Peran Geologist dalam Pengembangan Lapangan Migas

Categories Artikel, Kegiatan, Keprofesian, Lapangan

peran-migas

Geologi migas merupakan salah satu cabang keilmuan yang kaya akan peminat di Teknik Geologi ITB, karena salarynya yang besar (hehehe), ilmunya yang selalu berkembang (sebagai geologist tentunya kita harus memperkaya ilmu kita untuk menemukan hidrokarbon-hidrokarbon baru untuk memenuhi kebutuhan energi), dosennya yang enak mengajar, dan alasan-alasan lainnya.

Dalam pengembangan sebuah lapangan migas, diperlukan peran seorang ahli geologi dan geofisika untuk menemukan dan kemudian meng-eksplor lapangan-lapangan migas baru agar kemudian bisa dikembangkan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Nah inilah yang saya dan tim lakukan dalam beberapa bulan ini. Kami mengikuti sebuah acara OGIP (Oil and Gas Intellectual Parade) 2013 yang diselenggarakan oleh UPN ‘Veteran’ Yogyakarta. Pada acara ini terdapat tiga cabang lomba, yaitu: Smart Student Competition, Plan of Development, dan Paper Contest. Saya dan empat teman saya lainnya mengikuti lomba Plan of Development. Empat teman saya lainnya adalah Dian Saputra, Ananda Trisnadi, Irfan Taufik Rau, dan Ade Anggi. Keempatnya merupakan mahasiswa teknik perminyakan angkatan 2009.

Bagaimana saya bisa bergabung dalam tim ini?
Awalnya, pada Bulan November,  saya bisa bergabung dengan tim ini karena diajak Putra, mereka membutuhkan satu orang geologist untuk mengerjakan bab Kajian Geologi. Tapi sebelumnya ternyata tim kami harus bersaing dengan kira-kira 3 atau 4 tim lainnya, sehingga terjadi persaingan internal ITB. Kami diharuskan membuat laporan POD dalam waktu 3 hari dari soal kompetisi sebelumnya. Dari tim lain terdapat anak GEA lainnya, yaitu Datu, Mas Vian, dan Lutfi. Yang saya kerjakan pada bab kajian geologi ini relatif tidak terlalu susah, hanya mencari tentang geologi regional Cekungan Sumatera Selatan dan sistem petroleum pada cekungan tersebut. Karena waktunya yang mepet, nilai OOIP ( Original Oil in Place) sudah diberikan jadi tidak perlu repot untuk menghitungnya. Setelah laporan selesai, kami diharuskan untuk mempresentasikan laporan tersebut ke ‘BPH’ Patra bagian akademik, karena dialah yang menyeleksi tim  mana yang selanjutnya akan maju. Setelah diseleksi dengan bantuan dosen dari perminyakan, maka tim saya lah yang maju mewakilii ITB di acara OGIP 2013 ini :D

Sistem pada lomba ini adalah kami akan dikirimi soal POD pada awal januari kemudian diberi waktu sebulan untuk mengerjakan dan mengirimkan laporan POD kembali ke panitia pada akhir Januari 2013. Selanjutnya akan diseleksi  6 tim terpilih dari universitas yang berbeda untuk mempresentasikan laporannya masing-masing.  Karena ini sudah lomba yang sebenarnya, maka laporan yang saya kerjakan lebih serius dari yang sebelumnya. Selain membahas tentang geologi regional dan sistem petroleum dari cekungan, saya juga melakukan perhitungan OGIP (Original Gas In Place) dan melakukan interpretasi dari data petrofisik dan seismik. Sebenarnya dalam laporan POD ini bab yang dikerjakan oleh geologist hanya 2 bab yaitu Bab 2 Kajian Geologi dan Bab 4 Cadangan. Dalam laporan POD yang tim saya buat terdapat 11 bab lainnya yang dikerjakan oleh teman-teman dari perminyakan.

Dalam waktu sebulan yang diberikan, saya baru benar-benar mengerjakan tugas bagian saya di seminggu terakhir sebelum pengumpulan. Dengan bertanya-tanya ke Kak Habibi, Kang Dadan, Probo, Datu, dan Aurio akhirnya saya bisa mendapatkan nilai OGIP saya sendiri. Saya melakukan perhitungan menggunakan 2 metode yaitu metode volumetrik dan metode simulator. Dalam metode volumetrik caranya sama dengan yang diajarkan saat praktikum Geologi Migas, yaitu dengan cara overlay kontur isopach dengan isochore, kemudian ditarik batas nilai GWC (gas water contact) dan juga LTG (lowest tested gas). Dalam perhitungan luas tiap kontur isopach, menggunakan software Global Mapper, kemudian dalam perhitungan volumenya menggunakan metode trapesium atau piramidal. Nilai OGIP untuk 1P maupun 2P nya sangat besar bila dibandingkan dengan nilai OGIP yang sudah diberikan di soal. Setelah dianalisis ternyata hal itu memang mungkin terjadi. Karena data yang saya gunakan merupakan data jpeg yang kemudian saya ubah menjadi data vector (diraster menajdi data tiff) kemudian saya trace tiap kontur ispoach per100. Di sini terjadi perbedaan input data, di mana pada soal mereka melakukan input data dari data yang sebenarnya dan pengerjaan menggunakan software dan kemudian dikorelasikan dengan data asli berupa data petrofisik. Jarak perkontur yang 100 meter menyebabkan terjadi kerapatan kontur yang renggang sehingga terjadi koreksi yang cukup besar dalam perhitungan luasnya. Sedangkan pada perhitungan menggunakan software Petrel, hasil yang didapatkan tidak jauh berbeda tapi masih lebih besar dari nilai yang ada di soal. Hal ini diperkirakan juga karena perbedaan input data dan mungkin perbedaan parameter polygon yang digunakan.

Dan perjuangan itu membuahkan hasil…
Kami mempresentasikan laporan ini pada tanggal 13 Februari 2013 di Kampus UPN ‘Veteran’ Yogyakarta. Kami bersaing dengan 5 tim lainnya yang berasal dari UPN, Trisakti, Undip, STT Migas, ITSB, dan UNDIP. Yang menarik adalah pada tim UNDIP semuanya merupakan mahasiswa geologi :D Pengumuman pemenang dilakukan esok harinya, tanggal 14 Februari 2013. Alhamdulillah pada lomba ini ITB bisa mendapatkan juara 2 di bawah UPN. Sedangkan untuk lomba Smart Student Competition, ITB tim B juara 1 dan juara 2 untuk Paper Contest. Prestasi yang cukup membanggakan untuk PATRA ITB dan tentunya GEA ITB :D Harapan saya semoga di kompetisi selanjutnya ITB dan GEA pada khususnya bisa lebih kompetitif dan memiliki semangat juang yang lebih. Untuk mengikuti kompetisi, pembekalan ilmu memang harus dilakukan dari jauh-jauh hari. Hilangkan pikiran untuk menang dengan melakukan cara-cara lain, seperti ngintim atau menjatuhkan mental lawan saat kompetisi. Cukup dengan melakukan dan mempersiapkan yang terbaik yang kalian bisa. Karena walaupun pada akhirnya kalian kalah atau menang, kalian akan merasa bahagia karena sudah melakukan penampilan terbaik dari diri kalian. Jangan lupa untuk ikut dalam lomba ini lagi ya di tahun-tahun berikutnya!

 

Untuk GEA dan ITB yang lebih baik

1….2….3…. GEA!

 

DSC01642-copy

 Semua peserta lomba POD dari 6 universitas yang berbeda. Foto diambil di Ruang Seminar Fakultas Teknologi Mineral

BDFAlZ9CEAAiv1J

Tim dari ITB atau Grass Company yang berhasil menjadi juara 2. Dari kiri ke kanan: Irfan, Anggi, Raini, Ananda, Putra.

2 thoughts on “Peran Geologist dalam Pengembangan Lapangan Migas

  1. Cool rai cool! Semoga banyak anak GEA yang terinspirasi buat berprestasi juga amiiinnnn

  2. makasih ya kure :D ayo semangat GEA untuk kompetisi2 selanjutnya :D :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *