Falasi Logika

Categories Artikel

man_with_question_mark-blue

(1a)

“Brur!, kalau kita ngelanjutin rapat anggota dengan kondisi seperti ini, sama artinya kita menodai hakikat rapat anggota”

(2a)

A : “Kemarin ketika LPJ, kita memutuskan supaya hal ini tidak terulang lagi kan.”

B : ” Iya, brur.”

A: “LPJ kemarin rapat apa brur?”

B: “Rapat anggota

A: “Berarti hal itu keputusan ….”

B: “Rapat anggota, brur”

Dua contoh di atas merupakan hal yang baru-baru ini akrab kita dengar dalam beberapa rapat di himpunan kita, entah itu rapat anggota, rapat manager, rapat ketua, rapat akbar, rapat kurang akbar, rapat apapun lah itu. Entah karena kurang perhatian, atau topiknya yang kurang menarik minat, sehingga saya tidak terlalu ingat dengan topik dan konteks dari pernyataan, dan percakapan yang saya sitir di atas.  Tapi tak apalah karena topik tulisan kali ini bukan tentang konteks dari dua contoh di atas, tetapi tentang falasi logika.

Falasi logika atau logical fallacy adalah sebuah pernyataan, atau ungkapan pemikiran yang salah, namun terdengar logis. Contoh yang sangat umum digunakan adalah seperti berikut ini :

(3a)

“Colin Closet asserts that if we allow same-sex couples to marry, then the next thing we know we’ll be allowing people to marry their parents, their cars and even monkeys.”

Jika anda cermati contoh di atas, ungkapan Colin merupakan sebuah silogisme yang jamak anda dengar contohnya dalam percakapan santai sehari-hari, diskusi, kajian, kampanye presiden KM, rapat anggota, dan rapat-rapat  lain yang sering kita hadiri di kampus. Contoh (2) yang saya tulis di atas pun merupakan sebuah silogisme; ungkapan jika A maka B. Secara kasat mata, maupun tata bahasa, tidak ada yang salah dengan silogisme Colin, ataupun GEA “A”; akan tetapi ketika kita bertanya, apakah pernyataan tersebut merupakan pernyataan yang valid, mungkin kita harus sedikit memutar otak dulu sebelum menjawab.

(3b)

Apakah ketika kita mengizinkan pernikahan sejenis, orang-orang akan SELALU menjadi gila sehingga menikahi mobil, atau monyet? Jika tidak apa yang menyebabkan hal itu akan terjadi?

(2b)

Apakah semua pernyataan yang kita keluarkan di rapat anggota menjadi keputusan rapat anggota?

(1b)

Apa itu maksud “menodai” rapat anggota? Hal-hal apa saja yang membuat itu terjadi? Kenapa rapat dengan kondisi seperti ini anda katakan mampu menodai rapat anggota?

Jika si empunya pernyataan mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan memuaskan (tanpa menimbulkan pertanyaan baru), maka silogisme – silogisme di atas bisa sedikit kita katakan valid. Akan tetapi jika mereka tidak mampu menjawab dengan jawaban yang memuaskan maka pernyataan di atas bisa kita katakan tidak valid sama sekali.

Itulah falasi logika, pernyataan yang terdengar logis (atau dalam sense yang lebih naif; terdengar BENAR), akan tetapi tidak valid. Hal – hal seperti ini tanpa kita sadari sering mewarnai diskusi, obrolan, kampanye, ataupun rapat kita sehari-hari. Hal yang sangat jamak ditemui, bahkan di level kampanye presiden sekalipun. Tak jarang beberapa diskusi menghasilkan sebuah keputusan yang lucu, presiden yang konyol memenangi pemilihan umum dengan jumlah cukup besar, ataupun sebuah rapat anggota menjadi ……… ya sebuah rapat anggota yang lain.

Falasi menjadi hal yang umum terjadi dikarenakan kita kurang mencermati keberadaan hal ini, “seolah-olah semua silogisme benar adanya”,”Seolah-olah semua arti dari KBBI merupakan kebenaran mutlak.”,  dan “seolah-olah” lain yang sering kita amin-i tanpa kita sadari.

Menurut pendapat pribadi saya, tentunya ketidakcermatan kita akan falasi logika dalam proses diskusi (atau dengan padanan istilah yang terdengar lebih keren kita sebut ~ dialektika) merupakan hal yang kontraproduktif, karena kita akan terjebak pada sebuah pernyataan yang kurang valid, meskipun terdengar logis.

Bagaimana cara mengenali sebuah falasi logika?

JANGAN RAGU-RAGU UNTUK MENJADI RAGU! Coba ragukan setiap argumen yang keluar dalam diskusi, putar otak untuk mencari hal yang mungkin bisa ditanyakan, yang nantinya ketika sang empunya pernyataan tidak mampu menjawab, akan menggugurkan falasi logika tersebut. Ini merupakan hal yang merangsang kita untuk selalu berpikir dan menjadi tidak jenuh dalam rapat, atau diskusi. Toh dalam kehidupan kita sebagai geologist kita pun dituntut untuk selalu ragu dan terus mengkonfirmasi jawaban kita dengan fakta empiris kan :).

Selamat menjadi orang yang selalu ragu-ragu dalam konteks positif, mari kita budayakan berpikir dengan metode yang ‘lebih valid’.

nb. contoh di atas merupakan salah satu jenis falasi logika yang dinamai slippery slope, jika anda tertarik membaca lebih banyak tentang falasi logika silahkan kunjungi tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *