Kebanggaan dan Tantangan, Geologist dan Iklim Tropis

Categories Kegiatan, Keprofesian

Setiap saat kutemui, batuan mineral juga gunung api, alam selalu menemani, kujalani dengan senang hati, batu sedimen metamorfosa, piroklastik juga kadang kutemui, strukturnya kuamati, dan tak lupa kucatat kembali

ini lah duniaku, seorang geologist, mengerti akan isi bumi ini, lapangan singkapan kan selalu menanti, tak ada yang bisa mengganti semua, rasa cinta ku pada geologi” – Sang Geologist, Musang.

Indonesia dengan busur kepulauannya, dengan rangkaian gunungapinya, dengan lingkungan tektoniknya, serta dengan iklim tropisnya. Bagi seorang geologist, iklim tropis berpengaruh sangat signifikan terhadap geomorfologi terutama berhubungan dengan pelapukan. Pada daerah beriklim tropis, dominasi pelapukan disebabkan oleh vegetasi yang sangat rapat, berbeda dengan daerah subtropis dengan pelapukan mekanisnya. Dan hal ini menyebabkan pelapukan yang terjadi sangat signifikan.

Indonesia memiliki lingkungan geologi yang memungkinkan terbentuknya banyak morfologi-morfologi geologi yang unik dan banyaknya tubuh batuan yang tersingkap ke permukaan. Akan tetapi iklim tropis yang dimiliki oleh Indonesia menjadi hal yang “merusak” morfologi yang seharusnya terbentuk. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, iklim tropis dengan pelapukan organiknya menyebabkan pelapukan yang terjadi sangat signifikan. Akibatnya morfologi-morfologi yang terbentuk di Indonesia juga akan sangat mudah lapuk dikarenakan iklim yang dimiliki oleh Indonesia. Selain itu, curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi proses erosi yang terjadi pada daerah beriklim tropis. Curah hujan yang tinggi mempercepat erosi yang terjadi pada batuan.

Hal inilah yang dirasakan oleh geologist yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Memang banyak sekali morfologi yang terbentuk akibat uniknya lokasi yang dimiliki Indonesia. Akan tetapi lokasi yang unik dengan iklim tropisnya ini memiliki kecepatan yang cukup tinggi untuk melapukkan ataupun mengerosi bentukan-bentukan yang ada di Indonesia. Bagi seorang Geologist, hal seperti ini bisa menjadi dua mata pisau yang tajam. Hal ini merupakan Kebanggan sekaligus Tantangan disaat yang sama.

Kebanggaan bagi seorang Geologist yang dengan kemampuannya menginterpretasikan dengan baik. Interpretasi yang dilakukan berasal dari data-data yang dikumpulkan dari lapangan dengan kondisi yang tidak ideal. Singkapan yang telah lapuk menjadi soil ataupun yang terkubur soil merupakan salah satu contohnya. Bagi Geologist di luar daerah iklim, akan sulit untuk mendapatkan kesimpulan dari data-data yang tidak ideal ini. Akan tetapi bagi Geologist yang telah terbiasa berada di lapangan dengan kondisi ini, bukan merupakan hal yang baru lagi.

Data-data yang sangat minim ini adalah tantangan yang harus diambil oleh Geologist. Lokasi yang tertutup vegetasi atau singkapan yang telah lapuk ataupun terkubur merupakan kendala utama yang harus dijalani dalam mengumpulkan data-data dari lapangan. Data-data ini, bagaimanapun keadaannya harus dapat diubah menjadi informasi geologi yang akurat.

Iklim tropis, bukanlah hal yang menghalangi semangat Mahasiswa Teknik Geologi HMTG “GEA” ITB untukbelajargeologikelapangan. Sungai CiParang sepanjang ± 2 Km dari selatan ke utara dan  mata air yang bersumber dari Barat Pasir Krikil yang meiliki Ketinggian 523 dpl menjadi saksi bisu kegiatanini. Berdasarkan  Peta Geologi Daerah Gunung Masigit, Cipatat, Padalarang, Jawa Barat oleh Wendy Kurniawan GEA 2003 di sungai Ciparang terdapat tersingkap Formasi Citarum, Formasi Saguling Tuff-Lapili Pleistosen. Kami mencoba menginterpretasikan pola-pola peta kontur, pola-pola aliran sungai secara umum, struktur, dan kedudukan lapisan dengan analisa Geomorfologi.

Kegiatan dilakukan pada tanggal 19 April 2014 dan berlangsung selama enam jam. Kegiatan diawali dengan menyusuri sekitar dua km untuk menemukan singkapan di sepanjang Ciparang, dari hilir ke hulu, dari 420 dpl berharap singkapan dari beberapa formasi yaitu batu piroklastik : Tuff-Lapili, Batulempung, Batupasir,Breksi, dan Batupasir. Akan tetapi tidak seperti rencana persiapkan, kondisi alam tidak dapat diprediski. Banyak ditemukan tebing-tebing yang longsor, lintasan lapangan tertutup, bahkan beberapa singkapan tertimbung oleh longsoran-longsoran kecil, dan hanya beberapa singkapan yang baik di amati di sungai CiParang. Itupun dalam kondisi Lapuk. Akhirnya deskripsi tanah adalah solusi alternatif.

Seperti lirik lagu Musang (Musik Santai GEA) berjudul Sang Geologist, “Tak ada yang bisa mengganti semua rasa cintaku pada Geologi”, iklim tropis bukan kendala untuk tetap belajar geologi. Dengan menjawab tantangan yang diberikan dan menjadikannya sebagai kebanggaan tersendiri bagi seorang geologist di daerah tropis. Kebanggaan untuk mendeskripsikan alam Indonesia ini dengan lebih baik lagi, untuk kemajuan Nusa, Bangsa, dan Tanah air tercinta.

Faisal Siddiq

12011032

Departemen Lapangan, Divisi Keprofesian

HMTG “GEA” ITB

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *