Migas Tetap Masa Depan Energi Indonesia?

Categories Artikel, Keprofesian

Oleh Edsel Ivander Hang

 

Tidak dapat dipungkiri seiring berjalannya waktu kebutuhan manusia akan energi semakin bertambah sedangkan pasokan sumber energi itu sendiri semakin mengalami penurunan. Menurut data statistik konsumsi energi primer bangsa Indonesia saat ini 30 persen didominasi oleh minyak sedangkan produksi minyak di Indonesia terus menurun dari yang semula 1.6 juta barel per hari menjadi 861.000 barel per hari pada tahun 2012. Hal ini  menjadikan Indonesia sebagai negara net importir minyak dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penurunan tingkat cadangan minyak tercepat di Asia. Seperti yang kita ketahui Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, seharusnya menurunnya produksi minyak tidak terlalu menjadi masalah karena masih banyak sumber energi alternatif yang bisa digunakan oleh bangsa Indonesia, seperti energi panas bumi, gelombang air laut, angin, nuklir, biomassa, dll. Beberapa tahun ke belakang sampai saat ini menunjukkan adanya investor-investor yang juga tertarik menanamkan modalnya untuk pengembangan energi alternatif panas bumi seperti di wilayah gunung salak, wayang windu, dll. Akan tetapi perlu kita akui bahwa produksi berbagai macam energi alternatif tersebut belum bisa memberikan sumbangan yang cukup untuk kebutuhan energi nasional. Beberapa energi alternatif malah belum bisa direalisasikan sama sekali dan bertahun-tahun hanya ada di dalam angan-angan dan perbincangan semata saja. Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor seperti masih kurangnya teknologi yang memadai, biaya riset yang tidak sedikit, lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan, dll. Faktor-faktor tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia masih meletakkan minyak sebagai prioritas utama penyumbang dan penyelamat kebutuhan energi Indonesia meskipun solusi konkret tentang fakta penurunan produksi minyak di Indonesia belum ditemukan. Di tengah-tengah kegelisahan dunia mengenai isu kepunahan energi fosil ini,  muncul berita gembira dari Amerika serikat tentang adanya penemuan cadangan migas non konvensional dalam jumlah besar yang menyebabkan mereka bisa melakukan ekspor migas besar-besaran dari yang semula menetapkan cadangan migasnya untuk kebutuhan negaranya sendiri. Berita tersebut tentu memberikan dampak yang besar terhadap dunia migas internasional dan tentunya juga membuat para ahli geologi dan pemerintah Indonesia meyakini bahwasannya di Indonesia masih terdapat potensi cadangan migas yang belum kita ketahui jumlahnya. Maka dari itu diperlukan usaha-usaha yang lebih giat lagi dari pemerintah Indonesia dan para ahli yang terkait untuk mempercepat temuan cekungan migas baru dan menggalakkan kegiatan eksplorasi migas di Indonesia.

Diagram perkembangan produksi migas di Indonesia dari tahun 1966 – 2012 dan prediksinya sampai tahun 2016 (SKK MIGAS, 2013).

Sejak tahun 1966 sampai 2001 produksi Indonesia didominasi oleh minyak. Seiring berkurangnya cekungan minyak, sejak tahun 2002 produksi Indonesia didominasi oleh gas sehingga dapat diprediksikan bahwa kegiatan usaha hulu migas Indonesia ke depannya akan didominasi oleh produksi gas dan gas bisa menjadi sumber utama masa depan energi Indonesia untuk beberapa tahun ke depan selama cadangan gas masih banyak dan energi alternatif non migas belum dikembangkan. Alasan utama produksi didominasi oleh gas adalah karena Oil Reserve Replacement Ratio (RRR) berada di bawah 100% dan berada di bawah gas Reserve Replacement Ratio (SKK MIGAS, 2013).

Peta wilayah kerja MIGAS dan basin Indonesia 2013. “Basin” Merah : produksi, hijau : penemuan belum produksi, biru : belum ada penemuan. “WK” ungu : asing, kuning : nasional (SKK MIGAS, 2013).

Jumlah total wilayah kerja (WK) migas konvensional dan non konvensional saat ini ada 321 WK (termasuk 13 WK migas konvensional dan 1 WK migas non konvensional yang ditandatangani pada 15 Mei 2013), terdiri dari : 77 WK eksploitasi migas konvensional (57 WK produksi dan 20 WK pengembangan), 168 WK eksplorasi migas konvensional, 55 WK migas non konvensional, dan 21 WK migas konvensional sedang dalam tahap proses terminasi. Menurut data realisasi pemboran dan penemuan eksplorasi 2012 dari SKK MIGAS menunjukkan total pengeboran berjumlah 92, total selesai bor 81, total penemuan sebesar 82, dan jumlah produksi sebesar 1842 MMBOE. Data-data tersebut juga mencakup data tiap-tiap wilayah cekungan migas di Indonesia bagian barat dan timur, yaitu Sumatra dengan produksi 332 MMBOE, total discovery 18, dan rasio sukses 69%. Natuna 172 MMBOE, total discovery 3, dan rasio sukses 60%. Jawa 512 MMBOE, total discovery 20 dan rasio sukses 67%. Kalimantan 549 MMBOE, total discovery 8 dan rasio sukses 89%, sulawesi rasio sukses 0%, dan Papua dengan 278 MMBOE, total discovery 3 dan rasio sukses 43%.

Diagram kegiatan eksplorasi Indonesia per area. Kegiatan eksplorasi masih lebih anyak di Indonesia barat (SKK MIGAS, 2013).

Diagram trend dan volume jumlah penemuan migas di Indonesia dari tahun 1994-2012 (SKK MIGAS, 2013).

Data-data di atas menunjukkan bahwa sampai saat ini kegiatan eksplorasi di Indonesia telah banyak dilakukan di wilayah Indonesia bagian barat, yaitu di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Natuna sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian timur belum banyak dieksplorasi, padahal menurut data statistik cekungan Indonesia timur dapat menghasilkan cadangan gas yang lebih banyak dengan jumlah pengeboran yang jauh lebih sedikit dibandingkan cekungan Indonesia barat. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun eksplorasi di cekungan Indonesia timur masih sangat kurang akan tetapi jumlah yang diproduksikan bisa mengimbangi produksi dari cekungan Indonesia bagian barat. Maka dari itu sudah saatnya kita melirik Indonesia bagian timur jika ingin mempercepat produksi cadangan gas demi masa depan ketahanan energi Indonesia.

 Namun melirik saja tidak cukup. Mengingat beberapa alasan lesunya kegiatan eksplorasi di Indonesia timur antara lain biaya eksplorasi yang tinggi, banyak sumur pemboran mahal di lepas pantai Indonesia timur yang hanya menghasilkan dryholes, minimnya pasar untuk gas non-LNG, dan masih kurang bagusnya kebijakan, peraturan dan terms yang dibuat oleh pemerintah untuk kegiatan eksplorasi di cekungan Indonesia timur yang mempunyai kondisi berbeda dengan cekungan Indonesia barat.   Penemuan migas non konvensional , seperti yang gncar terjadi di USA dengan shale gas nya, juga meningkatkan taraf kompetisi dalam berinvestasi, sebagai contoh saat ini sudah ada dua perusahaan migas asing yang sudah tidak tertarik dengan wilayah Indonesia dan mencoba mencari peluang yang lebih baik di tempat lain.  Beberapa alasan di atas memperlihatkan bahwa Indonesia bagian timur selain berpotensial untuk menjadi produsen gas yang besar namun memiliki risiko yang besar pula (High Risk, High Reward). Itulah yang menyebabkan para investor masih ragu dalam mengeksplorasi cekungan Indonesia timur. Hanya akan ada sedikit perusahaan multinasional yang berani melakukan sedikit kegiatan eksplorasi yang berisiko tinggi. Sebagian besar perusahaan akan berfokus pada aset-aset yang berisiko rendah dan kurang menyukai untuk melakukan program eksplorasi untuk mengembangkan konsep play yang baru. Untuk itu sudah seharusnya pemerintah dan kita sebagai ahli geologi yang notabennya merupakan ujung tombak kegiatan eksplorasi, bersikap lebih aktif lagi dalam melakukan beberapa strategi untuk bisa menemukan cekungan-cekungan gas tersebut dan meyakinkan para investor mengenai potensi cadangan gas di Indonesia timur.

Kondisi cekungan Indonesia timur yang high risk ini antara lain dapat disebabkan karena masih minimnya data-data geologi dan geofisika yang menunjang penemuan potensi cadangan gas di Indonesia timur. Oleh karena itu alangkah baiknya jika dari sisi pemerintah, terutama kementrian ESDM, MIGAS, SKK MIGAS, dan Badan Geologi dapat memperbanyak bank data dan melakukan integrasi data-data tersebut, seperti data gravity, magnetic, 2D-3D seismic, log listrik, core, cutting, dan survey lapangan. Pemerintah juga bisa menambah data-data dengan membuat seismic atlas, oil-gas field atlas, key-well summaries, dan mengadakan revaluasi konsep geologi. Selain itu pemerintah disarankan juga untuk menyempurnakan peta tektonik Indonesia dan membuka area yang lebih luas untuk migas non-konvensional  terutama wilayah Indonesia bagian timur yang masih terdapat banyak potensi kandungan gas yang belum tergali. Frekuensi jumlah pengeboran juga mempengaruhi prospek penemuan cadangan migas. Pengeboran sumur adalah satu-satunya jalan akhir untuk membuktikan kebenaran dari seluruh data, teori, dan model yang telah dibuat dan dikumpulkan. Dengan adanya kegiatan pengeboran kita dapat mengetahui langsung keadaan sebenarnya di bawah permukaan yang membuat kita menjadi lebih memahami, lebih belajar, dan lebih bisa memprediksikan dimana letak cadangan migas berikutnya. Dengan tersedianya data-data yang semakin lengkap maka akan semakin mengurangi risiko yang ada dan otomatis akan membuat investor semakin tertarik untuk melakukan eksplorasi.

Dari sudut pandang industri atau investor, dalam rangka memperkecil risiko dan  memperbesar success ratio penemuan cadangan gas di Indonesia ini juga disarankan untuk meningkatkan beberapa hal, seperti integrasi data, better business term/flexibility,  kualitas keilmuan geosains yang dimiliki, dan mempercepat proyek eksplorasinya. Disarankan juga untuk menciptakan suatu kerjasama antar beberapa perusahaan, seperti membuat Inter Company Team – Institutions, membuat publikasi success stories agar dapat membuka wawasan investor lain, dan mengadakan integrasi proyek-proyek yang ekonomis.

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "GEA" ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *