Geohumanism merupakan salah satu kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Geologi ITB, dibawah naungan HMTG “GEA” ITB. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak di luar HMTG “GEA” ITB, seperti Himpunan lain di dalam ITB, Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Dosen terkait dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Fokus utama dari Geohumanism adalah aplikasi keilmuan geologi dalam menemukan solusi dari permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Sejarah Geohumanism bermula dari kegiatan berjudul Water Expo yang dilaksanakan pada tahun 2004. Ketua acara Water Expo adalah Mauliate Agustinus GL’02. Merasa pengetahuan masyarakat mengenai Undang-undang Sumber Daya Air yang baru disahkan kala itu. Acara yang dilaksanakan berupa seminar, pameran, dan lomba karya tulis bertemakan pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan Undang-undang Sumber Daya Air kepada mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Tajuk Geohumanism ini mulai digunakan pada tahun 2006 dengan Eros Sydney GL’06 sebagai pencetusnya. Geohumanism pertama juga berfokus pada sumber daya air dengan lokasi di Lembang, Jawa Barat.

Mulai pada tahun 2007, Geohumanism berfokus pada masalah pencarian air bersih di Desa Gunung Masigit, Padalarang. Tahun 2007 merupakan tahun awal program Geohumanism di Desa Gunung Masigit, Padalarang dan diketuai oleh Dhani GL’06 yang kemudian dilanjutkan oleh Wildan GL’07. Kegiatan yang dilakukan antara lain berupa survei dan pengolahan data yang dilakukan oleh anggota GEA. Geohumanism Desa Gunung Masigit ini berlangsung selama tiga tahun, sampai tada tahun 2009 yang merupakan tahun eksekusi dari program Geohumanism yang telah berjalan dua tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, Geohumanism diketuai oleh Aliftama GL’08 dan pada tahun 2009 diketuai oleh Edwin Yudha Nugraha, GL’09.

Pada Geohumanism Desa Gunung Masigit, Padalarang, GEA tidak bekerja sendiri. GEA bekerja sama dengan HImpunan Mahasiswa Kimia ‘AMISCA’ dan Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ITB. Selama tiga tahun, dari 2007-2009, ketiga himpunan bekerja sama dalam menemukan solusi masalah pemenuhan air bersih di Desa Gunung Masigit. Solusi yang diberikan merupakan kolaborasi dari ketiga keilmuwan yang dibawa oleh himpunan masing-masing.

Setelah eksekusi yang dilakukan pada tahun 2009, pada tahun 2010 Geohumanism mencari fokus baru untuk tetap memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi di masyarakat dari sudut pandang geologi. Kemudian ditetapkan bahwa Geohumanism 2010 berfokus pada masalah banjir Bandung Selatan yang terus meresahkan masyarakat Bandung. Untuk menemukan solusi terbaik dalam permasalahan banjir Bandung Selatan, Geohumanism 2010 yang diketuai oleh Ken Prabowo, berfokus pada pemetaan sosial yang dilakukan pada Desa Tarumajaya, Situ Cisanti. Tarumajaya merupakan hulu dari Citarum, sedang pada Situ Cisanti terdapat mata air yang merupakan titik nol dari Citarum.

Permasalahan yang ditemukan pada Tarumajaya sangat komplek. Dari masalah ekonomi dan sosial. Mengenai hubungannya dengan banjir Bandung Selatan adalah masalah pembuangan limbah ternak sapid an limbah rumah tangga ke Citarum. Selain itu masalah alih guna lahan merupakan salah satu hal yang sangat sulit lepas dari Tarumajaya dan banjir Bandung Selatan. Dari hasil pemetaan yang dilakukan, didapatkan lima potensi solusi di Tarumajaya. Kelima potensi tersebut adalah Biogas, Pupuk Vermikompos, Pemetaan Kualitas Air, Pemetaan Daerah Rawan Longsor, dan Desa Wisata.

Geohumanism Citarum terus dilaksanakan sampai pada kepengurusan 2011. Tahun 2011, Geohumanism Citarum, diketuai oleh Lucy Kartikasari, GL’11 menitik beratkan pada sosialisasi mengenai “Awareness and Understanding” dari masyarakat Tarumajaya mengenai penggunaan biogas dan pembuatan pupuk vermikompos sebagai salah satu solusi dari masalah limbah ternak sapi. Pada keberjalannya, Geohumanism 2011 bekerja sama dengan 13 himpunan mahasiswa di ITB. Himpunan-himpunan tersebut antara lain HMK “Amisca”, HMTL, IMG, IMA-G, HMP, HMFT, HIMATEK, KMSR, KMSBM, MTI, Himabio “Nymphaea”, Himamikro “Archaea”, dan HMRH ITB. Selain itu Geihumanism 2011 juga bekerja sama dengan Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB.

Geohumanism 2011 memiliki 4 acara yang merupakan satu rangkaian kegiatan dalam satu periode kepengurusan. Keempat acara tersebut adalah Survei Akbar, Live-in, Whorkshop, dan Pameran Kegiatan yang akan dilaksanakan bersama dengan Pameran International Geology Student Festival pada 28 November 2011. Sampai saat ini kegiatan yang telah dilakukan adalah Survei Akbar dan Live-in Geohumanism. Live-in yang dilakukan pada tanggal 27-30 Maret 2014 lalu, bertujuan untuk mengumpulkan data fisik air dan longsir serta data sosial dari masyarakat Tarumajaya. Live-in ini diikuti oleh 93 mahasiswa ITb yang terdiri dari 26 mahasiswa himpunan lain dan 67 anggota GEA.

Selanjutnya, Geohumanism berkerja sama dengan Keluarga Mahasiswa Seni Rupa ITB mengajukan Geohumanism ke Program Hibah Bina Desa DIKTI. PHBD (Program Hibah Bina Desa) DIKTI merupakan lomba kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh DIKTI. Proposal-proposal yang dinyatakan layak akan dibiayai dan melakukan kegiatan bersama DIKTI. Fokus Geohumanism untuk PHBD ini adalah pengembangan potensi wisata air pada Situ Cisanti. Program yang dijalankan berupa inisisasi Tarumajaya sebagai desa wisaya yang berbasis masyarakat dengan mengedapankan konsep ramah lingkungan.

Kegiatan untam aadalah pembangunan infrastruktur penunjang desa wisata berupa warung, saung, sygn system, wahana air, etalase edukasi dan fasilitas public berupa tempat sampah dan tempat duduk. Etalase edukasi berisikan informasi-informasi mengenai Cisanti, Tarumajaya, Geohumanism serta materi mitigasi bencana longsor. Materi-materi ini disusun oleh HMTG “GEA” ITB untuk memberikan informasi kepada warga desa Tarumajaya mengenai potensi dan hambatan yang dimiliki oleh desa dalam pengembangannya sebagai desa wisata. Program yang dijalankan mendapatkan respon yang positif dari warga desa Tarumajaya. Oleh karena itu, partisipasi aktif dari warga desa diharapkan dapat memberikan harapan agar kegiatan yang diinisiasi ini menjadi kegiatan yang berkelanjutan sehingga mampu memberikan manfaat dan solusi kepada Trumajaya dan Citarum di masa yang akan datang.

Geohumanism yang diprakarsai oleh HMTG “GEA” ITB telah dikenal oleh khalayak ITB sebagai kegiatan yang sangat positif dan konkrit. Dengan berfokus pada penyelasaian masalah berdasarkan keilmuwan geologi dan dengan berkolaborasi dengan berbagai himpunan lain yang memiliki latar belakang keilmuan dan budaya yang berbeda untuk menemukan solusi terbaik dari permasalahan tersebut. Untuk itu, mari jadikan Geohumanism milik bersama dan bersama-sama pula menyukseskan Geohumanism dengan partisipasi aktif dalam berbagai rangkaian acaranya.

Tidak Ada yang Mustahil,

Hilangkan Arogansi,

Satukan Persepsi,

Jangan Cuma Berbunyi,

Mari Kita Beraksi,

Geohumanism, We Care for Society!Screen Shot 2014-04-17 at 3.37.46 PM

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *