Memetik Hikmah dari Pandemi Bagi Calon Geologist

Mendengar kata “Geologi” membuat sebagian besar orang langsung tertuju kepada benda keras yang berada di sekitar kita. Misalnya dengan kata keras, beragam warna, beragam ukuran yang kemudian disebut sebagai batu. Memang tidak bisa dipungkiri, sebagai geologist memang benda itu adalah sebagai objek utama, walaupun bukan satu-satunya. Batuan tersebut pastinya akan dijumpai di luar ruangan, kecuali kalau batuan tersebut diangkut ke dalam ruangan. Tetapi, geologist akan menilai valid jika menjumpai batuan yang ada di tempatnya langsung atau yang biasa disebut in-situ.

Batuan merupakan objek bagi geologist yang umum dijumpai di alam terbuka. Tentunya, observasi terhadap objek tersebut akan menjadi hal yang menyenangkan bila di kondisi yang normal. Namun, apabila melihat kondisi sekarang di kala pandemi ini justru berkegiatan di tempat terbuka adalah hal yang bahkan mencekam, terlebih biasanya kegiatan dilakukan secara beramai-ramai. Jangankan berkegiatan seperti demikian, sebatas mengobrol atau menyapa teman sejawat saja sangatlah susah. Banyak hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu, yang kemudian disebut sebagai protokol kesehatan. Protokol tersebut mencakup seperti menjaga jarak minimal 1 meter, memakai masker, tidak ada kontak, mencuci tangan, dsb. Hal ini memang terasa sangat ribet, akan tetapi hal tersebut wajib dilaksanakan demi kebaikan bersama.

Bagaimana Nasib Para Calon Geologist Saat Ini?

Apakah bisa tanpa melihat langsung, tanpa menyentuh dan apakah akan mendapatkan luaran yang sama? Kalau menurut penulis, dengan berat hati akan mengatakan tidak akan 100% sama ketika melakukan pengamatan langsung di lapangan. Sekalipun mengamati secara langsung di lapangan, terkadang kita masih kebingungan dalam melakukan pengamatan. Hal itu memang lumrah terutama calon geologist yang masih tingkat awal. Ketika membedakan batuan satu dengan batuan yang lain, terkadang muncul perdebatan panjang yang biasanya bersama teman ataupun dengan asisten. Bagaimana dengan dosen?, jangan terlalu ambil resiko ya GEA GEA sekalian, simpan dulu argumennya, tetapi bukan berarti takut untuk berpendapat.

Bagaimana Calon Geologist harus tetap belajar walaupun tanpa mendatangi secara langsung objeknya?

Jangan dilupakan kalau sekarang adalah era digital yang serba modern. Kita bisa akses dimana saja dan kapan saja, walau hanya depan komputer atau telepon genggam. Kita bisa belajar dari skala yang sangat kecil (skala kecil artinya memiliki cakupan daerah yang luas, sebagai contoh skala 1:100000 lebih kecil dari skala 1:50000, artinya 1:50000 lebih detail daripada skala 1:100000)  hingga skala pengamatan mikroskop secara digital.

Pengamatan skala kecil seperti geomorfologi, bisa dilakukan dengan pengamatan terhadap citra satelit, meliputi citra satelit multi bahkan hyperspectral yang mampu mendeteksi objek-objek tertentu dan khusus dengan memanfaatkan disiplin ilmu penginderaan jauh geologi, atau hanya sekedar mengamati pola kontur dari citra DEM (Digital Elevetion Model) dengan tampilan hillshade untuk memperjelas kenampakan 3D. Kebanyakan citra tersebut dapat diperoleh secara gratis di laman tertentu. Contohnya di tanahair.co.id (untuk data DEMNas dengan resolusi kurang lebih 9 meter). Earthexploler milik USGS yang didalamnya terdapat data citra multispectral berbagai jenis yang digunakan untuk berbagai kepentingan.

Pengamatan di skala singkapan bahkan bisa dilakukan, istilahnya sudah well defined  karena banyak web-web terutama yang berbahasa inggris telah menyediakan fitur rotasi 360o, artinya kita bisa mengamati sekelilingnya seperti ketika di lapangan. Selain itu, ada juga yang namanya fotogrametri, yaitu singkapan yang bisa kita putar sesuka hati, tapi dalam pembuatannya dibutuhkan banyak foto agar overlay-nyamenghasilkan produk yang bagus. Jika berbicara di skala mikroskopik, untuk melihat sayatan batuan bisa dilakukan di beberapa website tertentu. Akan tetapi, sampelnya dari mereka, dari kita hanya bisa melihat contoh-contoh mineral yang telah mereka sediakan. Hal itu powerfull menurut saya, karena kita seolah sedang mengamati secara langsung dengan memutarkan meja yang ada di mikroskop polarisasi.

Calon Geologist Tidak Memiliki Batasan Untuk Tetap Belajar

Dari skala regional hingga skala mikroskop, sebenarnya kita dapat melakukannya secara tidak langsung praktik ke lapangan. Teknologi yang kini sudah sangat maju dan serba digital, maka tidak ada batasan lagi bagi calon geologist untuk tidak belajar. Terutama, masa pandemi saat ini. Teringat dengan salah satu dosen yang pernah menyampaikan nasihat ketika berlangsung kuliah lapangan Karangsambung online beberapa bulan yang lalu. Peserta Karangsambung yang seharusnya pada saat itu berada di lapangan, terpaksa harus diurungkan untuk sementara waktu. Hal ini dikarenak efek pandemi yang belum berakhir. Kurang lebih nasehatnya seperti demikian “Walaupun kalian belajar secara online, tetapi yang harus diyakini adalah ketika kalian belajar sungguh-sungguh dan mengikuti dengan baik pelaksanaan ini, maka setidaknya kalian sudah menabung knowledge kurang lebih 80% dan sisanya adalah berupa motorik yang nanti akan dilaksanakan ketika praktik di lapangan”. Hal itu juga meyakinkan saya untuk belajar bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan tersebut.

Ketika kita sudah mendapatkan teori memang baiknya diaplikasikan di lapangan, walaupun belum bisa. Tetapi, cepat atau lambat hal itu akan dilakukan mengingat kita adalah calon geologist. Pandemi ini memang membuat sebagian besar dari kita terpukul. Terutama, kegiatan seperti ekskursi, kuliah lapangan, praktikum terpaksa harus dijadikan online atau bahkan ditiadakan. Namun,  masih banyak cara dengan dukungan teknologi masa kini yang sangat mumpuni dan bisa memudahkan kita calon geologist. Memang sense of geologist akan hanya didapatkan ketika knowledge berkolaborasi baik dengan praktik di lapangan. Itu pun tidaklah instan dan akan tetap butuh proses. Tetapi, setidaknya kita bisa menabung dari segi teori atau knowledge sehingga ketika pandemi telah usai, semuanya akan tereksekusi di lapangan.

Pesan dari Penulis

Pandemi memang memberikan banyak pelajaran bagi kita semua, terutama keilmuan geologi yang kental dengan lapangan. Hal yang mengubah sedikit demi sedikit kearah digital. Suka ataupun tidak, hal itu harus dilakukan agar kita tetap bisa belajar. Akan tetapi, betapa luar biasanya ketika mendapatkan ilmu dan keahlian baru selama hasil pandemi berkolaborasi dengan penerapannya di lapangan. Tidak perlu dijawab sekarang, nantikan saja apa yang akan terjadi.

Penulis : Muhammad Bahrun Najah (12018004)

Editor : Bidang Medkominfo BPH HMTG “GEA” ITB 2021