Ijen, Sunrise of Java

Categories Artikel, GEA Explorer, Keprofesian

Oleh Alfan El-Farissi  (12010109)

Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di wilayah paling ujung timur Pulau Jawa dan menjadi kabupaten di Pulau Jawa yang paling luas wilayahnya, masyarakat Indonesia mungkin lebih mengenal Ketapang yang merupakan pelabuhan penghubung Pulau Jawa dengan Pulau Bali dibandingkan Kabupaten Banyuwangi sendiri. Padahal, di wilayah yang dikenal sebagai wilayah tapal kuda ini terdapat salah satu objek wisata geologi yang mempesona, yaitu Kawah Ijen. Kawah Ijen termasuk diantara diamond triangle yang diunggulkan pemerintah sebagai potensi wisata andalan, dua yang lainnya adalah G-Land atau Pantai Plengkung dan Taman Nasional Meru Betiri.

 Kawah ijen terbentuk akibat letusan Gunung Api besar selama tiga periode yang diperkirakan mulai berlangsung sejak 3500 tahun yang lalu, letusan ini menciptakan lubang besar dengan ukuran 19 x 21 km2 di dasar dan 22 x 25 km2 di bagian atasnya yang kemudian dikenal dengan Kaldera Ijen.  di tengah kaldera terbentuk sebuah danau yang merupakan pusat aktivitas vulkanik dengan ukuran 160 x 1160 m2 dan 960 x 600 m2 di bagian bawahnya.

Aktivitas vulkanik yang membentuk gunung api besar (old ijen) dengan ketinggian diperkirakan mencapai 3500 meter terjadi sekitar 300.000 tahun yang lalu. Endapan lava dan piroklastik sebagai hasil dari aktivitas gunung api ini ditemukan secara tidak selaras berada di atas batu gamping miosen.  Di sebelah utara pegunungan ini banyak ditemukan endapan piroklastik aliran dengan ketebalan 100 – 150 m, berdasarkan dating K-Ar, endapan ini berumur sekitar 50.000 tahun yang lalu yang diperkirakan sebagai satuan tertua yang terbentuk sebelum terbentuknya kaldera di kawasan ini. Setelah letusan besar yang memecah belah gunung api besar ini menjadi Gunung Raung dan Pegunungan Ijen, kaldera mulai terbentuk di wilayah Pegunungan Ijen. Aktivitas vulkanik dari gunung api “baru” ini membentuk endapan scoria, aliran lava, endapan pyroclastic flow dan surge, serta material debris avalanche yang terdapat di sekeliling kaldera. Lava yang dihasilkan dari wilayah ini mempunyai variasi kandungan SiO­2 mulai dari basalt sampai dasit. Fenokris yang umum dijumpai pada batuan beku yang ditemukan adalah plagioklas, orthopiroksen, klinopiroksen, dan oksida besi, sementara olivine dapat ditemukan di batuan beku mafik dari masa post-caldera, dan biotit hanya ditemukan di kubah lava Glaman.

Gunung Ijen sendiri termasuk salah satu gunung api aktif, namun bukan aktivitas gunung api ini yang menjadi sumber masalah bagi warga sekitar. Air dari danau Kawah Ijen mempunyai tingkat keasaman (pH) mulai dari tak terhingga sampai 0.8 dan ditengarai merupakan yang paling asam di dunia. Air kawah ini akan menerobos melalui rekahan – rekahan di sekelilingnya untuk mengalir menuju sungai yang berada di sekitar wilayah ini, yang kemudian mengalir menuju ke pemukiman penduduk, yang nantinya akan dimanfaat penduduk untuk kegiatan sehari – hari. Akibatnya terjadi pencemaran lingkungan yang mengakibatkan kulit gatal, korosif pada gigi, tanaman rusak, dan sifat korosif pada komponen pabrik.

Gunung api Ijen tidak hanya membawa dampak negatif bagi warga sekitarnya, tapi juga member manfaat bagi warga sekitar. Gunung Ijen merupakan penghasil belerang murni terbesar di Indonesia. Sedikitnya, 14 ton per hari dapat ditambang oleh para penambang tradisional, sementara secara cadangan jumlah belerang yang ditambang hanya 20 persen dari total yang disediakan oleh alam, hal ini dikarenakan medan yang sulit serta teknologi yang digunakan masih sangat sederhana. Penambang Ijen disini hanya memanfaatkan sifat fisik dari suatu benda yang dapat mencair dan membeku. Solfatara yang keluar dari dalam perut kawah ijen dialirkan ke pipa pipa untuk diubah menjadi cairan yang kemudian dialirkan ke suatu tempat, sehingga cairan yang mengandung banyak belerang murni ini akan langsung membeku menjadi endapan belerang yang siap dipanen oleh para penambang tradisional.

Setiap harinya, dimana pada dini hari akan muncul api biru di dinding – dinding tempat penambangan yang konon hanya ada dua di dunia, satu di ijen dan satu lagi berada di Islandia. Api biru ini bisa dinikmati pada saat dini hari, sekitar pukul 01.00 sampai 04.00. Pendaki biasanya mulai naik dari pos paltuding dari jam 23.00 menempuh perjalanan sejauh 3 km dengan kemiringan lereng rata – rata yang mencapai 45o, setelah menikmati api biru, pendaki akan langsung menunggu matahari terbit dari tepi kawah.

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *