Di Penghujung Masa Kerja Pak Ary

Categories Artikel, Kampus ITB

Ditemui di laboratorium Geokimia pada hari Kamis, 28 Maret 2013 pukul 15.30, Pak Ary nampak sedang membereskan ruangan kerjanya sambil melayani para mahasiswa yang ramai datang kesana untuk mengucapkan salam perpisahan. Pak Ary Soerjoko, seorang karyawan yang telah mengabdi selama kurang-lebih sepuluh tahun di Departemen Teknik Geologi, baru saja mencapai masa pensiunnya. Diiringi pelepasan sederhana pada jam 12 siang sebelumnya, beliau pun mengakhiri masa pengabdian resminya di kampus ini.

Sosok Pak Ary memang memiliki keistimewaan tersendiri. Kedekatannya dengan banyak orang mulai dari dosen hingga mahasiswa membuat ruangannya hari itu ramai dipenuhi orang-orang. Mengawali karirnya di ITB sebagai petugas keamanan pada akhir tahun 1979, Pak Ary mengakui banyak sekali suka-duka yang ia rasakan selama menjalani kehidupan di ITB. Dimulai dari dulu ketika sering bentrok dengan mahasiswa yang banyak maunya, sampai sekarang menjadi akrab dengan banyak orang termasuk mahasiswa-mahasiswa yang sering bercerita tentang segala hal padanya. Mungkin hal ini berhubungan juga dengan “kelebihan” yang ia miliki mengenai dunia supranatural.

Beliau memang terkenal karena kemampuan khususnya tersebut. Awal karirnya di Teknik Geologi bahkan bermula saat ia diberi amanah untuk “membersihkan” area Karang Sambung yang akan dipakai untuk praktikum mahasiswa saat itu. Banyak pula pengalamannya di prodi Teknik Geologi yang berhubungan dengan hal tersebut, seperti memindahkan mahluk-mahluk kasat mata agar tidak mengganggu manusia, sampai menolong karyawan yang kakinya lumpuh sesaat akibat dipegangi mahluk halus. Selain itu, banyak pula dosen dan pegawai non-dosen yang sering berobat dan berkonsultasi padanya. Pak Ary bahkan pernah diberangkatkan ke Tanah Suci dua kali oleh dosen berkat jasanya.

pak ary

Pak Ary, berdiri di depan lab geokimia di penghujung masa kerjanya

Ditanya mengenai kemampuannya yang unik tersebut, Pak Ary mengakui bahwa semua ini ia peroleh melalui proses belajar. Ia sempat mempelajari ilmu olah napas yang kemudian diperdalam oleh ilmu kebatinan. Awalnya beliau tidak menduga akan dapat melakukan hal-hal yang tidak dipahami orang awam seperti ini. Niatnya tulus, ingin dapat menolong sesama melalui ilmu yang bermanfaat, kemudian ditunjukkan jalan oleh-Nya melalui hal ini.

Kabar tentang kemampuannya tersebut bahkan sudah menyebar sampai luar kota. Di rumahnya di Antapani, banyak pasien datang untuk berobat. Pak Ary menyadari bahwa kabar ini mungkin tersebar dari mulut ke mulut, karena ia tidak pernah dengan sengaja mengiklankan kemampuan dirinya. Metode yang Pak Ary gunakan sendiri tetap mengacu pada Al-Qur’an dan hadits serta sunatullah, karena menurutnya semua ini terjadi akibat hakikat Allah, hanya saja melalui syari’at dirinya.

“Seperti Nabi Sulaiman, ketika ditanya mau memilih ilmu atau harta, beliau memilih ilmu. Namun ternyata Allah memberikan yang lebih,” ujarnya dengan rendah hati.

Yang menarik, terdengar kabar bahwa Pak Ary ditawari kerjasama oleh dua orang tokoh metafisik ternama di Indonesia setelah masa pensiunnya ini. Menurut pengakuan Pak Ary, mereka pun dipertemukan karena jiwa mereka saling merasa cocok. Namun Pak Ary sendiri belum menentukan akan mengiyakan tawaran yang mana. Beliau mengatakan ingin memperbaiki dirinya dulu dengan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, memperbaiki kualitas ibadahnya, dan terus belajar.

Mengenai ilmu metafisik sendiri, menurutnya hal itu bisa dipelajari siapa saja dan sah-sah saja sebagai wawasan. Banyak hal yang ia pelajari seperti nafas alam, nafas Bumi, termasuk dianugerahi kelebihan berupa “suara hati” yang sering ia pergunakan untuk menjawab pertanyaan dan membantu kesulitan orang-orang. Ia juga bisa mendeteksi dan berdialog dengan mahluk-mahluk yang berbeda dengan manusia.

“Kita sebetulnya masih satu alam, hanya terpisah oleh suatu “dinding” buatan-Nya,” ucapnya.

Sesaat sebelum mengunci ruangannya untuk yang terakhir kali, Pak Ary berharap agar para mahasiswa terus diberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala hal. Selain itu ia juga berpesan, bagi mereka yang berada di gedung prodi sampai malam, hindarilah bersiul. “Di sini (gedung Teknik Geologi, red.) juga sebetulnya banyak, lalu lalang dimana-mana. Satu keluarga pun ada. Tapi asal tidak memancing ya tidak apa-apa,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *