Kenapa Kita Hanya Diam : Sebuah Opini dari Ketua Himpunan GEA 2015

Kegiatan maksimal jam 11 malam, kaderisasi hanya 5 hari, itu sebagian dari beberapa kebijakan rektorat belakangan ini yang cukup menghebohkan. Kebijakan-kebijakan ini langsung berdampak ke mahasiswa. Namun sayangnya dalam perumusan kebijakan ini mahasiswa kurang dilibatkan secara aktif, bahkan bisa dibilang tidak dilibatkan. Lalu dimanakah letak poin demokrasinya?

Jika mahasiswa saja sudah tidak peduli dengan kehidupan kampusnya, bagaimana ia mau peduli dengan kehidupan bangsanya? Saat saya baru masuk ITB, saya ditekankan oleh senior saya kalau kita mahasiswa harus kritis dan berani, berani bilang salah jika salah dan berani bilang benar jika benar. Sekarang lihat kenyataannya, saat demokrasi di kampus ini diinjak-injak kenapa tidak ada mahasiswa yang teriak. Kenapa tidak ada mahasiswa yang protes kepada rektorat. Kenapa mahasiswa hanya diam tak berdaya. Apakah kita terlalu sibuk untuk mengurusi nasib rakyat Indonesia? Apakah kita terlalu sibuk mengurusi akademik kita? Ataukah kita tidak paham bahwa demokrasi disini hilang?

Aturan berkegiatan maksimal jam 11 malam dan kaderisasi hanya 5 hari, aturan-aturan ini sekilas memiliki banyak nilai positif untuk mahasiswa. Kita jadi punya waktu lebih untuk belajar dan istirahat dikosan, tidak perlu ikut rapat semalam suntuk, keamanan pulang lebih terjaga, tidak perlu menghabiskan waktu untuk kaderisasi awal himpunan dan unit selama berbulan-bulan. Namun coba ditimbang lagi, apakah dengan adanya batasan ini kejaran dari kemahasiswaan kita dapat terkejar? Atau kejaran kita yang diturunkan akibat adanya batasan-batasan ini.

Beberapa waktu lalu saya mencoba untuk bertanya kepada beberapa teman saya yang aktif di himpunan maupun unit, ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Mereka merasa tidak setuju dengan peraturan baru ini. Lalu saya bertanya kenapa mereka diam saja dan tidak ada yang protes terhadap aturan ini, mereka pun menjawab kalau sekarang bukan lagi zamannya kita teriak-teriak dan protes ke rektorat terhadap suatu kebijakan. Saya cukup tergelitik dengan jawaban dari dia, jika memang sudah bukan seperti itu caranya lalu kenapa dia tidak melakukan protes yang caranya sesuai dengan zaman sekarang. Okelah kita bergerak lewat forum-forum bersama lembaga kampus, namun saat cara itu tidak membuat mereka mendengar aspirasi kita kenapa kita tidak lanjut dengan cara lain, kenapa kita harus diam tidak bergerak lagi. Tidak ada lagi propaganda-propaganda illegal, spanduk illegal, ataupun mahasiswa yang mau menyuarakan hal ini.

Tahun 1970-an kampus pernah diduduki oleh militer dan mahasiswa pun melawan. Tahun 1990-an kampus melarang adanya kegiatan kaderisasi awal, dan lagi-lagi mahasiswa melawan. Namun bagaimana keadaan di tahun 2015 ini? Rektorat mengeluarkan kebijakan yang bisa dibilang sepihak, dan mahasiswa hanya diam saja. Apakah sekarang memang zamannya mahasiswa tidak melakukan apapun. Hanya diam menunggu forum saja. Jika memang kalian tidak setuju katakanlah kalian tidak setuju. Ini baru terkait jam malam dan batas kegiatan kaderisasi awal, jika kedepannya ada aturan yang lebih membatasi kita lantas kita hanya diam saja?

Disini bukan berarti kita harus reaktif terhadap setiap kebijakan rektorat, tetapi jangan sampai kita acuh dan tak peduli dengan kondisi sekitar kita. Karena siapa lagi yang akan menyuarakan aspirasi kita kalau bukan kita sendiri. Saya hanya berharap kalau saat ini para mahasiswa bukan diam acuh tapi sedang menunggu momen dan sedang menyiapkan strategi yang tepat untuk menyuarakan suaranya, sebab jika mahasiswa saja sekarang hanya terdiam acuh maka disanalah titik awal kehancuran bangsa.

 

Syafiq Abdullah 12012017,
2015

Coming in November 2014: International Geology Student Festival I

Calling all Geology students worldwide! Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ‘GEA’ Institut Teknologi Bandung proudly presents:

International Geology Student Festival I: “Expanding Our Horizon”

Presenting geology student competition, seminar, field trip, workshop, exhibition, and so forth. Field discussions including Oil and Gas, Geothermal, Mining, and Engineering.

Details will be available soon. So mark your calendar and prepare yourself for an empowering opportunity to challenge yourself! We’re welcoming all world’s future geologists to come and join us in Bandung, November 10th-15th 2014.

Permasalahan Di Sekitar ITB

Oleh: Ali Haekal (12010093)

Mahasiswa ITB yang tinggal disekitar ITB bersinggungan sangat dekat dengan masyarakat sekitar kampus pula. Pudarnya budaya interaksi antara masyarakat dengan mahasiswa mulai terlihat akhir akhir ini. Menurut beberapa ketua RW yang ada disekitar kampus itb, mahasiswa itb dulu sangat dekat dengan masyarakat sekitar kampus pula. Namun hal ini kurang terlihat sekarang.

Mahasiswa sudah sepatutnya menjadi role model di masyarakat, untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem dari masing masing lembaga untuk tetap turut membantu permasalahan yang ada disekitar itb.

Salah satu permasalahan yang terlihat adalah hilangnya budaya interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa. Budaya yang baik ini cenderung memudar bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti tuntutan akademik yang makin berat, serta target lulus yang singkat. Oleh karena itu, mahasiswa cenderung lebih bisa berinteraksi jika ada sebuah acara atau fasilitas untuk berinteraksi dengan masyarakat pada momen momen tertentu sehingga kedekatan antara mahasiswa dan masyarakat sekitar kampus tetap terjaga.

Selain itu terdapat permasalahan tentang sampah di sekitar sungai cikapundung. Saat pembagian hewan kurban, berbicara dengan salah satu pengumpul tempat sampah didekat sungai cikapundung belakang sabuga, terdapat beberapa permasalahan. salah satunya adalah masih banyak yang membuang sampah kesungai. Sungai ini dulunya sering dipakai sebagai tempat rekseasi, namun karena banyaknya sampah di sungai tersebut, tempat rekseasi ini mulai ditinggalkan.

Di Penghujung Masa Kerja Pak Ary

Ditemui di laboratorium Geokimia pada hari Kamis, 28 Maret 2013 pukul 15.30, Pak Ary nampak sedang membereskan ruangan kerjanya sambil melayani para mahasiswa yang ramai datang kesana untuk mengucapkan salam perpisahan. Pak Ary Soerjoko, seorang karyawan yang telah mengabdi selama kurang-lebih sepuluh tahun di Departemen Teknik Geologi, baru saja mencapai masa pensiunnya. Diiringi pelepasan sederhana pada jam 12 siang sebelumnya, beliau pun mengakhiri masa pengabdian resminya di kampus ini.

Sosok Pak Ary memang memiliki keistimewaan tersendiri. Kedekatannya dengan banyak orang mulai dari dosen hingga mahasiswa membuat ruangannya hari itu ramai dipenuhi orang-orang. Mengawali karirnya di ITB sebagai petugas keamanan pada akhir tahun 1979, Pak Ary mengakui banyak sekali suka-duka yang ia rasakan selama menjalani kehidupan di ITB. Dimulai dari dulu ketika sering bentrok dengan mahasiswa yang banyak maunya, sampai sekarang menjadi akrab dengan banyak orang termasuk mahasiswa-mahasiswa yang sering bercerita tentang segala hal padanya. Mungkin hal ini berhubungan juga dengan “kelebihan” yang ia miliki mengenai dunia supranatural.

Beliau memang terkenal karena kemampuan khususnya tersebut. Awal karirnya di Teknik Geologi bahkan bermula saat ia diberi amanah untuk “membersihkan” area Karang Sambung yang akan dipakai untuk praktikum mahasiswa saat itu. Banyak pula pengalamannya di prodi Teknik Geologi yang berhubungan dengan hal tersebut, seperti memindahkan mahluk-mahluk kasat mata agar tidak mengganggu manusia, sampai menolong karyawan yang kakinya lumpuh sesaat akibat dipegangi mahluk halus. Selain itu, banyak pula dosen dan pegawai non-dosen yang sering berobat dan berkonsultasi padanya. Pak Ary bahkan pernah diberangkatkan ke Tanah Suci dua kali oleh dosen berkat jasanya.

pak ary

Pak Ary, berdiri di depan lab geokimia di penghujung masa kerjanya

Ditanya mengenai kemampuannya yang unik tersebut, Pak Ary mengakui bahwa semua ini ia peroleh melalui proses belajar. Ia sempat mempelajari ilmu olah napas yang kemudian diperdalam oleh ilmu kebatinan. Awalnya beliau tidak menduga akan dapat melakukan hal-hal yang tidak dipahami orang awam seperti ini. Niatnya tulus, ingin dapat menolong sesama melalui ilmu yang bermanfaat, kemudian ditunjukkan jalan oleh-Nya melalui hal ini.

Kabar tentang kemampuannya tersebut bahkan sudah menyebar sampai luar kota. Di rumahnya di Antapani, banyak pasien datang untuk berobat. Pak Ary menyadari bahwa kabar ini mungkin tersebar dari mulut ke mulut, karena ia tidak pernah dengan sengaja mengiklankan kemampuan dirinya. Metode yang Pak Ary gunakan sendiri tetap mengacu pada Al-Qur’an dan hadits serta sunatullah, karena menurutnya semua ini terjadi akibat hakikat Allah, hanya saja melalui syari’at dirinya.

“Seperti Nabi Sulaiman, ketika ditanya mau memilih ilmu atau harta, beliau memilih ilmu. Namun ternyata Allah memberikan yang lebih,” ujarnya dengan rendah hati.

Yang menarik, terdengar kabar bahwa Pak Ary ditawari kerjasama oleh dua orang tokoh metafisik ternama di Indonesia setelah masa pensiunnya ini. Menurut pengakuan Pak Ary, mereka pun dipertemukan karena jiwa mereka saling merasa cocok. Namun Pak Ary sendiri belum menentukan akan mengiyakan tawaran yang mana. Beliau mengatakan ingin memperbaiki dirinya dulu dengan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, memperbaiki kualitas ibadahnya, dan terus belajar.

Mengenai ilmu metafisik sendiri, menurutnya hal itu bisa dipelajari siapa saja dan sah-sah saja sebagai wawasan. Banyak hal yang ia pelajari seperti nafas alam, nafas Bumi, termasuk dianugerahi kelebihan berupa “suara hati” yang sering ia pergunakan untuk menjawab pertanyaan dan membantu kesulitan orang-orang. Ia juga bisa mendeteksi dan berdialog dengan mahluk-mahluk yang berbeda dengan manusia.

“Kita sebetulnya masih satu alam, hanya terpisah oleh suatu “dinding” buatan-Nya,” ucapnya.

Sesaat sebelum mengunci ruangannya untuk yang terakhir kali, Pak Ary berharap agar para mahasiswa terus diberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala hal. Selain itu ia juga berpesan, bagi mereka yang berada di gedung prodi sampai malam, hindarilah bersiul. “Di sini (gedung Teknik Geologi, red.) juga sebetulnya banyak, lalu lalang dimana-mana. Satu keluarga pun ada. Tapi asal tidak memancing ya tidak apa-apa,” ujarnya.***