Berita Duka: Kepergian Prof. Sukendar Asikin

ITB Berduka, Geologi ITB Berduka…
 

 Jumat, 15 Maret 2013, dunia geologi Indonesia berduka, khususnya civitas akademika ITB, termasuk HMTG ‘GEA’ ITB. Kepergian tokoh geologi Indonesia Bapak Profesor Sukendar Asikin membuat duka yang mendalam bagi segenap civitas akademika ITB. Prof. Sukendar Asikin menghembuskan napas terakhirnya pada hari Kamis, 14 Maret 2013 pukul 20.25 di Bandung.

rip-pak kendar-1

Seusai Shalat Jum’at di Masjid Salman , diadakan Shalat Jenazah atas perginya Bapak Prof. Dr. Sukendar Asikin. Setelah dishalatkan, jenazah beliau disemayamkan sementara di Aula Barat ITB dan diadakan prosesi pemberian penghormatan terakhir meliputi penyampaian pidato penghormatan oleh Prof.Dr. Emmy Suparka dan pidato pelepasan oleh Rektor ITB Prof. Dr. Akhmaloka. Tampak cukup banyak anggota HMTG ‘GEA’ yang hadir di prosesi penghormatan ini hingga mendapatkan ucapan terima kasih oleh keluarga Almarhum yang ditinggalkan. Seusai prosesi pelepasan, jenazah dimakamkan di Pemakaman ITB Cibarunai, Sarijadi, Bandung. Dalam mobilisasinya, beberapa anggota GEA terlihat turut membantu mengangkut jenazah ke ambulans. Di pemakaman pun tak lupa GEA berdoa bersama-sama atas segala amal ibadah beliau agar diterima di sisi-Nya.

rip-pak kendar-3

Suasana duka selimuti Aula Barat, 15 Maret lalu

rip-pak kendar-4

 

Rektor ITB, Prof. Akhmaloka, saat menyampaikan pidato pelepasan Alm. Prof. Sukendar Asikin

 

rip-pak kendar-2

 

Prof. Emmy Suparka saat menyampaikan pidato penghormatan

 

Bapak Tektonik Lempeng Indonesia, begitulah julukan kepada Bapak Prof. Dr. Sukendar Asikin. Profesor yang lahir di Bojonegoro pada tanggal 23 September 1932 ini lulus sebagai Sarjana Muda Geologi tahun 1956 dan Sarjana Geologi tahun 1958 dari Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, di Bandung. Beliau melanjutkan studi pascasarjana-nya dalam bidang geofisika terapan, geologi struktur, dan teknik pemetaan di Universitas Indiana, Bloomington, Indiana, Amerika  hingga 1959. Pada tahun 1972, beliau mendapatkan gelar Doktor dari Institut Teknologi Bandung di bidang geologi. Beliau sangat berperan pada penemuan lokasi Karangsambung dan pengembangan kuliah lapangan geologi di daerah tersebut. Hal itu dibuktikan dengan adanya laboratorium alam di Karangsambung yang hingga kini masih digunakan oleh ITB, Universitas Trisakti, dan UPN “Veteran” Yogyakarta. Cintanya terhadap Karangsambung seakan tak pernah luntur, seperti dikutip dari pernyataan Bapak Benyamin Sappie saat ditemui di Pemakaman Cibarunai, “Di usia senjanya, salah satu permintaan Almarhum adalah mengunjungi Karangsambung..” ujar dosen  yang juga pernah diajar oleh Almarhum Prof. Sukendar Asikin ini.

rip-pak kendar-5

Pak Benyamin Sapiie saat menyampaikan kata-kata perpisahan atas kepergian Prof. Sukendar Asikin di Cibarunai, Bandung

 Selamat jalan, Profesor Sukandar Asikin. Kami terus mendoakan semoga Allah SWT. menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya, dan juga agar ilmu yang telah kau rintis dan kembangkan selama ini dapat kami teruskan dan senantiasa bermanfaat untuk keilmuan geologi di Indonesia. Aamiin.

Profil: Pak Samakun, Sang Penjaga Malam Gedung Prodi Teknik Geologi ITB

“Pak Samakun……” Siapa tak kenal Pak Samakun? Apalagi untuk mahasiswa yang sering main-main ke gedung Prodi Geologi. Ya, beliaulah Pak Samakun, penjaga malam gedung Prodi Geologi.

DSC01638

Dengar-dengar, Bapak atau lebih tepatnya Kakek berusia 73 tahun ini sudah mulai bekerja di ITB sejak tahun 1966 sebagai penjaga juga. Tapi dulu Pak Samakun bekerja di shift siang mulai dari jam 2 siang s.d. jam 7 malam. Sampai pada akhirnya, sekitar tahun 1997 Pak Samakun pensiun dan ditawari untuk tetap bekerja di Gedung Geologi sebagai penjaga malam. Karena pekerjaannya inilah beliau jadi sering nginap di prodi. Waktu ditanya soal pandangan keluarga beliau, Pak Samakun cuma jawab, “Kan, saya sudah tua ini, jadi walaupun sering nggak pulang. Yah, udah biasa aja. Keluarga nggak keberatan”.

Kalau dihitung-hitung, berarti si Bapak sudah 47 tahun kerja di gedung prodi. Waktu yang tidak sebentar. Pak Samakun menuturkan dulu beliau sebenarnya sulit saat harus memutuskan bekerja sebagai penjaga malam di ITB. Kenapa? Alasannya simpelnya karena dulu gaji yang tidak seberapa, namun karena nggak ada pilihan lain, Bapak tetap ngambil kerjaan ini. Waktu ditanya soal gajinya sekarang, Pak Samakun sambil senyum-senyum bilang, “Sekarang gajinya udah cukup lah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, nggak kaya’ dulu. Yah, pokoknya sekarang lebih baik lah”.

Walaupun awalnya berat hati bekerja di ITB, nyatanya Pak Samakun betah jadi penjaga malam di Gedung Geologi sampai 47 tahun. Sekarang Pak Samakun malah senang kerja di Gedung Prodi setelah sekian lama. “Senang, tapi awalnya terpaksa kerja disini. Tapi lama-lama suka juga. Dibawa senang aja, positif. Jadi sekarang kalau malas di rumah ya datang kesini. Kalau sudah nyampe disini jadi males pulang. Hehehehe…” kata beliau.

Karena sudah sekian lama kerja di gedung prodi, Pak Samakun jadi mengenal banyak  orang. Pak Samakun ini kenal 90% dosen geologi, tambang, dan minyak. Belum lagi ribuan sarjana lulusan ITB dari prodi-prodi tersebut. Sampai-sampai nih ya, Pak Chalid bilang kalau Pak Samakun ini Bapaknya Mahasiswa.

“Kalau ditanya suka duka sih, sebenarnya nggak terlalu…. Yaah, biasa-biasa aja. Kalau dibilang senang, ya senengnya apa? Kalau dibilang duka, lha kerjanya cuma gini-gini aja. Cuma sekarang jarang mahasiswa yang mengajak ngobrol. Banyak yang nyapa, tapi Bapak nggak tau namanya. Kalau anak GEA Bapak banyak yang tau. Anak GEA dulu tuh kalau susah lulus malah bangga, kalau lulusnya cepat malah diomongin. Usil emang anak GEA dulu. Tapi sekarang udah beda, udah pada serius kuliah.”

Pak Samakun dengan senyum ramahnya dan kesabarannya nunggu anak-anak GEA beres rapat untuk mengunci pintu Selasar TU Prodi. Pak Samakun yang jadi penjaga di kala mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir sibuk berkutat dengan sayatan batuan, analisis fosil dan sebagainya. Pak Samakun yang masih segar bugar walaupun umurnya yang udah menginjak kepala tujuh. Pak Samakun dengan dedikasinya terhadap pekerjaannya. Dan Pak Samakun dengan positive thinking-nya. Dan Pak Samakun yang dengan suka rela  ketika diajak ngobrol.  PAK SAMAKUN, YOU ROCK, Pak…..!

Oleh:

Lucy Kartikasari (12011078) dan Adelia Kusuma Ayu (12011002)

Hingar Bingar MUSANG di Closing Olimpiade KM ITB 2013

MUSANG-OLIM

Bandung – (11/2).  Musang kembali menggebrak massa kampus, kali ini lewat gelaran closing olimpiade KM ITB 2013. Olimpiade ke-7 KM ITB ini ditutup pada 9 Februari 2013 lalu. Musang, setelah melalui proses audisi dan bersaing dengan band-band lain sekampus ITB, berhasil lolos sebagai salah satu penampil di penutupan perlehatan pesta olahraga akbar dua tahunan se-KM ITB ini.

Musang didaulat menjadi performers pembuka di closing olim tahun ini. Seperti biasa, lagu Sang Geologist menjadi lagu andalan  pembuka di setiap aksi Musang. Adri CS berhasil memukau seantero lapangan CC Barat malam itu. Hentakan drum Yogi, cabikan gitar Kobay dan Aul, betotan bass Raihan dan vokal gahar Adri, Benny dan Tabs menyihir GEA dan massa kampus lainnya untuk ikut moshing di depan panggung.

Mereka juga sempat membawakan tembang Sarijem. Lagu berlirik nakal ini dengan sangat manis berhasil dibawakan oleh Musang. Walau gerimis turun tak menyurutkan animo massa kampus untuk lanjut menyaksikan Musang GEA.

IMG_0258

Musang menutup performanya malam itu dengan lagu Pantun yang kali ini dibawakan secara khas, menjadikan aksi Musang ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Penasaran? Simak rekaman videonya berikut.

Kiprah GEA di Olimpiade KM ITB 2013

bannerBandung – (9/2). Olimpiade 2013 merupakan olimpiade ketujuh yang diselenggarakan oleh KM ITB. Setelah dibuka sejak 22 November 2012 lalu, berbagai pertandingan telah digelar dan menghasilkan juara-juara di berbagai cabang olahraga.

Dari 44 nomor cabang yang dipertandingkan, GEA berhasil merebut 5 medali. Satu buah emas disumbangkan oleh Denis (GEA’09) di cabang Renang Gaya Punggung 100 m Putra, sedangkan Rudi Saputra (GEA’10) berhasil meraih perak melalui cabang Billiard 9-Ball. Tak hanya itu, cabang Renang Gaya Kupu 50m putra, Bulutangkis Tunggal Putra dan Futsal Putra juga turut menyumbangkan medali perunggu untuk GEA.

“Alhamdulillah, setelah puasa gelar sekian lama akhirnya GFC berhasil juara juga” tutur Kibeng (GEA’09) seusai pertandingan perebutan juara 3 futsal putra pada 1 Februari lalu.

futsal Setelah puasa gelar beberapa waktu, GFC berhasil menyabet perunggu di Olimpiade VII KM ITB 2013

Yang tak kalah seru adalah cabang voli putri. Tim Voli Putri GEA nyaris mendapat perunggu, namun sayang nasib baik sedang tidak berpihak kepada kita. GEAwati-GEAwati ditaklukan oleh HMS di pertandingan perebutan juara 3 pada 5 Februari kemarin di Aula Kosambi.

voliGEAwati-GEAwati yang tetap semangat walau kandas di perebutan tempat ketiga cabang Voli Putri

Rangkaian Olimpiade 7 KM ITB ditutup pada 9 Februari 2013. Bertempat di lapangan CC Barat ITB, suasana gegap gempita masa kampus mewarnai kampus malam itu. Musik Santai GEA alias MUSANG turut meramaikan closing hajatan olahraga dua-tahunan KM ITB ini. Selain MUSANG tampil juga Stereotitude, OSD HMT, Three Wishes, Pharrmacoustic, Infinity dan Capoeira ITB di Closing Olimpiade.

Dengan perolehan 1 emas, 1 perak dan 3 perunggu berhasil menempatkan GEA di urutan 15 klasemen Olimpiade 7 KM ITB. Hasil ini selain patut kita syukuri juga sebagai refleksi bagi kita untuk meningkatkan prestasi, tak hanya dalam kompetisi olahraga namun juga kompetisi keprofesian dan sebagainya. Terimakasih atlet-atlet dan supporter GEA atas kontribusinya, tetap semangat dan jangan pernah berhenti berjuang untuk GEA yang lebih baik! 1.. 2.. 3.. GEA!

klasemen-olim

Rencana Pembangunan dan Pengembangan ITB

ITB akan tepat berumur 100 tahun di tahun 2020 atau sekitar 8 tahun lagi. Selama keberjalanannya, terjadi perkembangan bidang ilmu dan juga peningkatan jumlah tenaga ahli/lulusan yang diperlukan. Kapasitas kampus ITB jalan Ganesa terbatas hanya mampu menampung sekitar 15.000 mahasiswa. Sedangkan tahun 2010, jumlah mahasiswa telah mencapai sekitar 20.000 mahasiswa dan pada tahun 2025 diproyeksikan akan menjadi sekitar 30.000 mahasiswa.

ITB juga dihadapkan pada kendala lain seperti aksesibilitas, akomodasi lahan parker, batas ketinggian bangunan, gedung-gedung heritage di ITB, dan juga masalah pendanaan . Hal-hal tersebut menjadi landasan akan pentingnya pembangunan dan pengembangan ITB.

Konsep yang digunakan adalah konsep multikampus. Konsep multikampus ini memiliki makna satu institusi dan satu pengelolaan, namun dalam multi lokasi dan juga adanya multi kegiatan.

Kampus utama adalah Kampus Ganesa yang merupakan pusat aktivitas kerjasama dan networking baik nasional maupun internasional. Kampus ini juga merupakan lokasi model kultural dan tradisi mahasiswa tumbuh sejalan dengan tujuan ITB. Kampus Ganesa juga sebagai prioritas pusat pendidikan dan riset sebagai asset utama bagi civitas akademika ITB, dan kampus ini juga sebagai pusat dari elemen utama untuk mendukung ITB dalam rangka World Class University.

Sedangkan kampus di luar Ganesha adalah lokasi-lokasi strategis untuk menguatkan infrastruktur ITB masa depan. Juga lokasi ini adalah sarana ITB untuk mengekstensifikasi ilmu, pusat penguatan komunitas, lokasi inkubasi bisnis dan teknologi massa depan. Kampus luar ganesha juga dimanfaatkan sebagai lokasi pusat aktivitas kerjasama dengan masyarakat, komunitas, dan industry. Dan terakhir adalah untuk menjamin efektivitas dan efisiensi publikasi produk ITB kepada publik.

Untuk mewujudkan mimpi ini, maka ITB melakukan beberapa strategi. Yang pertama adalah memaksimalkan kampus Ganesa. Strategi kedua adalah Kampus Jatinangor, kemudian Kampus Bekasi, Kampus Walini, dan ITB Malaysia.

Untuk saat ini yang sudah masuk ke dalam tahap pengembangan adalah Kampus Ganesa dan Kampus Jatinangor, sedangkan Kampus Bekasi, Kampus Walini, dan ITB Malaysia masih dalam tahap studi awal.

Pembangunan dan Penataan ITB-Ganesha

1. Pembangunan Gedung JICA

Mulai tahun 2010, ITB berencana membangun 4 gedung baru dengan ketinggian bangunan hingga 10 lantai. Keempat bangunan ini akan didirikan di Kampus Ganesha bagian utara. Pembangunan tersebut akan didanai sebagian oleh pinjaman dari the Japan International Cooperation Agency (JICA) dan sebagian dari Pemerintah Indonesia.

Bangunan baru di kawasan ini, CAS (Center of Advance Studies) yang akan berlokasi di pool kendaraan, CRCS (Center of Research and Community Services) yang akan berlokasi di daerah kantor LAPI ITB dan Puslog ITB, CADL (Center for Arts, Design, and Language) yang akan menggantikan Gedung Serba Guna (GSG), CIBE (Center for Infrastructure and Built Environtment) yang akan bertempat di sebalah barat Gedung Program Studi Fisika dan Program Studi Teknik SIpil, sebelah utara dari Gedung Basic Science.

2. Pembangunan Laboratorium Uji Doping

Bekerjasama dengan Kementertian Negara Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia dalam rangka mengurangi ketergantungan pengujian sampel anti-doping atlet Indonesia ke laboratorium pengujian yang terakreditasi di luar negeri. Rencana pembangunan sarana laboratorium pengawasan doping ini berlokasi di kompleks Sasana Olahraga Ganesha (Saraga) di Lebak Siliwangi, Bandung.

3. Pembangunan Gedung Riset dan Museum Energi & Mineral

4. Revitalisasi Perpustakaan

5. Revitalisasi Sub-Center

6. Pembangunan Selasar & Trotoar

7. Pembangunan Halte

8. Pembangunan Jalan Lingkar TImur

9. Penataan Lalu Lintas

10. Penataan Parkir

11. Pengembangan Kawasan Salman

  • Pembuatan entrance Utara kawasan YPM Salman ITB dan renovasi masjid Salman ITB. Penyelesaian pembangunan gedung GSG dan GSS. Pembangunan Gedung GST berupa 4 lantai parkir basement dan 8 lantai gedung aktifitas pusat pembinaan karakter. Pembenahan Taman Ganesa dan kawasan sekitar pulau salman agar kondusif bagi pusat pembinaan.
  • Pembangunan rusunawa mahasiswa S2 dan S3 ITB
  • Pembangunan Salman 2 : Pusat Pembinaan Karakter dan Technopreneurship.

12. Penataan Area Skanda & Bosscha

13. Usulan Penataan lain (Gedung FTMD, Kimia, Fisika)

ITB Jatinangor

Isu ITB Jatinangor sudah sangat lama didiskusikan oleh massa kampus ITB. Berikut adalah rencana pengembangan ITB Jatinangor.

Akan ada beberapa Program Studi baru yang dinilai perlu dan relean untuk dibuka dan dikembangkan di Kampus Jatinangor, diantaranya :

  • Fakultas Kehutanan dan Fakultas Pertanian
  • Bentuk program studi baru atau revitalisasi program yang ada (agroteknik, agribisnis, manajemen hutan, teknologi hasil hutan)
  • Bidang Lingkungan, Farmasi, Teknik Kimia, dan Biologi

a)      S1 Infrastruktur Air dan Sanitasi

b)      S1 Rekayasa Hayati

c)      S1 Food Technology

  • Bidang Teknik Sipil, Arsitektur, Planologi, Geodesi dan Geologi

a)      S1 Teknik Sumber Daya Air

b)     S1 Teknik Hidrografi

c)     S1 Survey dan Pemetaan

d)     S1 Rekayasa Infrastruktur Wilayah dan Kota

  • Bidang Ekonomi dan Bidang Manajemen

a)      Ekonomi Inovasi

b)      Ekonomi Spasial

c)       Tekno-Ekonomi

Beberapa fasilitas penunjang kemahasiswaan juga rencananya  akan dibangun di Kampus Jatinangor dengan harapan dapat memfasilitasi kebutuhan kemahasiswaan yang tidak termuat di Kampus Ganesha. Rencananya akan dibangun Convention Hall & Gallery, Laboratorium baru, Gedung Olahraga, dan juga Technopark. Diharapkan juga akan ada transportasi dari Kampus Ganesha ke Kampus Jatinangor, dapat berupa Shuttle Bus dll.

ITB Bekasi

  1. Rencana awal diperuntukkan untuk program Diploma dan Sarjana sesuai kebutuhan Pemkab Bekasi dan industri sekitar;
  2. Rencana diubah untuk program S2 dan S3 dengan program studi diselaraskan dengan arah pengembangan kampus menjadi Kampus Riset Industri;
  3. Saat ini ada peluang untuk mengembangkan Pusat-pusat Riset terkait Biodiversity dengan program kajian tertentu (New Academy New Cluster).
  4. Masalah utama adalah ketersediaan dana pembangunan

ITB Walini

Lokasi dipilih di sekitar KM 100 Bandung-Jakarta di sekitar daerah perkebunan teh.

ITB Malaysia

?

Diskusi

Rencana pembangunan dan pengembangan Institut Teknologi Bandung tentu merupakan sebuah upaya ITB untuk berkembang dan memenuhi kebutuhan negeri. Negara ini memerlukan percepatan pertumbuhan yang salah satunya dapat ditunjang dengan percepatan pembangunan.

Namun rencana pembangunan ini juga tentu merupakan tantangan di massa depan. Tak sedikit mahasiswa yang mempertanyakan tentang eksistensi kemahasiswaan ITB dengan adanya multikampus. Kita dapat membayangkan dengan adanya multikampus dan terpisahnya mahasiswa ITB, maka konsep OSKM, kaderisasi, kegiatan unit, himpunan, Keluarga Mahasiswa ITB tentu akan berubah pula.

Penulis menilai penting sekali untuk seluruh mahasiswa memahami konsep pengembangan kampus dan juga konsep multikampus karena konsep ini akan merubah banyak hal dari kultur kemahasiswaan di ITB.

Maka dari itu, maka mari kita mulai kajian lanjut mengenai multikampus dan juga pengembangan kampus, berikan pula opini, saran, dan kritik demi tercapainya pengembangan ITB yang lebih baik dari hari ini dan juga Bangsa Indonesia yang akan terus Berjaya.

Kesimpulan

Pembangunan dan pengembangan di ITB mencakup pembangunan di Kampus Ganesha, Kampus Jatinangor, analisa kelayakan untuk kampus Walini, Bekasi, dan Malaysia.

Konsep baru multikampus yang mulai dianut oleh ITB akan merubah banyak hal di dalam kultur kemahasiswaan di ITB. Maka diperlukan langkah responsif sebagai tanggapan atas perubahan karena perubahan ini merupakan suatu keniscayaan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya di Institut Teknologi Bandung.

 

Salam,

Untuk Indonesia yang lebih jaya,

1..2..3..GEA!

(Muhammad Malik Arrahiem)

HMTG “GEA” ITB

Sumber :

Sosialisasi Rencana Pembangunan & Penataan Kampus ITB Tahun 2012 – 2014. Direktorat Pengembangan ITB

http://ditbang.itb.ac.id/