SAWARNA, Saat Keindahan Pantai Bertemu dengan Kemistisan Goa

Categories Artikel, GEA Explorer, Kegiatan

Perjalanan G-Ex ke Pantai Sawarna kali ini memakan waktu di jalan yang sangat lama: diawali dengan perjalanan menuju barat daya Pulau Jawa yang memakan waktu 12 jam dan ditutup dengan perjalanan pulang ke Bandung yang menempuh waktu 14 jam. Sebanyak 34 anggota GEA berkumpul pada hari Kamis, 23 Mei 2013 sejak pukul 04.30 di Kubus (depan gerbang Ganesha) dan meninggalkan Bandung pukul 07.15. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami pun tiba di penginapan Cariang Resort pada pukul 19.15, dilanjutkan dengan makan malam dan beristirahat.

Pada pukul 04.00 di hari Jumat, 24 Mei 2013, kami semua bangun dan berkumpul di halaman penginapan. Dipandu oleh dua orang guide, kami berjalan bersama sejauh 3 km menuju pantai dimana kami akan melihat matahari terbit. Langit bertabur ratusan bintang, jembatan gantung pembatas antar desa, dan hamparan sawah yang luas dan hijau menemani perjalanan kami yang cukup jauh dan melelahkan ini. Kami pun bersorak bahagia begitu hamparan pasir dan birunya Samudera Hindia terlihat di balik bukit yang telah kami naiki dengan susah payah. Bukan main, keindahan matahari yang terbit dari balik bukit di timur pantai, ditambah dengan gulungan ombak yang tinggi dan kapal-kapal nelayan yang bersandar, menghilangkan rasa lelah kami seketika.

Belum puas dengan melihat terbitnya matahari, kami pun berjalan ke barat sejauh 1,5 km, ke tempat yang disebut Tanjung Layar. Kenapa disebut Tanjung Layar? Karena di daerah ini terdapat dua batu besar yang bentuknya seperti layar. Terletak agak jauh dari pantai, sebenarnya batu ini bisa saja dikunjungi. Namun, kemarin saat kami datang ke sana, rupanya laut sedang pasang sehingga kami hanya bisa berfoto saja dari jauh. Di daerah ini pantainya cenderung berbatu dan berkarang, tidak berpasir seperti di pantai sebelumnya.

Tepat pukul 09.00, kami melanjutkan berjalan menuju Goa Lalay selama 90 menit. Goa ini terletak di kaki Bukit Pasir Tangkil, sangat jauh dari Tanjung Layar. Kami bahkan harus menyeberangi persawahan, dua jembatan gantung, dan juga beberapa perkampungan. Goa Lalay merupakan goa karst yang terdapat aliran sungai bawah tanah di dalamnya. Kata ‘lalay’ sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti ‘kelelawar’ karena dulu banyak kelelawar yang hidup di goa ini. Untuk masuk ke dalam, kami harus membayar 3000 rupiah per orang, dan juga ada aturan yang harus kami ikuti, yaitu masuk ke goa dengan kaki kanan terlebih dahulu dan menjaga omongan kami selama berada di dalam goa. Kami berjalan tanpa alas kaki ke dalam goa sejauh 300 m dan menemukan berbagai macam fitur karst minor, seperti stalaktit dan pilar. Kedalaman air di goa sekitar betis hingga lutut, namun pada beberapa bagian tertentu, kami harus ekstra hati-hati karena pijakan kaki kami dilapisi oleh lumpur yang sangat licin sehingga harus senantiasa berpegangan kepada batuan di samping, beberapa dari kami bahkan merangkak karena jauh lebih aman daripada berdiri. Masuk ke dalam Goa Lalay merupakan salah satu pengalaman ter-menakjubkan dalam perjalanan ke Sawarna kali ini. Siapa sangka, selain wisata pantai, kami juga mendapatkan wisata goa yang cukup menantang dan menyeramkan.

sawarna1

Suasana di Goa Lalay

Setelah makan siang, belum puas menikmati pantai di pagi hari, kami memutuskan untuk bermain ombak sekali lagi untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Bandung. Sekitar 100 m dari penginapan kami, terdapat pantai yang sangat panjang, membujur dari Tanjung Layar ke barat, dan tidak ada orang lain selain kami di sana. Di pantai ini, berbeda dengan pantai pertama di pagi hari, hamparan pasirnya sangat luas hingga hampir menyerupai padang pasir, putih, dan indah. Sayangnya, waktu berjalan begitu cepat sehingga kami terpaksa harus kembali ke penginapan untuk mandi dan bersiap pulang ke Bandung. Tepat pukul 17.00 bis kami berjalan meninggalkan penginapan.

Sawarna11

Bersama pemilik penginapan sebelum kembali ke Bandung

Kami kembali menghirup udara sejuk dan menginjakkan kaki kami di Bandung pada pukul 07.00 di hari Sabtu, 25 Mei 2013. Puji syukur kami ucapkan kepada Allah karena kami bisa kembali dengan sehat dan selamat, dan juga karena kami telah diberikan liburan yang menyenangkan di Sawarna, desa yang tidak hanya menyuguhkan keindahan pantai, namun juga perbukitan hijau yang asri, persawahan, goa, dan penduduk yang luar biasa ramah.

Sumber foto: Raden Muhammad Agung Triadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *