Archives April 2015

Semedo, Rumah bagi Vertebrata Tertua di Indonesia

by Sukiato Kurniawan (‘GL 2011)

Situs Semedo pertama kali muncul ke permukaan panggung ilmiah pada tahun 2005. Sebagai situs yang paling baru ditemukan, belum banyak penelitian yang pernah dilakukan secara menyeluruh, padahal Semedo dapat menjadi kunci emas bagi ilmu pengetahuan di bidang arkeologi, paleontologi, paleoantropologi, geologi, serta berbagai bidang Ilmu Kuarter lainnya. Berikut laporan penulis (Sukiato Khurniawan, GL 11) yang kini tengah mendalami disiplin geologi serta paleontologi vertebrata di situs ini.

Tenar akibat Kegigihan Pengabdian Pak Dakri

Pak Dakri, begitulah warga memanggil pria paruh baya yang kerap kali dijumpai apabila memasuki Balai Informasi Purbakala Situs Semedo. Sifatnya yang bersahabat dan gaya bicaranya yang khas serta informatif selalu mampu mencairkan suasana hati pengunjung yang baru tiba. Tak hanya itu, pembawaannya yang berapi-api dan lugas dalam memberikan penjelasan mengenai fosil-fosil yang dipajang di area display (ruang pamer) tidak pernah mematikan rasa penasaran pengunjung untuk menggali ilmu tentang sejarah kehidupan purba daerah Semedo.

Sore hari itu, saat saya sedang mendata ulang fosil yang pernah diidentifikasi oleh Badan Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Pak Dakri menceritakan bagaimana awalnya beliau merintis pembangunan Pondok Informasi Semedo, yang lebih sering dikenal sebagai Museum Semedo.

Pak Dakri yang kini berumur 59 tahun telah mengumpulkan fosil sejak tahun 1987 saat dirinya sedang mengurus ladang sekaligus merangkap sebagai seniman. Kala itu, beliau gemar menelusuri sungai dan berjalan di perbukitan yang ditanami jagung untuk mengumpulkan pecahan-pecahan tubuh hewan. Beliau menyadari bahwa pecahan tulang hewan yang ditemukan itu bukanlah berasal dari hewan-hewan yang hidup sekarang. Bagaimana caranya tempurung kura-kura laut bisa sampai terdampar ditengah kebun jagung? Bagaimana mungkin gigi ikan hiu bisa ditemukan di tengah aliran sungai? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang kemudian mengantarkan Pak Dakri untuk tak henti-hentinya mengumpulkan fosil serta menganalisis singkapan lokasi penemuannya di sekitar lingkungan Semedo.

Memang pada awalnya, setiap hal yang hendak dikembangkan selalu mendapat hambatan dari orang-orang di sekitar. Begitu pula yang sempat dirasakan Pak Dakri dahulu. Beliau pernah dicap aneh oleh penduduk dan mendapatkan respon negatif karena kegemarannya mengumpulkan fosil-fosil ketimbang mengangkat cangkul dan mengurus ladangnya. Namun segala macam perkataan yang menyerangnya tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus mengamankan fosil-fosil dari tangan-tangan usil masyarakat sekitar.

Ketekunan Pak Dakri beserta tiga orang temannya: Pak Sunardi, Pak Duman, dan Pak Anshori-lah yang mengantar Semedo tampil ke panggung dunia ilmiah. Berkat bantuan Bambang Purnama dan Slamet Heriyanto dari LSM Gerbang Mataram yang pada tahun bukan Juni 2005 melaporkan temuan situs ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Semedo secara perlahan mulai berdiri tegak dan mendapat lirikan dari para peneliti maupun warga sekitar.

Semedo bagi Gerbang Ilmu Pengetahuan

Pada tahun 2005, setelah terjalin kerjasama antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal dan Balai Arkeologi Yogyakarta, banyak peneliti yang mulai berdatangan untuk mempelajari Situs Semedo, sebut saja dari Balai Arkeologi Yogyakarta sendiri (mulai 2005), Museum Sangiran (mulai 2005), Museum Geologi Bandung (2014) dan Institut Teknologi Bandung (mulai 2014). Hingga kini, kegiatan yang sudah dilakukan adalah menginventarisasi dan mengidentifikasi fosil temuan hingga dilakukannya ekskavasi pada lokasi seputar temuan fosil manusia purba.

Hingga kini, berbagai fosil yang telah diidentifikasi antara lain gajah purba (Elephas, Stegodon, dan Mastodon/Sinomastodon bumiajuensis?), kerbau purba (Bubalus palaeokerabau), banteng purba (Bos palaeosondaicus), kura-kura (Testudo sp. dan Trionyx sp.), buaya (Crocodilus sp.), harimau (Panthera sp.), serigala (Canis sp.), hyaena (Hyaena sp.), dan rusa (Cervus hippelaphus). Selain itu, ditemukan pula fosil hewan laut seperti kura-kura (Goechelone?), fragmen gigi ikan hiu (Charcarodon megalodon), serta Moluska seperti Anadara/Arca, Turitella, Murex dan Antigona.

Puncak temuan yang paling menggegerkan barangkali datang dari fragmen fosil Homo erectus yang ditemukan pada tahun 2011 serta diberi nama Semedo 1, yang kemudian menambah panjang album keluarga Homo erectus di Indonesia. Fosil ini terdiri dari sedikit pecahan bagian ocipital serta bagian parietal kiri-kanan. Menurut penelitian oleh Widiyanta (2011), Semedo 1 memiliki kemiripan dengan fosil Homo erectus Grogolan Wetan yang ditemukan di daerah Sangiran. Kesamaan morfologi dan biometri kedua fosil ini mungkin mencerminkan bahwa Semedo 1 dapat digolongkan ke dalam jenis Homo erectus tipik yang hidup sekitar 250.000-900.000 tahun yang lalu. Temuan ini mungkin merupakan temuan yang telah dinanti-nantikan, sebab sebelumnya telah banyak ditemukan artefak berupa kapak perimbas, kapak penetak, dan alat serut-bilah yang terbuat dari batugamping (koral) terkersikkan, sebagai penciri adanya peradaban manusia pada masa lampau. Walaupun belum ditemukan fosil tengkorak yang lengkap dengan seluruh wajah, namun temuan ini mampu menjanjikan temuan-temuan lain yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Hingga kini, tidak hanya Museum Semedo saja yang melakukan pengumpulan fosil. Biasanya, warga-warga yang menemukan fosil ketika beraktivitas di kebun juga turut mengoleksi, namun harus dilaporkan kepada pihak Museum Semedo untuk diinventarisasi. Hal ini dilakukan agar dapat meminimalisasi risiko kegiatan jual-beli fosil yang pada beberapa daerah sempat terjadi. Tentunya sangat disayangkan apabila Semedo dengan kumpulan fosil-fosil tua yang menakjubkan ini dijualbelikan serta jatuh kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Gading Elephas sp.

Gading Elephas sp.

fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?

fragmen tanduk Bibos palaeosondaicus?

Koleksi artefak Situs Semedo

Koleksi artefak Situs Semedo

Rahang bawah kiri Stegodon sp.

Rahang bawah kiri Stegodon sp.

Koleksi Mollusca

Koleksi Mollusca

fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)

fragmen carapace kura-kura (Trionyx sp. dan Testudo sp.)

Cervidae dan Cervus hippelaphus

Cervidae dan Cervus hippelaphus

Fauna Semedo, Fauna Tua Indonesia

Banyaknya jenis spesies dan jumlah individu yang ditemukan menjadikan fauna purba Semedo menarik untuk diteliti. Apabila mengacu pada biostratigrafi fauna vertebrata Jawa oleh de Vos et al. (1982) dan Sondaar (1986), maka kehadiran fosil-fosil Semedo dapat digolongkan dari Fauna Satir, Fauna Cisaat, Fauna Trinil-HK, dan Fauna Kedungbrubus.

Fauna Satir di Semedo dicirikan oleh hadirnya fosil gigi molar Mastodon (Sinomatodon bumiajuensis?). Di endapan yang sama, juga dilaporkan ditemukan fosil kura-kura (Geochelone?) yang belum diekskavasi, namun telah tersingkap dengan sangat jelas di lapangan. Tak hanya itu, ditemukan pula fragmen gigi dan rahang yang diidentifikasi milik Hyaena sp. Apabila fosil Hyaena ini terbukti bersifat insitu dari lapisan yang sama dengan Mastodon, maka Semedo kemungkinan dapat mengisi bahkan menggeser Fauna Satir yang hingga saat ini diketahui terdiri dari fosil Mastodon, Hexaprotodon simplex, Geochelone atlas, dan Cervidae.

Fauna Cisaat di Semedo ditandai dengan hadirnya fosil Stegodon sp. (Stegodon trigonocephalus?)

Fauna Trinil-HK di Semedo dicirikan oleh melimpahnya fosil Suidae (Sus brachygnathus), Bovidae (Bubalus palaeokerabau dan Bibos palaeosondaicus), Stegodon, Cervidae, Rhinocerotidae (Rhinoceros sondaicus?), Hippopotamidae, dan Felidae.

Fauna Kedungbrubus umumnya ditandai oleh kemunculan genus Elephas. Di Semedo, telah ditemukan pecahan rahang bawah kiri Elephas sp, sehingga lebih kurang fauna-fauna Semedo menjangkau umur yang disebandingkan dengan fauna ini.

(Catatan: sebagian penamaan fosil penulis ambil dari laporan oleh Widiyanta (2014), pengamatan di Museum Semedo, serta identifikasi awal yang bersifat sementara oleh penulis. Pengukuran biometri dan analisis lanjut perlu dilakukan agar mendapatkan bistratigrafi daerah Semedo yang lebih detail).

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

(Biostratigrafi paleontologi bertebrata Jawa, diambil dari Hertler dan Rizal, 2005)

Berperang dengan Pencari Batu Akik!

Situs Semedo pun tidak lepas dari ancaman pencari batu akik yang kini tengah naik daun di seluruh penjuru Indonesia. Sepanjang penelitian penulis, saat menelusuri sungai bersama Pak Dakri, kami sempat menjumpai warga yang tengah menghancurkan singkapan untuk mencari batu akik. Warga yang terlibat dalam pencarian ini berasal dari desa-desa sebeah, bukan berasal dari Desa Semedo yang umumnya sudah mengerti megenai dunia perfosilan. Hal yang menjadi ketakutan kami adalah bahwa artefak yang terbuat dari koral terkersikkan (bahan yang sangat bagus untuk dibuat perhiasan) diambil dan digunakan oleh warga yang belum mampu membedakan mana yang fosil, artefak, dan batu biasa.

Selain itu, penulis juga sempat diajak Pak Dakri untuk mengecek laporan warga bahwa telah ditemukan pecahan gading gajah (Proboscidea) yang telah dihancurkan oleh pemburu batu akik. Benar saja, di lapangan, kami mendapati 4 buah fragmen yang berhasil diselamatkan warga serta 6 fragmen tambahan yang bersifat insitu, serta pecahan bekas benturan benda keras buatan manusia.

Kebetulan sekali, pada saat turun dari bukit untuk kembali mencari singkapan batuan, Pak Dakri menemukan fragmen fosil yang kecil yang tersingkap sedikit ke permukaan. Setelah kami mencoba membukanya, kami mendapatkan sebuah fosil humerus Bovidae yang lengkap dengan tingkat fosilisasi yang sangat baik. Awalnya, karena kami hendak melanjutkan perjalanan untuk mencari singkapan, Pak Dakri sempat menawarkan untuk menitipkan fosil ini kepada warga atau menyembunyikannya sementara waktu di bawah pohon. Namun setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk membawanya langsung ke museum dan memberhentikan perjalanan kami hari itu agar fosil ini dapat terselamatkan dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

Fenomena batu akik mungkin membawa rejeki mendadak bagi beberapa pihak, namun apabila warga tidak mendapatkan informasi dan edukasi yang cukup, maka tentunya akan membawa dampak yang buruk bagi situs purbakala seperti Semedo ini. Berdasarkan laporan yang penulis baca dari berbagai media, ternyata sudah terjadi beberapa perusakan terhadap situs arkeologi di beberapa penjuru Indonesia, seperti di Curug Dago (Bandung, Jawa Barat) dan situs peninggalan purbalaka zaman batu di Papua. Alangkah baiknya apabila pihak situs dari manapun dapat melaporkan kepada pihak berwajib serta mampu bekerjasama dengan PPNS Purbakala untuk menangani permasalahan ini.

Pecahan fosil yang dilaporkan warga

Pecahan fosil yang dilaporkan warga

Pecahan fosil ulah pemburu batu akik

Pecahan fosil ulah pemburu batu akik

Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan

Pecahan fosil yang ditemukan insitu di lapangan

semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

semua fragmen gading Proboscidea yang berhasil dikumpulkan

Rencana Pengembangan Museum Situs Semedo

Pengembangan Situs Semedo agar dapat lebih bermanfaat serta menambah daya pikat masyarakat untuk mengenal dunia kepurbakalaan Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Berkat kegigihan dari berbagai pihak, kini Situs Semedo tengah berada dalam rencana pengembangan lanjut. Apabila tidak ada kendala, maka diperkirakan pembangunan Museum Semedo yang lebih layak akan mulai dijalankan pada tahun 2015 ini dan selesai pada akhir tahun 2016. Dengan melihat jumlah pengunjung sebanyak lebih kurang 50-an orang per hari, dengan dibangunnya Museum yang lebih megah tentu akan menambah daya tarik masyarakat dari berbagai kalangan. Desain masterplan, pembebasan lahan, serta hal-hal teknis dan administratif telah dipersiapkan secara matang. Pada saat penulis sedang berada di daerah penelitian, penulis sempat mengamati pihak-pihak yang bertugas dalam pembangunan mulai melakukan survei untuk memperlancar rencana pendirian museum.

Lahan sebesar dua hektar juga telah dipersiapkan. Apabila sesuai rencana, maka lahan seluas satu hektar akan digunakan sebagai lahan parkir, sementara satu hektar lain akan dibangun menjadi museum, dilengkapi dengan penginapan yang dikhususkan untuk peneliti dan mahasiswa yang ingin mendalami disiplin ilmu Kuarter daerah Semedo. Semua ini tidak terlepas dari perhatian dari berbagai pihak, terutama Bapak Dakri, yang selalu menekankan agar dibangunnya pondokan atau penginapan khusus peneliti agar lebih memperlancar studi disini. Selain bangunan inti, kondisi jalan yang rusak parah juga perlu dibenahi. Kabarnya, kini telah terjalin koordinasi dengan Departemen Pekerjaan Umum untuk menyelesaikan permasalahan jalan umum setelah museum selesai dibangun.

Pembangunan pun tidak lepas dari pro dan kontra yang datang dari masyarakat sekitar. Untuk itu, perlu dilakukan suatu tindak lanjut agar mampu berdampak positif terhadap masyarakat. Berbagai langkah pun sudah direncanakan dan dipersiapkan oleh Tanti Asih, putri Bapak Dakri, yang bertugas sebagai informan, guide, sekaligus pengembang Museum Semedo. Rencananya, penduduk di sekitar akan dilibatkan dalam kegiatan pengembangan jasa dari bidang usaha ekonomi kreatif dan ekonomi kecil-menengah. Salah satunya adalah dengan mendorong kreativitas masyarakat untuk mengembangkan masakan khas tradisional Semedo, kesenian wayang, souvenir, jasa transportasi, hingga wahana hiburan seperti taman bermain anak-anak. Harapannya, dengan dibangunnya Museum Semedo, tidak terbentuk kesenjangan sosial antara masyarakat dengan pihak museum, serta mampu mendorong masyarakat untuk mendapatkan penghasilan lebih.

Kondisi pondok informasi saat ini

Kondisi pondok informasi saat ini

Lestarikan Fosil, Lestarikan Situs Purbakala, Visit Museum!

Museum telah lama menjadi daya tarik bagi berbagai kalangan dari berbagai rentang usia pula. Museum dapat menjadi alternatif yang cukup menarik sebagai wahana hiburan sekaligus edukasi yang bernilai tinggi. Karena hanya di dalam museum lah, kita mampu belajar dari sejarah, mengambil kearifan dari masa lampau, serta mengamalkannya ke dalam kehidupan kini. Entah itu museum dengan latar belakang apapun, perlu kita lestarikan dan dijaga keutuhannya.

Sudah sepantasnya pihak-pihak pemerintah mencurahkan perhatian yang lebih, konsentrasi yang lebih terfokus, serta pengembangan yang lebih terarah agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para peneliti, masyarakat Indonesia secara umum, maupun wisatawan mancanegara. Lebih dari itu, peningkatan minat studi-edukasi melalu kunjungan ke museum juga harus terus menjadi gagasan rutin bagi pihak-pihak pelaksana pendidikan di Indonesia. Tak hanya pihak pemerintah, masyarakat secara umum juga sepatutnya mengambil peran dan tanggung jawab terhadap perkembangan dan kelestarian museum.

Melalui rencana pengembangan Museum Situs Semedo, penulis sangat mengharapkan timbulnya keinginan, keberanian, dan ketekunan dari generasi penerus selanjutnya untuk terus mengembangkan situs purbakala yang memiliki potensi luar biasa ini. Di samping itu, semoga kita juga mampu mendekatkan diri dengan fosil, temuan purbakala, serta sejarah agar dapat memahami arti penting kehidupan. Sudah sepantasnya dan sudah tiba waktunya bagi kita untuk menjaga pusaka peninggalan alam Indonesia, melalui pelestarian: baik itu pelestarian fosil, pelestarian situs purbakala, maupun pelestarian segala sesuatu yang mengandung nilai historis yang tinggi, karena pada dasarnya, ini adalah tanggung jawab kita semua!

Senin, 13 April 2015
dari saung Balai  Informasi Purbakala Situs Semedo,

S.

Catatan: Jalan menuju Situs Semedo:
Dari Kota Tegal (ke arah timur) atau Semarang-Pekalongan-Pemalang (ke arah barat), berhenti di pos polisi Pasar Suradadi, kemudian belok ke arah selatan, masuk ke Jalan Raya Suradadi (Kertasari), dan ikuti papan penunjuk arah ke Situs Semedo. Kondisi jalan raya untuk saat ini sangat rusak. Apabila pengunjung naik kendaraan umum dari Jalur Pantura, setelah berhenti di Pasar Suradadi, dapat dilanjutkan dengan jasa ojek.

Daftar Pustaka:

De Vos, J., Sartono, S., hardjasasmita, S., dan Sondaar P.Y. 1982. The Fauna from Trinil, Type Locality of Homo erectus, A Reinterpretation. Geologie & Mijnbouw 61: 207-211

Hertler, C dan Rizal, Y. 2005. Excursion Guide to Pleistocene Hominid Sites in Central and East Java. ITB-JGW University

Sondaar, P.Y. 1984. Faunal Evolution and The Mammalian Biostratigraphy of Java. Courier Forschungs Institut Senckenberg 69: 219-235

Widiyanto, H. 2011. Nafas Sangiran: Nafas Situs-Situs Hominid. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran

Widiyanta, W. 2014. Situs Sangiran-Situs Semedo: Perbandingan Potensi Kedua Situs Pleistosen di Jawa. Jurnal Sangiran No. 3

——————————————

Sukiato Khurniawan

Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknoloi Bandung (FITB-ITB). Saat ini tengah melakukan penelitian geologi dan paleontologi di Situs Semedo, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebagai salah satu syarat bagi kelulusan studi tingkat Sarjana (Strata 1). Penulis memilih mendalami paleontologi, khususnya paleontologi vertebrata dan paleoanthropologi sebagai spesialisasi dari disiplin ilmu kebumian. Penulis dapat dihubungi melalui surel sukiato.kho@students.itb.ac.id, atau akun FB: Sukiato Khurniawan

Catatan Perjalanan GX ke Gn. Ciremai

by: Selvia Novianty (Ketua GX)

UTS, Tugas besar, Praktikum Geostruk, Praktikum Getek…….

Penat berkepanjangan kali brur GEA di bulan Maret kemarin. Mengingat akan hal tersebut, dan keinginan beberapa massa GEA Mencetuskan untuk mendaki Gunung Ciremai sebagai pelampiasan penat kami. Get a life lah bruuurr!

explore

Setelah beberapa hari mengumpulkan pasukan, akhirnya terkumpulah 7 brur dan 5 bruri, pasukan anti wacana beranggotakan 12 orang: Epi, Randy, Cindy, M. Rizky, Febby, Sarah, Nanda, Revaz, Naufal, Ongga, Tito, dan Reni. Sebenernya ada 3 jalur untuk mencapai puncak: Palutungan, Apuy, Linggarjati. Untuk pendakian kali ini kami memilih Jalur Apuy

Jumat, 3 April 2015

[Bandung – Pos 1 Bumi Perkemahan Berod]

Pagi itu kami sepakat untuk kumpul di himpunan jam 11, lalu belanja persediaan sedikit sampai 2.45 baru pergi.

persiapan

Persiapan dari kampus

Kami ber-12 menuju lapangan Sipil karena mau naik angkot ke poolnya Elf yang menuju Cikijing, disana menunggu Cindytami yang telat (ehem) juga sampai, akhirnya kami menyarter angkot ke Pagarsih dengan biaya Rp.5000,00 per orangnya.

persiapan2

Jalan dari kampus

Angkot2

Ini di angkot padet juga Brur

Perjalanan dari sipil ke Pagarsih memakan waktu 20 menit, diturunkanlah kami ke poolnya. Terjadi sedikit miskom antara supir angkot dan tempat dimana kami diturunkan. Ternyata ada 2 pool elf, sebenernya kami harus naik elf dengan pool rukun wargi tapi kami diturunkan di poolnya buhe jaya, alhasil kami menunggu hampir 2 jam untuk naik elf ke Cikijing.

Perjalanan

Menunggu hujan reda

Perjalanan2

Yap, jam 5.26 akhirnya kami semua berangkat, dengan carrier basah kehujanan. Tujuan kami kali ini rute elf Bandung-Cikijing dari Jalan Pagarsih menuju Terminal Maja di Kab. Majalengka. Harganya Rp35.000 saja brur, tapi harusnya lebih murah, karena kita pake carrier dan cem anak kuliahan gitu jadi dimahalin, padahal bisa saja hanya Rp30.000.

Setelah melewati jalanan yang harusnya padat oleh kendaraan karena long weekend tapi ternyata kosong sampe elf bisa ngebut, akhirnya kami sampai di terminal Maja, sebuah kecamatan di Kabupaten Majalengka pukul 20.30. Disana kami langsung ditawari pick up dengan harga cukup mahal, dan akhirnya setelah ditawar kami merogoh kocek Rp 20.000,00 untuk sampe Pos 1.

Pickup2

Di atas pick-up

Karena pick upnya selip, kami diturunkan kira-kira 500 meter sebelum bumi Perkemahan Berod, akhirnya kami pun jalan. Waktu menunjukkan pukul 22.01 pada saat itu.

Pickup3

Malam nan dingin menyambut kami di perkemahan Berod, kami langsung mencari space yang agak luas untuk membuat tenda. Setelah itu kami mengurusi perizinan untuk retribusi dan asuransi sebesar Rp 33.000,00 tidak ada sesuatu yang perlu disiapkan lebih dulu, kita tinggal mengisi simaksi dan buku tamu yang sudah disediakan di sana dan simaksinya tidak boleh hilang untuk laporan kalau sudah turun nanti. Dan disini kita janjian dengan Ghalih GEA’11 sang warlok yang dengan baik hati meminjamkan kami tenda. Sayangnya tidak sempet foto-foto sama Ghalih.

Di buper berod fasilitasnya sudah cukup lengkap, ada mushola, toilet, sekitar 4 – 5 warung yang menjual mulai nasi ayam, indomie, kopi, minuman minuman dan segala kebutuhan perut.

Lalu kami mendirikan tenda, dibantu ghalih juga, dan memasak masakan ala italia pada saat itu :)

Masak

Setelah makan kami memutuskan untuk tidur, mengingat bahwa besok kami perlu tenaga untuk mendaki, dan waktu juga sudah sangat malam, pada saat itu waktu menunjukan pukul 01.00 pagi.

 

Sabtu, 4 April 2015

[Buper Berod – Blok Arban – Tegal Wasawa – Tegal Jamuju – Sanghyang Rangkah]

Masakpagi

Pendakian dimulai sekitar jam 08.15 menuju pos – pos berikutnya. Target kita hari ini adalah camp di pos 5, karena pos 6 terlalu jauh untuk dijangkau dalam 1 hari.

 

Pemanasan

Sebelum dimulai, kami melakukan pemanasan dulu

 

Setelah pemanasan, akhirnya kami berang berang keselek sikat.

persiapanmendaki

Dari Pos 1Berod menuju Pos 2 Arban jalanan masih tergolong datar, kita hanya jalan sekitar 30 menit untuk sampai pos 2.

pendakian

Pos 2

Pos 2

Setelah pos 2, kita akan mulai memasuki hutan tropis selayaknya gunung – gunung di pulau jawa. Dari pos 2 ke pos 3 ini jaraknya cukup jauh dan jalanan mulai menanjak. Diantara pos 2 dan 3 juga terdapat pos bayangan, mungkin karena jaraknya terlalu jauh. Dari pos 3 sudah mulai turun kabut.

pos4-5

Diantara pos 4 dan pos 5 kami seringkali kesusahan karena ada jalur yang amat licin dan susah untuk dipanjat. Kita harus merangkak bak laba – laba biar selamat, alhasil dikit – dikit maju kita mundur beberapa langkah -___-.

Dengan badan sedikit gemetaran karena dingin, saya dan teman – teman membuat tenda.  Sampai akhirnya hujan berhenti dan matahari muncul sedikit menghangatkan badan kami.

Tersangka jalur perosotan

Tersangka jalur “perosotan”

Malam kami habiskan waktu untuk makan lalu membereskan barang – barang dalam tenda agar posisi tidur kami nyaman dan enak buat istirahat karena kita akan berangkat besok jam 3 pagi untuk summit attack!

Minggu, 5 April 2014

[Sanghyang Rangkah – Goa Walet – Puncak Ciremai! – Pulang]

Rintikan air yang membasahi tenda kami, suara tiupan angin yang menembus pepohonan, hitam malam berubah menjadi biru tanda fajar sudah tiba. Kami semua terbangun dari mimpi dan bergegas menuju mushola untuk subuh. Dinginnya air membuat nyawa kami kembali seutuhnya dari alam mimpi. Dan kami siap menjalani pendakian hari ini

Udara dingin diluar membuat kami agak enggan untuk keluar tenda. Kami mempersiapkan bekal ke atas sambil mengunyah roti dan snack sisa semalam untuk sedikit tambahan energi di pagi hari. Kami berangkat dari pos 5 jam 03.30 dan memulai pendakian super menanjak menuju goa walet dan puncak. Summit attack ini kami jalani dengan santai karena banyak dari kami mulai kelelahan. Trek dari pos 5 sampe puncak sudah bukan hutan lagi, melainkan hanya semak belukar saja dan di sepanjang perjalanan pasti akan tercium bau belerang. Sayangnya, sunrise tidak kami dapatkan waktu di puncak, cahaya oranye terlihat di timur saat kami sudah berada di dekat persimpangan apuy-palutungan dan tertutup mendung. Cindy, naufal dan saya mengambil air di goa walet untuk persediaan di puncak. Jalanan berbatu mendominasi jalur dari goa walet sampai ke puncak.

Dan akhirnya kaki ini menapakkan dirinya di tanah tertinggi jawa barat sekitar jam 06.00!

Tiupan angin dengan bau belerangnya menyambar muka, pandangan langsung mengarah ke matahari yang baru saja bersinar pagi ini. Kawah yang masih diselimuti kabut terlihat bak sebuah mangkuk raksasa berisi asap. Gumpalan awan berlarian mengejar cahaya matahari, dan di belakang, tanah jawa barat terbentang luas. Saya melihat kembali samudera awan di sebelah kanan, dan di bibir kawah ini rasanya ingin berdiam diri sejenak hanya untuk menikmati rasa dari tanah tertinggi jawa barat ini, 3078 meter diatas permukaan laut walaupun tertutup cuaca mendung.

Puncak Puncak2 Puncak3 Puncak4

Setelah cukup lama kita foto – foto sambil menikmati keindahan puncak, akhirnya kami turun kembali menuju pos 5 dari jam 08.30 dan sampai di pos 5 pada pukul 08.15, lalu kami siap siap pulang dan akhirnya pada jam 11 kami langsung turun menuju buper berod.

Perjalanan turun sampai pos ke pos masih biasa saja karena turun jadi lumayan cepat. Semua jalur kembali menjadi licin dan kebanyakan dari kami terpaksa harus menyerodotkan badannya setiap menemukan turunan terjal dan hampir semua turunan disini terjal.. Akhirnya kami sampai di buper berod dengan keadaan kembali lusuh penuh lumpur dan tidak keren, dan sebagian dari kami langsung mandi, jam menunjukan pukul 13.24.

Dari buper berod kami menunggu pick up yang akan membawa kami menuju terminal maja sambil membeli mie di warung, dan mengembalikan tenda ghalih, akhinya kami turun di terminal maja.

Di terminal maja ini ada sedikit gangguan karena pada saat itu hari minggu, elf relatif penuh dan akhirnya kami terpaksa menaiki elf ke kadipaten dengan biaya Rp10.000 dan di Kadipaten kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki elf yang kami tawar hanya sampai Rp30.000 padahalnya bisa Rp25.000 namun karena kami terlihat “mahasiswa” jadi dimahalkan, akhirnya kami pulang dan perjalanan macet di Cadas Pangeran, Sarah turun duluan di Tanjungsari Sumedang. Sisanya langsung menuju Bandung, kebanyakan dari kami tertidur. Pada pukul 22.02 kami tiba di Terimnal Caheum, berkenalan dengan mahasiswa dari politeknik manufaktur, kami berpisah rombongan dan langsung menaiki angkot carteran dengan harga Rp4.000.00 untuk sampai di pintu SR.

Dan begitulah berjalanan asik kami,

sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

 

Beberapa Informasi Penting Pendakian Ciremai via Apuy

Gunung Ciremai terletak di tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu Kab. Cirebon, Kab. Majalengka, dan Kab. Kuningan. Memiliki ketinggian 3.078 mdpl merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat. Ciremai memiliki 3 jalur resmi yaitu Jalur Apuy yang terletak di Majalengka, Jalur Palutungan, dan Jalur Linggarjati yang terletak di Kuningan. Kini Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai.

A. Transportasi dari Bandung

Keberangkatan
Sipil-Pagarsih

Pagarsih – Term. MajaAngkot

Elf Bandung – CikijingRp5.000,00/orang

Rp 35.000,00/orangTerm. Maja – Pos 1 Buper BerodPick UpRp 20.000,00/orangKepulanganPos 1 Buper Berod – Term. Maja

Term. Maja KadipatenPick Up

Elf Maja-KadipatenRp 20.000,00/orang

Rp10.000.00/orangKadipaten – Term. Leuwi Panjang

AngkotElf Cikijing – Term. Caheum

Term. Caheum-SRRp 30.000,00/orang

Rp4.000,00/orang

B. Perizinan

Perizinan bisa dilakukan di Desa Apuy atau di Pos 1 Berod, biaya perizinan Rp 33.000,00 sudah termasuk retribusi dan asuransi . tidak perlu membawa persyaratan apapun, tinggal mengisi buku tamu dan simaksi yang sudah disediakan.

C. Lama Pendakian

DurasiLokasi
30 menitPos 1 Buper Berod – Pos 2 Blok Arban
2 jamPos 2 Blok Arban – Pos 3 Tegal Wasawa
1,5 JamPos 3 Tegal Wasawa – Pos 4 Tegal Jamuju
1 jamPos 4 Tegal Jamuju – Pos 5 Sanghyang Rangkah
1 jamPos 5 Sanghyang Rangkah – Pos 6 Goa Walet
45 menitPos 6 Goa Walet – Puncak Ciremai

GEA di Bulan Maret

Ketua BPA, Abdullah Azzam A. (12012058) mengesahkan BPH HMTG "GEA" ITB periode 2014/2015.

Ketua BPA, Abdullah Azzam A. (12012058) mengesahkan BPH HMTG “GEA” ITB periode 2014/2015.

Kepengurusan BPH HMTG “GEA” ITB periode 2014/2015 diawali dengan berakhirnya Rapat Anggota Musyawarah Kerja pada tanggal 7 Maret 2015. Syafiq Abdullah (12012017) mengetuai kepengurusan kali ini.

Rangkaian Acara PIT PERHIMAGI

Rangkaian Acara PIT PERHIMAGI

Pada awal bulan tepatnya tanggal 9 Maret 2015, Pekan Ilmiah Tahunan PERHIMAGI (PIT PERHIMAGI) berlangsung di Parapat, Sumatera Utara. GEA sebagi anggota PERHIMAGI turut mengirim perwakilannya yaitu Rizky Kurniawan (1201070) dan Vani Novita A. (1201052). Hasil dari PIT Perhimagi ini juga dijabarkan ke Massa GEA melalui GIM (GEA Informal Meeting) yang diadakan di ruang himpunan.

Salah satu pembicara, Merza Media (2007) menyampaikan presentasi tentang Open Hole Drilling

Salah satu pembicara, Merza Media (2007) menyampaikan presentasi tentang Open Hole Drilling

Tiga alumni GEA angkatan 2007, yaitu Fadli Syafitra, Dani Auliansyah, dan Merza Media menjadi tamu Kopi Sore yang diadakan Departemen Hubungan Alumni pada tanggal 14 Maret 2015. Kopi Sore diadakan di Ruang Hilmi Panigoro dihadiri oleh 47 orang. Fadli, Dani, dan Merza memaparkan presentasi seputar eksplorasi migas (khususnya Open Hole dan Close Hole Drilling) dari pukul 16.30-18.45 WIB.

GEA pada GEA-Nite

GEA pada GEA-Nite

21-22 Maret 2015, sekitar 50 orang GEA berangkat pada malam minggu (20.00 WIB) untuk menghadiri GEA Nite yang merupakan salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan IAGL di Epicentrum, Jakarta. Acara berlangsung ramai dan memberikan kesempatan bagi massa GEA bertemu dengan alumni GEA, pada acara tersebut GEA juga membawakan lagu-lagu Musang. Rangkaian acara dilanjutkan keesokan harinya dengan pertandingan sepak bola antara GFC (Gea Football Club) dengan IAGL FC. Rombongan GEA kembali ke Bandung pada Minggu Sore (15.00 WIB).

Ketua Kabinet KM-ITB periode 2014/2015, M. Jeffry Giranza (12010069) mengakhiri kepengurusannya dengan LPJ Kabinet KM-ITB tanggal 24 Maret lalu. LPJ ini mengundang segenap massa kampus ITB. Jeffry juga pernah menjabat sebagai Koordinator Regional Perhimagi Jabar, dan Kahim GEA periode 2012/2013. Saat ini PJS K3M ITB dipegang oleh Suka Pradita (Teknik Material ’11).

11681_10154204189291959_3629747467620559113_n

Wisudawan/wisudawati GEA Maret 2015https://gea.itb.ac.id/wp-admin/post.php?post=1206&action=edit&message=10

10653321_813341612048043_8531468950002989964_n

M. Jeffry Giranza memberikan orasi pada arak-arakan Wisuda Maret

Tanggal 27-28 Maret 2015 merupakan hari berbahagia untuk GEA dan segenap civitas akademika Teknik Geologi ITB. GEA melepas sebanyak 51 orang yang terdiri dari angkatan 2009 dan 2010 pada gelombang wisuda kali ini. Rangkaian Syukuran Wisuda dimulai pada tanggal 27 Maret pukul 13.00 WIB, dilaksanakan Acara Prodi yang mengundang segenap dosen dan orang tua wisudawan beserta wisudawan untuk membina silatruahim, acara prodi berakhir pada 17.00. Pukul 19.00 dilaksanakan Wisnite bagi massa GEA dan wisudawan GEA, acara ini dimeriahkan oleh penampilan dari wisudawan maupun massa GEA dan penayangan berbagai video berisi pesan/kenangan untuk wisudawan. Tanggal 28 Maret 2015 merupakan pelaksanaan Sidang Sarjana di Sabuga untuk meresmikan kelulusan wisudawan ITB. Selesainya Sidang Sarjana, wisudawan GEA diarak mengitari kampus, sayangnya arak-arakan dipotong akibat hujan deras. Massa GEA dan wisudawan langsung menuju basement Gedung Energi untuk melakukan prosesi Penciuman Bendera sebagai simbolisasi ‘lepas’nya keanggotaan GEA para wisudawan. Rangkaian Syukwis yang diketuai oleh Kausar Meloza berlangsung lancar dan mendapatkan pesan kesan baik dari wisudawan.

geajuaraigc

Perwakilan GEA untuk International Geomapping Competition yang terdiri dari Nabilah Adani (12011069), M. Reza Ramdhan (12011040), dan Faisal Siddiq (12011032) membawa pulang predikat “Best Poster” pada kompetisi yang dilaksanakan UGM tersebut. Kompetisi diselenggarakan 23-28 Maret 2015. Kabar baik lainnya datang dari Senator GEA, Reza Riezqi Ramadhan (12012023), yang terpilh menjadi Ketua Kongres KM-ITB tanggal 31 Maret lalu.

Coming Soon in April:

*Waktu/tanggal/tempat dapat berubah

3-5 April: Ge-Ex ke Gunung Ciremai

11-12 April: IMPK (Ilmu Medan, Peta, dan Kompas)
Merupakan sebuah wadah untuk GEA agar belajar lebih banyak mengenai lapangan mengingat pentingnya lapangan untuk geologi :)

29-30 April: Home Tournament Dies Natalis GEA