Air Mata dari Cililin

Categories Artikel, Mitigasi bencana

Beberapa waktu yang lalu kabar duka datang dari Cililin. Sebuah wilayah yang berada di barat Kota Bandung ini mengalami musibah tanah longsor. Muhammad Malik Arrahiem, seorang anggota biasa HMTG GEA ITB menceritakannya untuk kita

__________________________________________________________________________________________

LONGSOR CILILIN

Pada tanggal 24 Maret 2013 pukul 03.30 WIB dan 05.30 WIB musibah longsor menimpa saudara-saudara kita di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, sekitar 90 menit perjalanan dari kampus ITB. Sekurang-kurangnya belasan rumah habis tertimpa aliran longsor dan juga beberapa korban meninggal dunia dan beberapa lagi belum ditemukan, diduga tertimbun longsoran. Musibah ini tentu sangat memilukan dan penulis turut mendoakan agar semua dapat bersabar dan tetap berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Sebuah kebetulan karena lokasi penelitian Tugas Akhir saya hanya sekitar 1 jam perjalanan dari lokasi longsor sehingga saya dapat mampir melihat keadaan longsoran segera setelah longsor terjadi . Hari Selasa, Mbah Rendi, salah satu staf pengajar di program studi Teknik Geologi ITB mengajak saya melihat keadaan longsoran dan langsung saya iyakan.

Perjalanan menuju lokasi longsor cukup dekat dari jalan utama yaitu daerah Rancapanggung yang merupakan lokasi dekat daerah Danau Saguling, sebelum masuk ke belokan Cijenuk (Kecamatan Cipongkor), jika ditempuh dari Bandung bisa menggunakan jalur utama Bandung-Batujajar-Cililin-Rancapanggung, dan setelah jembatan dapat belok ke kiri ke arah Desa Mukapayung. Di perjalanan menuju lokasi longsor kita akan disuguhi pemandangan tebing-tebing breksi yang Mbah duga berasal dari Formasi Beser persis dengan tebing breksi di lokasi tugas akhir saya, Gn. Celak. Di daerah ini terdapat rumah makan yang dikelola oleh Desa Mukapayung dan terlihat sangat menarik mengingat eksotisnya pemandangan breksi disini.

  cililin-1Gambar 1 Tebing-tebing yang dapat kita temukan dalam perjalanan menuju lokasi longsor

cililin-2Gambar 2 Tebing yang berada di jalan utama menuju lokasi longsor

cililin-3
Gambar 3 Tebing Gn. Celak yang berada di lokasi penelitian penulis, 30 km arah barat dari lokasi longsor (Kecamatan Gn. Halu)

Saya sempat tercengang melihat pemandangan disini karena saya baru tahu di dekat Bandung ada lokasi tebing-tebing terjal seperti ini, sungguh menarik untuk geowisata. Namun saya ingat tujuan kemari adalah untuk mengamati lokasi longsor yang ternyata masih jauh lagi.

Di sepanjang jalan kami temukan mobil-mobil dari BNPB, Basarnas, Polisi, TNI, LSM-LSM dan lain-lain. Semua bahu membahu membantu dalam upaya pencarian korban longsor, namun karena lokasi longsoran hanya bisa diakses oleh motor dan jalan kaki, maka upaya yang dapat dilakukan adalah upaya manual menggunakan cangkul dan sekop. Maka kemudian saya lihat warga mengumpulkan sekop dan cangkul untuk membantu lancarnya proses evakuasi.

Perjalanan jalan kaki menuju lokasi longsor pun cukup jauh dan melelahkan, melewati dua punggungan terjal. Di sepanjang jalan pun kami melihat beberapa lokasi yang mengalami longsor kecil, merusak jalan, dan mengikis tebing, longsor-longsor ini kami duga terjadi bersamaan dengan longsor besar yang memakan korban.

cililin-4Gambar 4 Longsor kecil yang terjadi sekitar 500 meter sebelum longsoran utama

Sepanjang jalan menuju lokasi longsoran pun saya melihat sangat banyak orang yang ingin melihat lokasi longsor, seolah-olah lokasi longsor ini lokasi wisata.

cililin-5Gambar 5 Para pengunjung lokasi longsor

Longsoran ini terjadi setelah terjadi hujan besar selama satu malam penuh, dan kemudian hujan berhenti sekitar jam 3 pagi. Kemudian jam 03.30 WIB terjadi longsoran, warga kemudian bahu membahu membantu menuju lokasi longsoran, namun tak dinyana, pada pukul 05.30 WIB terjadi longsoran utama yang menghabiskan satu RT. Ini merupakan longsoran yang paling besar di daerah ini.

cililin-6Gambar 6 Longsoran utama dengan mahkota longsor sebesar kurang lebih 70 meter, sangat besar

Daerah Mukapayung ini sebenarnya sudah dikategorikan ke dalam daerah merah gerakantanah, yaitu daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gerakantanah.  Daerah ini tersusun atas batuan volkanik seperti tuf dan breksi yang umurnya masih relatif muda secara geologi. Meskipun tidak sempat melakukan pemetaan geologi secara detail di daerah ini, kami menduga longsoran besar ini terjadi pada tanah hasil lapukan batuan tuf, dilihat dari batuan-batuan yang runtuh. Tanah hasil lapukan tuf ini sangat subur, sehingga meskipun berada di lereng yang cukup terjal warga menanaminya dengan padi, sehingga lereng ini menjadi sawah berterasering. Dapat kita bayangkan sawah, merupakan zona jenuh air, air mengalir dari hulu bukit kemudian dialirkan ke sawah, dan disana air menjadi jenuh, bertingkat-tingkat, dan kemudian ketika lewat kapasitas lereng untuk menahan beban, longsorlah.

Berdasarkan pengamatan kami, terlihat bahwa hampir semua lokasi aliran air di daerah Mukapayung pada saat itu mengalami longsor, baik kecil maupun besar, seperti pada Foto 4, dimana batuan dasarnya telah terlihat, yaitu batuan tuf. Pada longsor-longsor kecil ini, aliran air relatif berada dekat permukaan, sedangkan pada longsoran utama, kami menduga aliran air berada jauh ke dalam sehingga mampu menampung air lebih banyak dan menggerakkan tanah lebih luas.

Namun longsor ini tidak berhenti sampai kemarin, mahkota longsoran yang morfologinya masih menggantung, tentu masih sangat berbahaya. Mahkota longsoran ini sewaktu-waktu dapat bergerak lagi apabila beban di atasnya terlalu besar, misalkan karena hujan besar, atau kegiatan yang ekstrim di hulu sehingga kita masih perlu hati-hati apabila menghampiri lokasi ini.

Kejadian longsor Mukapayung ini sekarang sedang berada dalam tahap pencarian korban, tercatat 12 orang telah ditemukan (per 28 Maret 2013), dan bantuan dari semua pihak terus berdatangan. Kita dapat membantu apapun, doa, sumbangan materi, sumbangan tenaga, sumbangan pikiran, dan juga upaya-upaya lain untuk meringankan beban korban, atau mencegah bencana serupa terulang.

cililin-7
Gambar 7 Daftar nama orang hilang, per 26 Maret 2013, sekurang-kurangnya 17 orang yang tercatat menjadi korban, dan 12 orang sudah ditemukan. Kita doakan proses evakuasi berjalan lancar dan warga Mukapayung diberi kesabaran.

Semoga nurani kita tetap bernyala.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *