gemetaran karena dingin, saya dan teman – teman membuat tenda.  Sampai akhirnya hujan berhenti dan matahari muncul sedikit menghangatkan badan kami.

Tersangka jalur perosotan

Tersangka jalur “perosotan”

Malam kami habiskan waktu untuk makan lalu membereskan barang – barang dalam tenda agar posisi tidur kami nyaman dan enak buat istirahat karena kita akan berangkat besok jam 3 pagi untuk summit attack!

Minggu, 5 April 2014

[Sanghyang Rangkah – Goa Walet – Puncak Ciremai! – Pulang]

Rintikan air yang membasahi tenda kami, suara tiupan angin yang menembus pepohonan, hitam malam berubah menjadi biru tanda fajar sudah tiba. Kami semua terbangun dari mimpi dan bergegas menuju mushola untuk subuh. Dinginnya air membuat nyawa kami kembali seutuhnya dari alam mimpi. Dan kami siap menjalani pendakian hari ini

Udara dingin diluar membuat kami agak enggan untuk keluar tenda. Kami mempersiapkan bekal ke atas sambil mengunyah roti dan snack sisa semalam untuk sedikit tambahan energi di pagi hari. Kami berangkat dari pos 5 jam 03.30 dan memulai pendakian super menanjak menuju goa walet dan puncak. Summit attack ini kami jalani dengan santai karena banyak dari kami mulai kelelahan. Trek dari pos 5 sampe puncak sudah bukan hutan lagi, melainkan hanya semak belukar saja dan di sepanjang perjalanan pasti akan tercium bau belerang. Sayangnya, sunrise tidak kami dapatkan waktu di puncak, cahaya oranye terlihat di timur saat kami sudah berada di dekat persimpangan apuy-palutungan dan tertutup mendung. Cindy, naufal dan saya mengambil air di goa walet untuk persediaan di puncak. Jalanan berbatu mendominasi jalur dari goa walet sampai ke puncak.

Dan akhirnya kaki ini menapakkan dirinya di tanah tertinggi jawa barat sekitar jam 06.00!

Tiupan angin dengan bau belerangnya menyambar muka, pandangan langsung mengarah ke matahari yang baru saja bersinar pagi ini. Kawah yang masih diselimuti kabut terlihat bak sebuah mangkuk raksasa berisi asap. Gumpalan awan berlarian mengejar cahaya matahari, dan di belakang, tanah jawa barat terbentang luas. Saya melihat kembali samudera awan di sebelah kanan, dan di bibir kawah ini rasanya ingin berdiam diri sejenak hanya untuk menikmati rasa dari tanah tertinggi jawa barat ini, 3078 meter diatas permukaan laut walaupun tertutup cuaca mendung.

Puncak Puncak2 Puncak3 Puncak4

Setelah cukup lama kita foto – foto sambil menikmati keindahan puncak, akhirnya kami turun kembali menuju pos 5 dari jam 08.30 dan sampai di pos 5 pada pukul 08.15, lalu kami siap siap pulang dan akhirnya pada jam 11 kami langsung turun menuju buper berod.

Perjalanan turun sampai pos ke pos masih biasa saja karena turun jadi lumayan cepat. Semua jalur kembali menjadi licin dan kebanyakan dari kami terpaksa harus menyerodotkan badannya setiap menemukan turunan terjal dan hampir semua turunan disini terjal.. Akhirnya kami sampai di buper berod dengan keadaan kembali lusuh penuh lumpur dan tidak keren, dan sebagian dari kami langsung mandi, jam menunjukan pukul 13.24.

Dari buper berod kami menunggu pick up yang akan membawa kami menuju terminal maja sambil membeli mie di warung, dan mengembalikan tenda ghalih, akhinya kami turun di terminal maja.

Di terminal maja ini ada sedikit gangguan karena pada saat itu hari minggu, elf relatif penuh dan akhirnya kami terpaksa menaiki elf ke kadipaten dengan biaya Rp10.000 dan di Kadipaten kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki elf yang kami tawar hanya sampai Rp30.000 padahalnya bisa Rp25.000 namun karena kami terlihat “mahasiswa” jadi dimahalkan, akhirnya kami pulang dan perjalanan macet di Cadas Pangeran, Sarah turun duluan di Tanjungsari Sumedang. Sisanya langsung menuju Bandung, kebanyakan dari kami tertidur. Pada pukul 22.02 kami tiba di Terimnal Caheum, berkenalan dengan mahasiswa dari politeknik manufaktur, kami berpisah rombongan dan langsung menaiki angkot carteran dengan harga Rp4.000.00 untuk sampai di pintu SR.

Dan begitulah berjalanan asik kami,

sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

 

Beberapa Informasi Penting Pendakian Ciremai via Apuy

Gunung Ciremai terletak di tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kab. Cirebon, Kab. Majalengka, dan Kab. Kuningan. Memiliki ketinggian 3.078 mdpl merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Ciremai memiliki 3 jalur resmi yaitu Jalur Apuy yang terletak di Majalengka, Jalur Palutungan, dan Jalur Linggarjati yang terletak di Kuningan. Kini Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai.

A. Transportasi dari Bandung

Keberangkatan
Sipil-Pagarsih

Pagarsih – Term. MajaAngkot

Elf Bandung – CikijingRp5.000,00/orang

Rp 35.000,00/orangTerm. Maja – Pos 1 Buper BerodPick UpRp 20.000,00/orangKepulanganPos 1 Buper Berod – Term. Maja

Term. Maja KadipatenPick Up

Elf Maja-KadipatenRp 20.000,00/orang

Rp10.000.00/orangKadipaten – Term. Leuwi Panjang

AngkotElf Cikijing – Term. Caheum

Term. Caheum-SRRp 30.000,00/orang

Rp4.000,00/orang

B. Perizinan

Perizinan bisa dilakukan di Desa Apuy atau di Pos 1 Berod, biaya perizinan Rp 33.000,00 sudah termasuk retribusi dan asuransi . tidak perlu membawa persyaratan apapun, tinggal mengisi buku tamu dan simaksi yang sudah disediakan.

C. Lama Pendakian

DurasiLokasi
30 menitPos 1 Buper Berod – Pos 2 Blok Arban
2 jamPos 2 Blok Arban – Pos 3 Tegal Wasawa
1,5 JamPos 3 Tegal Wasawa – Pos 4 Tegal Jamuju
1 jamPos 4 Tegal Jamuju – Pos 5 Sanghyang Rangkah
1 jamPos 5 Sanghyang Rangkah – Pos 6 Goa Walet
45 menitPos 6 Goa Walet – Puncak Ciremai

Ijen, Sunrise of Java

Oleh Alfan El-Farissi  (12010109)

Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di wilayah paling ujung timur Pulau Jawa dan menjadi kabupaten di Pulau Jawa yang paling luas wilayahnya, masyarakat Indonesia mungkin lebih mengenal Ketapang yang merupakan pelabuhan penghubung Pulau Jawa dengan Pulau Bali dibandingkan Kabupaten Banyuwangi sendiri. Padahal, di wilayah yang dikenal sebagai wilayah tapal kuda ini terdapat salah satu objek wisata geologi yang mempesona, yaitu Kawah Ijen. Kawah Ijen termasuk diantara diamond triangle yang diunggulkan pemerintah sebagai potensi wisata andalan, dua yang lainnya adalah G-Land atau Pantai Plengkung dan Taman Nasional Meru Betiri.

 Kawah ijen terbentuk akibat letusan Gunung Api besar selama tiga periode yang diperkirakan mulai berlangsung sejak 3500 tahun yang lalu, letusan ini menciptakan lubang besar dengan ukuran 19 x 21 km2 di dasar dan 22 x 25 km2 di bagian atasnya yang kemudian dikenal dengan Kaldera Ijen.  di tengah kaldera terbentuk sebuah danau yang merupakan pusat aktivitas vulkanik dengan ukuran 160 x 1160 m2 dan 960 x 600 m2 di bagian bawahnya.

Aktivitas vulkanik yang membentuk gunung api besar (old ijen) dengan ketinggian diperkirakan mencapai 3500 meter terjadi sekitar 300.000 tahun yang lalu. Endapan lava dan piroklastik sebagai hasil dari aktivitas gunung api ini ditemukan secara tidak selaras berada di atas batu gamping miosen.  Di sebelah utara pegunungan ini banyak ditemukan endapan piroklastik aliran dengan ketebalan 100 – 150 m, berdasarkan dating K-Ar, endapan ini berumur sekitar 50.000 tahun yang lalu yang diperkirakan sebagai satuan tertua yang terbentuk sebelum terbentuknya kaldera di kawasan ini. Setelah letusan besar yang memecah belah gunung api besar ini menjadi Gunung Raung dan Pegunungan Ijen, kaldera mulai terbentuk di wilayah Pegunungan Ijen. Aktivitas vulkanik dari gunung api “baru” ini membentuk endapan scoria, aliran lava, endapan pyroclastic flow dan surge, serta material debris avalanche yang terdapat di sekeliling kaldera. Lava yang dihasilkan dari wilayah ini mempunyai variasi kandungan SiO­2 mulai dari basalt sampai dasit. Fenokris yang umum dijumpai pada batuan beku yang ditemukan adalah plagioklas, orthopiroksen, klinopiroksen, dan oksida besi, sementara olivine dapat ditemukan di batuan beku mafik dari masa post-caldera, dan biotit hanya ditemukan di kubah lava Glaman.

Gunung Ijen sendiri termasuk salah satu gunung api aktif, namun bukan aktivitas gunung api ini yang menjadi sumber masalah bagi warga sekitar. Air dari danau Kawah Ijen mempunyai tingkat keasaman (pH) mulai dari tak terhingga sampai 0.8 dan ditengarai merupakan yang paling asam di dunia. Air kawah ini akan menerobos melalui rekahan – rekahan di sekelilingnya untuk mengalir menuju sungai yang berada di sekitar wilayah ini, yang kemudian mengalir menuju ke pemukiman penduduk, yang nantinya akan dimanfaat penduduk untuk kegiatan sehari – hari. Akibatnya terjadi pencemaran lingkungan yang mengakibatkan kulit gatal, korosif pada gigi, tanaman rusak, dan sifat korosif pada komponen pabrik.

Gunung api Ijen tidak hanya membawa dampak negatif bagi warga sekitarnya, tapi juga member manfaat bagi warga sekitar. Gunung Ijen merupakan penghasil belerang murni terbesar di Indonesia. Sedikitnya, 14 ton per hari dapat ditambang oleh para penambang tradisional, sementara secara cadangan jumlah belerang yang ditambang hanya 20 persen dari total yang disediakan oleh alam, hal ini dikarenakan medan yang sulit serta teknologi yang digunakan masih sangat sederhana. Penambang Ijen disini hanya memanfaatkan sifat fisik dari suatu benda yang dapat mencair dan membeku. Solfatara yang keluar dari dalam perut kawah ijen dialirkan ke pipa pipa untuk diubah menjadi cairan yang kemudian dialirkan ke suatu tempat, sehingga cairan yang mengandung banyak belerang murni ini akan langsung membeku menjadi endapan belerang yang siap dipanen oleh para penambang tradisional.

Setiap harinya, dimana pada dini hari akan muncul api biru di dinding – dinding tempat penambangan yang konon hanya ada dua di dunia, satu di ijen dan satu lagi berada di Islandia. Api biru ini bisa dinikmati pada saat dini hari, sekitar pukul 01.00 sampai 04.00. Pendaki biasanya mulai naik dari pos paltuding dari jam 23.00 menempuh perjalanan sejauh 3 km dengan kemiringan lereng rata – rata yang mencapai 45o, setelah menikmati api biru, pendaki akan langsung menunggu matahari terbit dari tepi kawah.