Semedo, Rumah bagi Vertebrata Tertua di Indonesia

Categories Artikel, Keprofesian, Lapangan

by Sukiato Kurniawan (‘GL 2011)

Situs Semedo pertama kali muncul ke permukaan panggung ilmiah pada tahun 2005. Sebagai situs yang paling baru ditemukan, belum banyak penelitian yang pernah dilakukan secara menyeluruh, padahal Semedo dapat menjadi kunci emas bagi ilmu pengetahuan di bidang arkeologi, paleontologi, paleoantropologi, geologi, serta berbagai bidang Ilmu Kuarter lainnya. Berikut laporan penulis (Sukiato Khurniawan, GL 11) yang kini tengah mendalami disiplin geologi serta paleontologi vertebrata di situs ini.

Tenar akibat Kegigihan Pengabdian Pak Dakri

Pak Dakri, begitulah warga memanggil pria paruh baya yang kerap kali dijumpai apabila memasuki Balai Informasi Purbakala Situs Semedo. Sifatnya yang bersahabat dan gaya bicaranya yang khas serta informatif selalu mampu mencairkan suasana hati pengunjung yang baru tiba. Tak hanya itu, pembawaannya yang berapi-api dan lugas dalam memberikan penjelasan mengenai fosil-fosil yang dipajang di area display (ruang pamer) tidak pernah mematikan rasa penasaran pengunjung untuk menggali ilmu tentang sejarah kehidupan purba daerah Semedo.

Sore hari itu, saat saya sedang mendata ulang fosil yang pernah diidentifikasi oleh Badan Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Pak Dakri menceritakan bagaimana awalnya beliau merintis pembangunan Pondok Informasi Semedo, yang lebih sering dikenal sebagai Museum Semedo.

Pak Dakri yang kini berumur 59 tahun telah mengumpulkan fosil sejak tahun 1987 saat dirinya sedang mengurus ladang sekaligus merangkap sebagai seniman. Kala itu, beliau gemar menelusuri sungai dan berjalan di perbukitan yang ditanami jagung untuk mengumpulkan pecahan-pecahan tubuh hewan. Beliau menyadari bahwa pecahan tulang hewan yang ditemukan itu bukanlah berasal dari hewan-hewan yang hidup sekarang. Bagaimana caranya tempurung kura-kura laut bisa sampai terdampar ditengah kebun jagung? Bagaimana mungkin gigi ikan hiu bisa ditemukan di tengah aliran sungai? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang kemudian mengantarkan Pak Dakri untuk tak henti-hentinya mengumpulkan fosil serta menganalisis singkapan lokasi penemuannya di sekitar lingkungan Semedo.

Memang pada awalnya, setiap hal yang hendak dikembangkan selalu mendapat hambatan dari orang-orang di sekitar. Begitu pula yang sempat dirasakan Pak Dakri dahulu. Beliau pernah dicap aneh oleh penduduk dan mendapatkan respon negatif karena kegemarannya mengumpulkan fosil-fosil ketimbang mengangkat cangkul dan mengurus ladangnya. Namun segala macam perkataan yang menyerangnya tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus mengamankan fosil-fosil dari tangan-tangan usil masyarakat sekitar.

Ketekunan Pak Dakri beserta tiga orang temannya: Pak Sunardi, Pak Duman, dan Pak Anshori-lah yang mengantar Semedo tampil ke panggung dunia ilmiah. Berkat bantuan Bambang Purnama dan Slamet Heriyanto dari LSM Gerbang Mataram yang pada tahun bukan Juni 2005 melaporkan temuan situs ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Semedo secara perlahan mulai berdiri tegak dan mendapat lirikan dari para peneliti maupun warga sekitar.

Semedo bagi Gerbang Ilmu Pengetahuan

Pada tahun 2005, setelah terjalin kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal dan Balai Arkeologi Yogyakarta, banyak peneliti yang mulai berdatangan untuk mempelajari Situs Semedo, sebut saja dari Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri (mulai 2005), Museum Sangiran (mulai 2005), Museum Geologi Bandung (2014) dan Institut Teknologi Bandung (mulai 2014). Hingga kini, kegiatan yang sudah dilakukan adalah menginventarisasi dan mengidentifikasi fosil temuan hingga dilakukannya ekskavasi pada lokasi seputar temuan fosil manusia purba.

Hingga kini, berbagai fosil yang telah diidentifikasi antara lain gajah purba (Elephas, Stegodon, dan Mastodon/Sinomastodon bumiajuensis?), kerbau purba (Bubalus palaeokerabau), banteng purba (Bos palaeosondaicus), kura-kura (Testudo sp. dan Trionyx sp.), buaya (Crocodilus sp.), harimau (Panthera sp.), serigala (Canis sp.), hyaena (Hyaena sp.), dan rusa (Cervus hippelaphus). Selain itu, ditemukan pula fosil hewan laut seperti kura-kura (Goechelone?), fragmen gigi ikan hiu (Charcarodon megalodon), serta Moluska seperti Anadara/Arca, Turitella, Murex dan Antigona.

Puncak temuan yang paling menggegerkan barangkali datang dari fragmen fosil Homo erectus yang ditemukan pada tahun 2011 serta diberi nama Semedo 1, yang kemudian menambah panjang album keluarga Homo erectus di Indonesia. Fosil ini terdiri dari sedikit pecahan bagian ocipital serta bagian parietal kiri-kanan. Menurut penelitian oleh Widiyanta (2011), Semedo 1 memiliki kemiripan dengan fosil Homo erectus Grogolan Wetan yang ditemukan di daerah Sangiran. Kesamaan morfologi dan biometri kedua fosil ini mungkin mencerminkan bahwa Semedo 1 dapat digolongkan ke dalam jenis Homo erectus tipik yang hidup sekitar 250.000-900.000 tahun yang lalu. Temuan ini mungkin merupakan temuan yang telah dinanti-nantikan, sebab sebelumnya telah banyak ditemukan artefak berupa kapak perimbas, kapak penetak, dan alat serut-bilah yang terbuat dari batugamping (koral) terkersikkan, sebagai penciri adanya peradaban manusia pada masa lampau. Walaupun belum ditemukan fosil tengkorak yang lengkap dengan seluruh wajah, namun temuan ini mampu menjanjikan temuan-temuan lain yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Hingga kini, tidak hanya Museum Semedo saja yang melakukan pengumpulan fosil. Biasanya, warga-warga yang menemukan fosil ketika beraktivitas di kebun juga turut mengoleksi, namun harus dilaporkan kepada pihak Museum Semedo untuk diinventarisasi. Hal ini dilakukan agar dapat meminimalisasi risiko kegiatan jual-beli fosil yang pada beberapa daerah sempat terjadi. Tentunya sangat disayangkan apabila Semedo dengan kumpulan fosil-fosil tua yang menakjubkan ini dijualbelikan serta jatuh kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Gading Elephas sp.
Gading Elephas sp.
fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?
fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?
Koleksi artefak Situs Semedo
Koleksi artefak Situs Semedo
Rahang bawah kiri Stegodon sp.
Rahang bawah kiri Stegodon sp.
Koleksi Mollusca
Koleksi Mollusca
fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)
fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)
Cervidae dan Cervus hippelaphus
Cervidae dan Cervus hippelaphus

Fauna Semedo, Fauna Tua Indonesia

Banyaknya jenis spesies dan jumlah individu yang ditemukan menjadikan fauna purba Semedo menarik untuk diteliti. Apabila mengacu pada biostratigrafi fauna vertebrata Jawa oleh de Vos et al. (1982) dan Sondaar (1986), maka kehadiran fosil-fosil Semedo dapat digolongkan dari Fauna Satir, Fauna Cisaat, Fauna Trinil-HK, dan Fauna Kedungbrubus.

Fauna Satir di Semedo dicirikan oleh hadirnya fosil gigi molar Mastodon (Sinomatodon bumiajuensis?). Di endapan yang sama, juga dilaporkan ditemukan fosil kura-kura (Geochelone?) yang belum diekskavasi, namun telah tersingkap dengan sangat jelas di lapangan. Tak hanya itu, ditemukan pula fragmen gigi dan rahang yang diidentifikasi milik Hyaena sp. Apabila fosil Hyaena ini terbukti bersifat insitu dari lapisan yang sama dengan Mastodon, maka Semedo kemungkinan dapat mengisi bahkan menggeser Fauna Satir yang hingga saat ini diketahui terdiri dari fosil Mastodon, Hexaprotodon simplex, Geochelone atlas, dan Cervidae.

Fauna Cisaat di Semedo ditandai dengan hadirnya fosil Stegodon sp. (Stegodon trigonocephalus?)

Fauna Trinil-HK di Semedo dicirikan oleh melimpahnya fosil Suidae (Sus brachygnathus), Bovidae (Bubalus palaeokerabau dan Bibos palaeosondaicus), Stegodon, Cervidae, Rhinocerotidae (Rhinoceros sondaicus?), Hippopotamidae, dan Felidae.

Fauna Kedungbrubus umumnya ditandai oleh kemunculan genus Elephas. Di Semedo, telah ditemukan pecahan rahang bawah kiri Elephas sp, sehingga lebih kurang fauna-fauna Semedo menjangkau umur yang disebandingkan dengan fauna ini.

(Catatan: sebagian penamaan fosil penulis ambil dari laporan oleh Widiyanta (2014), pengamatan di Museum Semedo, serta identifikasi awal yang bersifat sementara oleh penulis. Pengukuran biometri dan analisis lanjut perlu dilakukan agar mendapatkan bistratigrafi daerah Semedo yang lebih detail).

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)
(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

Berperang dengan Pencari Batu Akik!

Situs Semedo pun tidak lepas dari ancaman pencari batu akik yang kini tengah naik daun di seluruh penjuru Indonesia. Sepanjang penelitian penulis, saat menelusuri sungai bersama Pak Dakri, kami sempat menjumpai warga yang tengah menghancurkan singkapan untuk mencari batu akik. Warga yang terlibat dalam pencarian ini berasal dari desa-desa sebeah, bukan berasal dari Desa Semedo yang umumnya sudah mengerti megenai dunia perfosilan. Hal yang menjadi ketakutan kami adalah bahwa artefak yang terbuat dari koral terkersikkan (bahan yang sangat bagus untuk dibuat perhiasan) diambil dan digunakan oleh warga yang belum mampu membedakan mana yang fosil, artefak, dan batu biasa.

Selain itu, penulis juga sempat diajak Pak Dakri untuk mengecek laporan warga bahwa telah ditemukan pecahan gading gajah (Proboscidea) yang telah dihancurkan oleh pemburu batu akik. Benar saja, di lapangan, kami mendapati 4 buah fragmen yang berhasil diselamatkan warga serta 6 fragmen tambahan yang bersifat insitu, serta pecahan bekas benturan benda keras buatan manusia.

Kebetulan sekali, pada saat turun dari bukit untuk kembali mencari singkapan batuan, Pak Dakri menemukan fragmen fosil yang kecil yang tersingkap sedikit ke permukaan. Setelah kami mencoba membukanya, kami mendapatkan sebuah fosil humerus Bovidae yang lengkap dengan tingkat fosilisasi yang sangat baik. Awalnya, karena kami hendak melanjutkan perjalanan untuk mencari singkapan, Pak Dakri sempat menawarkan untuk menitipkan fosil ini kepada warga atau menyembunyikannya sementara waktu di bawah pohon. Namun setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk membawanya langsung ke museum dan memberhentikan perjalanan kami hari itu agar fosil ini dapat terselamatkan dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

Fenomena batu akik mungkin membawa rejeki mendadak bagi beberapa pihak, namun apabila warga tidak mendapatkan informasi dan edukasi yang cukup, maka tentunya akan membawa dampak yang buruk bagi situs purbakala seperti Semedo ini. Berdasarkan laporan yang penulis baca dari berbagai media, ternyata sudah terjadi beberapa perusakan terhadap situs arkeologi di beberapa penjuru Indonesia, seperti di Curug Dago (Bandung, Jawa Barat) dan situs peninggalan purbalaka zaman batu di Papua. Alangkah baiknya apabila pihak situs dari manapun dapat melaporkan kepada pihak berwajib serta mampu bekerjasama dengan PPNS Purbakala untuk menangani permasalahan ini.

Pecahan fosil yang dilaporkan warga
Pecahan fosil yang dilaporkan warga
Pecahan fosil ulah pemburu batu akik
Pecahan fosil ulah pemburu batu akik
Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan
Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan
semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan
semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

Rencana Pengembangan Museum Situs Semedo

Pengembangan Situs Semedo agar dapat lebih bermanfaat serta menambah daya pikat masyarakat untuk mengenal dunia kepurbakalaan Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Berkat kegigihan dari berbagai pihak, kini Situs Semedo tengah berada dalam rencana pengembangan lanjut. Apabila tidak ada kendala, maka diperkirakan pembangunan Museum Semedo yang lebih layak akan mulai dijalankan pada tahun 2015 ini dan selesai pada akhir tahun 2016. Dengan melihat jumlah pengunjung sebanyak lebih kurang 50-an orang per hari, dengan dibangunnya Museum yang lebih megah tentu akan menambah daya tarik masyarakat dari berbagai kalangan. Desain masterplan, pembebasan lahan, serta hal-hal teknis dan administratif telah dipersiapkan secara matang. Pada saat penulis sedang berada di daerah penelitian, penulis sempat mengamati pihak-pihak yang bertugas dalam pembangunan mulai melakukan survei untuk memperlancar rencana pendirian museum.

Lahan sebesar dua hektar juga telah dipersiapkan. Apabila sesuai rencana, maka lahan seluas satu hektar akan digunakan sebagai lahan parkir, sementara satu hektar lain akan dibangun menjadi museum, dilengkapi dengan penginapan yang dikhususkan untuk peneliti dan mahasiswa yang ingin mendalami disiplin ilmu Kuarter daerah Semedo. Semua ini tidak terlepas dari perhatian dari berbagai pihak, terutama Bapak Dakri, yang selalu menekankan agar dibangunnya pondokan atau penginapan khusus peneliti agar lebih memperlancar studi disini. Selain bangunan inti, kondisi jalan yang rusak parah juga perlu dibenahi. Kabarnya, kini telah terjalin koordinasi dengan Departemen Pekerjaan Umum untuk menyelesaikan permasalahan jalan umum setelah museum selesai dibangun.

Pembangunan pun tidak lepas dari pro dan kontra yang datang dari masyarakat sekitar. Untuk itu, perlu dilakukan suatu tindak lanjut agar mampu berdampak positif terhadap masyarakat. Berbagai langkah pun sudah direncanakan dan dipersiapkan oleh Tanti Asih, putri Bapak Dakri, yang bertugas sebagai informan, guide, sekaligus pengembang Museum Semedo. Rencananya, penduduk di sekitar akan dilibatkan dalam kegiatan pengembangan jasa dari bidang usaha ekonomi kreatif dan ekonomi kecil-menengah. Salah satunya adalah dengan mendorong kreativitas masyarakat untuk mengembangkan masakan khas tradisional Semedo, kesenian wayang, souvenir, jasa transportasi, hingga wahana hiburan seperti taman bermain anak-anak. Harapannya, dengan dibangunnya Museum Semedo, tidak terbentuk kesenjangan sosial antara masyarakat dengan pihak museum, serta mampu mendorong masyarakat untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Kondisi pondok informasi saat ini
Kondisi pondok informasi saat ini

Lestarikan Fosil, Lestarikan Situs Purbakala, Visit Museum!

Museum telah lama menjadi daya tarik bagi berbagai kalangan dari berbagai rentang usia pula. Museum dapat menjadi alternatif yang cukup menarik sebagai wahana hiburan sekaligus edukasi yang bernilai tinggi. Karena hanya di dalam museum lah, kita mampu belajar dari sejarah, mengambil kearifan dari masa lampau, serta mengamalkannya ke dalam kehidupan kini. Entah itu museum dengan latar belakang apapun, perlu kita lestarikan dan dijaga keutuhannya.

Sudah sepantasnya pihak-pihak pemerintah mencurahkan perhatian yang lebih, konsentrasi yang lebih terfokus, serta pengembangan yang lebih terarah agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para peneliti, masyarakat Indonesia secara umum, maupun wisatawan mancanegara. Lebih dari itu, peningkatan minat studi-edukasi melalu kunjungan ke museum juga harus terus menjadi gagasan rutin bagi pihak-pihak pelaksana pendidikan di Indonesia. Tak hanya pihak pemerintah, masyarakat secara umum juga sepatutnya mengambil peran dan tanggung jawab terhadap perkembangan dan kelestarian museum.

Melalui rencana pengembangan Museum Situs Semedo, penulis sangat mengharapkan timbulnya keinginan, keberanian, dan ketekunan dari generasi penerus selanjutnya untuk terus mengembangkan situs purbakala yang memiliki potensi luar biasa ini. Di samping itu, semoga kita juga mampu mendekatkan diri dengan fosil, temuan purbakala, serta sejarah agar dapat memahami arti penting kehidupan. Sudah sepantasnya dan sudah tiba waktunya bagi kita untuk menjaga pusaka peninggalan alam Indonesia, melalui pelestarian: baik itu pelestarian fosil, pelestarian situs purbakala, maupun pelestarian segala sesuatu yang mengandung nilai historis yang tinggi, karena pada dasarnya, ini adalah tanggung jawab kita semua!

Senin, 13 April 2015
dari saung Balai  Informasi Purbakala Situs Semedo,

S.

Catatan: Jalan menuju Situs Semedo:
Dari Kota Tegal (ke arah timur) atau Semarang-Pekalongan-Pemalang (ke arah barat), berhenti di pos polisi Pasar Suradadi, kemudian belok ke arah selatan, masuk ke Jalan Raya Suradadi (Kertasari), dan ikuti papan penunjuk arah ke Situs Semedo. Kondisi jalan raya untuk saat ini sangat rusak. Apabila pengunjung naik kendaraan umum dari Jalur Pantura, setelah berhenti di Pasar Suradadi, dapat dilanjutkan dengan jasa ojek.

Daftar Pustaka:

De Vos, J., Sartono, S., hardjasasmita, S., dan Sondaar P.Y. 1982. The Fauna from Trinil, Type Locality of Homo erectus, A Reinterpretation. Geologie & Mijnbouw 61: 207-211

Hertler, C dan Rizal, Y. 2005. Excursion Guide to Pleistocene Hominid Sites in Central and East Java. ITB-JGW University

Sondaar, P.Y. 1984. Faunal Evolution and The Mammalian Biostratigraphy of Java. Courier Forschungs Institut Senckenberg 69: 219-235

Widiyanto, H. 2011. Nafas Sangiran: Nafas Situs-Situs Hominid. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran

Widiyanta, W. 2014. Situs Sangiran-Situs Semedo: Perbandingan Potensi Kedua Situs Pleistosen di Jawa. Jurnal Sangiran No. 3

——————————————

Sukiato Khurniawan

Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknoloi Bandung (FITB-ITB). Saat ini tengah melakukan penelitian geologi dan paleontologi di Situs Semedo, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebagai salah satu syarat bagi kelulusan studi tingkat Sarjana (Strata 1). Penulis memilih mendalami paleontologi, khususnya paleontologi vertebrata dan paleoanthropologi sebagai spesialisasi dari disiplin ilmu kebumian. Penulis dapat dihubungi melalui surel sukiato.kho@students.itb.ac.id, atau akun FB: Sukiato Khurniawan

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *