Potret Pendidikan di Negeri yang (katanya) Sudah Merdeka

Categories Artikel

Untitled-5

2 Mei merupakan hari lahirnya salah seorang pahlawan bangsa di bidang pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliaulah yang mendirikan perguruan Taman Siswa. Di perguruan inilah diberikan kesempatan belajar bagi para kaum miskin pribumi. Atas jasa-jasa beliau di bidang pendidikan maka ditetapkan lah tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional.

 Banyak orang berpendapat mengenai arti dari sebuah pendidikan. Secara sederhana menurut saya pendidikan adalah sebuah proses, proses untuk mencari atau mengambil berbagai pengetahuan yang ada. Metodenya bisa berbentuk pelatihan atau pengajaran seperti yang kita alami selama ini. Pendidikan didapatkan sesuai dengan jenjangnnya sehingga akan dicapai suatu proses pendewasaan ketika kita melewati tahap demi tahap dari pendidikan yang sudah kita alami. Lalu bagaimana dengan pendidikan di Indonesia?

Untitled-2
Harus menyeberang dengan perahu untuk mencapai sekolah
Untitled-6
Atau melewati genangan air yang menutupi sekeliling sekolah mereka…

Sekitar 2 hari yang lalu saya bersama dengan beberapa anggota GEA berjalan mengunjungi pak Iskandar (GEA ’77) atau  biasa dikenal dengan nama “Gendos”. Beliau merupakan salah seorang yang inspiratif menurut saya setelah yang dahulu Paramitha Indah dengan turbin listriknya. Beliau merupakan pelopor mikrohidro di Indonesia. Berkaitan dengan pendidikan nasional saya tersentuh dengan perkataan dari istri Pak Iskandar yaitu ibu Tri Mumpuni. Ia mengatakan bahwa “Indonesia sudah salah langkah, pemerintah selalu membangun kekuatan industri tanpa memperhatikan perkembangan SDM kita, dampaknya sekarang banyak orang berpikiran pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan dari suatu pembangunan dan terjadilah kesejahteraan semu di bangsa ini”.

Pertumbuhan ekonomi itu alat, BUKAN tujuan.

Untitled-4
He should be in school
Untitled-3
Kemiskinan sebagai manifestasi buruknya pendidikan kita

Identik dengan pendidikan di kampus kita saat ini, dengan adanya peraturan-peraturan seperti pembatasan kegiatan kemahasiswaan sampai pukul 23.00 dan adanya kebijakan mengenai uang kuliah tunggal (UKT), secara tidak langsung menurut saya bisa mematikan kegiatan kemahasiswaaan di kampus. Lebih lanjut akan berakibat logika mahasiswa mengenai hal-hal teknis ilmu sesuai bidang keprofesiannya akan sangat tinggi dan dominan dibandingkan dengan nilai-nilai sosial terhadap sesama.

Untitled-1
Ibu Tri Mumpuni dan Pak Iskandar (GEA’77)

Bukan bermaksud untuk menggurui atau “cembetul” hanya sekedar ingin berbagi cerita yang telah saya dapat, salut dengan Pak Iskandar dan Ibu Tri Mumpuni yang masih memiliki idealism yang tinggi semoga kita mahasiswa yang masih belajar bisa memiliki idealism yang sama. Intinya selamat hari pendidikan nasional, terima kasih untuk para dosen dan guru yang sudah berjasa mengabdikan dirinya untuk pendidikan di Indonesia.

Bangkitlah kaum intelektual!

Sumber foto: flickr.com

 

1 thought on “Potret Pendidikan di Negeri yang (katanya) Sudah Merdeka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *