Cerita tentang Kuliah S2 di Norwegia

Categories Alumni's Corner

Halo manda! Bagaimana pengalaman kamu mencari program S2 di luar negeri? Apa aja yang perlu disiapkan sampai akhirnya kamu mendapatkan program S2 di luar negeri ?

Halo! Awalnya saya mencari informasi mengenai program S2 ketika saya masih TA. Saat itu merupakan momen yang membuat saya merasa sangat bosan. Oleh karena itu saya mencari informasi program S2, lowongan perkejaan, dll. Dan ternyata saya mjendapatkan informasi bahwa ada program S2 di Norwegia yang sama sekali tidak berbayar. Setelah mendapat informasi tersebut saya mencoba menghubungi alumni-alumni ITB yang sedang kuliah di sana.

Pendaftaran S2 di Norway relatif mudah, hanya dengan web universitas dan ikuti prosedur yang ada disana. Pada kisaran bulan November-Desember itu saya memasukkan online application. Pengumuman penerimaannya kurang lebih sebulan setelah pendaftaran, setelah itu diminta untuk mengirimkan berkas-berkas yang menjadi syarat pendaftaran.

Berkas yang perlu disiapkan antara lain, IELTS, motivation letter, surat rekomendasi, CV, dan berhubung saya tidak mengambil program beasiswa, saya harus mengirim sejumlah uang sebagai jaminan bahwa saya dapat membiayai hidup saya sendiri. Sebenarnya uang itu akan kembali lagi ke kita seutuhnya, dan tidak semuanya terpakai, uang itu hanya sebagai jaminan saja untuk pihak Norwegia bahwa kita tidak akan menyusahkan pihak negara ketika sudah sampai di sana.

Pengumuman penerimaan saya, saya terima ketika saya telah bekerja di salah satu perusahaan migas di Jakarta. Sempat bingung juga, tapi setelah saya berdiskusi dengan senior di kantor dan beberapa orang lain, mereka menganjurkan saya untuk mengambil program ini.

Selain saran dari senior, apa sih yang membuat kamu yakin untuk ambil S2 di Norwegia, padahal kamu sudah mendapatkan pekerjaan dan penghasilan sendiri, kenapa kamu mau bersusah payah sekolah lagi?

Wah kenapa ya, saya bingung juga sebenarnya. Tapi yang pasti saya tidak menyesal sama sekali mengambil program ini, karena sejujurnya waktu kuliah dulu saya tipe orang yang lebih santai dan let it flow aja. Dan daftar sekolah ini juga iseng setelah mendaftar kerja.

Yang membuat saya ingin mengambil program S2 adalah karena saya diyakinkan oleh banyak orang, mereka menekankan kepada saya untuk sekolah lagi mumpung masih muda, belum menikah, dan untuk menambah pengalaman.

Di Indonesia ini banyak kampus yang punya jurusan geologi, dan sekian banyak lulusan geologi juga menambah persaingan juga bagi para lulusan baru, jadi sepertinya mengambil program S2 juga bisa menambah kualifikasi kita dibanding yang lain.

Selain itu yang didapat itu bukan hanya ilmu. Tapi pengalaman hidup yang tidak bisa dibeli. Kamu akan berhadapan dengan lingkungan baru, orang-orang baru, budaya baru dan hidup sendirian tanpa ada keluarga dekat di negeri orang. Itu yang akan membuat kamu semakin kaya akan pengalaman hidup yang benar-benar tidak dapat dibeli.

Oh ya, kenapa kamu tidak mendaftar program beasiswa? Apa yang membuat kamu yakin berangkat ke sana tanpa program beasiswa?

Sebenarnya dulu saya sempat meminta beasiswa dari kantor tempat saya bekerja. Tapi tidak diterima mungkin karena saya baru bekerja selama 2 bulan. Dulu juga belom ada semacam LPDP,  intinya sebenarnya karena memang saya tidak punya kesempatan mendapat beasiswa saja.

Yang meyakinkan saya?  Cuma modal niat baik, mau kerja keras, dan nekat. Juga yang paling penting doa untuk dimudahkan saat disana nantinya.

Sampai akhirnya kamu sampai disana, bagaimana perjuangan kamu hidup disana?

Pertama, pasti saya membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Saya mencoba melamar menjadi asisten dosen. Saya ketok satu persatu pintu dosen, awalnya belum ada yang mau menerima saya. Dosen disana belum pada mengenal saya kan. Hampir saya bekerja di minimarket atas bantuan teman saya. Tapi alhamdulillah, kemudian ada dosen yang tiba-tiba menghubungi kelas saya menawarkan perkerjaan sebagai asisten. Jadilah saya ngelamar dan selama 2 tahun saya bekerja sebagai asisten dosen. Gaji sebagai asisten dosen itu cukup untuk hidup sebulan. Pekerjaannya juga tidak begitu ribet, seperti mengajar praktikum dan mengurus database project . Pernah juga saya selama satu bulan hanya diminta untuk download paper dan merapikan foder saja.

Selain itu saya juga pernah internship di perusahaan ketika summer holiday. Intership selama 2 bulan itu gajinya bisa mencukupi hidup saya selama 6 bulan.

Enaknya lagi, intership disana sistemnya open recruitment, terbuka untuk semuanya. Bahkan ada beberapa perusahaan yang dateng ke kampus untuk mencari interns.

Oh ya apa perbedaan  kuliah disana dengan di sini? Kesulitan apa saja yang kamu alami di Norwegia ?

Hmm tiap kampus di Norway memiliki kekuatannya masing-masing dan menurut saya, kampus saya kuat di kemampuan aplikatifnya. Jadi, dosen in house hanya 7-8 orang, sisanya praktisi dari perusahaan perusahaan yang mengajar juga di sini.

Masalah fasilitasnya, jauh lebih bagus. Sebagai contoh, Workstation disana ada banyak (mungkin kurang lebih 40an) sedangkan mahasiswa Master satu angkatan hanya 12 saja . License software juga banyak, jadi kamu akan memiliki segala hal yang kamu butuhkan untuk berkembang. Kuliahnya juga jauh lebih aplikatif. Dulu saya hanya 1 semester belajar teori, sisanya aplikatif atau datang ke lapangan untuk melihat contoh nyata. Contohnya juga, tugas kuliah biasanya tugas semacam project, kita diberikan dataset dari daerah tertentu, kita diminta interpretasi dan menghasilkan pemikiran tentang geologi daerah tersebut. Jadi perbedaan mendasarnya mungkin tentang banyaknya kuliah yang lebih aplikatif sesuai dengan apa yang dibutuhkan industri.

Kalau bicara kesulitan tentu ada juga, berhubung bahasa inggris saya juga tidak begitu bagus, jadi waktu menulis thesis itu yang paling susah. Kendala bahasa itu yang membuat saya merasa kesusahaan menulis thesis.

Dan setelah kamu menyelesaikan S2 disana, apa rencana kamu selanjutnya? Mau lanjutkan S3 atau bekerja saja ?

Saya sempat diberi tawaran S3 oleh dosen saya. Tapi saya lebih memilih untuk bekerja dulu. Saya lebih ingin merasakan bagimana bekerja itu. Dan Alhamdulillah saya juga diterima bekerja di sana.

Apakah peluang untuk bekerja disana besar? Apa ada hubungannya kamu pernah internship disana ?

Mendapatkan pekerjaan disana itu sebenarnya tidak ada kaitan langsung dengan internship, karena itu prosesnya bener sangat terbuka dan open recruitment. Hampir mirip dengan  job recruitment di Indonesia. Prosesnya normal banget. Tapi saat kamu mendapat internship, itu memang jadi pembuka kesempatan untuk mendapat pekerjaan, karena mendapatkan internship-nya juga tidak mudah dan kalau kita juga perform ketika internship mungkin menjadi kesan yang baik bagi perusahaan, jadi mereka berminat untuk meng-hire si intern nya.

Kerja disana untuk orang asing memang cenderung lebih susah tapi kesempatan itu tetap ada dan cukup besar.

Yang terakhir adakah pesan untuk junior-junior GEA ini?

Jangan pernah terlena dengan nama besar, karena saat kita terlena, orang di luar sana sudah berlari mengejar mimpi-mimpi mereka.

 

Rizky Amanda

GEA 2007

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB

1 thought on “Cerita tentang Kuliah S2 di Norwegia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *