Pembangunan ITB dan Fungsi Peresapan Air Kawasan Bandung Utara

Categories Artikel, Kampus ITB

Tahun ini, ITB melakukan pembangunan besar-besaran. Akan ada 4 gedung baru dan beberapa gedung lama yang direnovasi. Sudahkah hal ini mempertimbangkan dampaknya terhadap infiltrasi air tanah?

pembangunan itb

 Kawasan Bandung Utara (KBU) adalah kawasan yang sangat penting karena menyuplai airtanah bagi wilayah Cekungan Bandung. Sekitar 60% air tanah Cekungan Bandung disuplai dari kawasan seluas 38.543,33 Ha, dan sisanya sekitar 40% dipenuhi dari Kawasan Bandung Selatan. Kawasan ini dibatasi barisan Gunung Burangrang, Masigit, Gedogan, Sunda, Tangkubanparahu dan Manglayang, berada pada ketinggian sekitar 750 s.d 1.000 m dpl (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung).

Berdasarkan kegunaannya sebagai kawasan penyuplai airtanah bagi wilayah Cekungan Bandung, maka fungsi lahan yang harus ditinjau adalah kemampuan wilayah ini untuk meresapkan air permukaan ke dalam tanah sehingga kelak dapat menjadi airtanah atau biasa disebut infiltrasi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pembangunan di lingkungan KBU ini berlangsung secara tidak terkendali, permukiman menjamur dan seolah tidak ada yang membatasi. Seringkali terjadi konflik antara para pencinta lingkungan dengan pemangku kepentingan seperti para pelaku bisnis dan lain-lain.

Institut Teknologi Bandung sebagai kampus yang terletak di KBU tentu juga perlu memikirkan mengenai hal ini, yaitu bagaimana kawasan KBU ini dapat menyerapkan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. Berdasarkan pengamatan melalui citra Google Earth per tanggal 25 Desember 2012, ITB memiliki elevasi 771 mdpl, sedangkan batas elevasi 750 mdpl berada di sekitar Jalan Cikapayang. Kita ketahui bersama bagaimana derasnya pembangunan di daerah ini. Kita juga ketahui bersama bahwa setiap kali hujan turun, maka Jalan Dago berubah fungsi menjadi sungai. Hal ini berarti bahwa fungsi kawasan ini sebagai lokasi dimana air diresapkan telah hilang sehingga air kemudian hanya dialirkan secepat-cepatnya menuju Sungai Cikapundung atau sungai lainnya.

Namun kita juga tidak dapat memungkiri bahwa perkembangan Kota Bandung memaksa pembangunan ini harus terus dilaksanakan. Kampus ITB juga perlu untuk berkembang demi kemajuan Bangsa Indonesia yang lebih baik lagi. Tapi apakah pembangunan ini harus merupakan elemen lingkungan? Terutama mengenai sumber daya airtanah. Berdasarkan penelitian dari Prof Lambok M Hutasoit (2000) bahwa kondisi airtanah di daerah Bandung dan sekitarnya akan mengalami kerusakan apabila tidak dilakukan upaya rekayasa agar terjadi perbaikan kondisi airtanah di Bandung dan sekitarnya.

Berdasarkan kondisi kampus yang sama amati beberapa hari ke belakang ini, terjadi genangan air yang cukup parah di sekitar Labtek VIII dan Labtek VII, yaitu Labtek Farmasi dan Labtek Elektro (gambar 1). Hal ini kemudian ditanggulangi dengan dilakukan pemompaan dan kemudian air hujan ini dialirkan begitu saja. Saya melihat fenomena ini sebagai kegagalan dari wilayah ITB untuk meresapkan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah sebagaimana fungsi wilayah ini sebagai wilayah resapan berdasarkan definisi KBU.
ITB BANJIR

Gambar 1. Kondisi genangan air di Selasar Farmasi ketika terjadi hujan di tanggal 21 Desember 2012. Terjadi genangan air dengan ketinggian sekitar 50 cm.

Hal yang menjadi isu yang menurut saya perlu ditanggapi adalah pembangunan di ITB seharusnya memikirkan dampak terhadap kemampuan lahan ITB untuk meresapkan airtanah sebesar-besarnya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa ITB sedang membangun beberapa gedung dan tentu saja pembangunan ini akan merubah fungsi lahan di ITB (meskipun saat ini pun tentu saja fungsi lahan di ITB sudah bukan lagi wilayah resapan). Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Kampus Teknik semumpuni ITB ini dapat melakukan upaya rekayasa tentang meresapkan airtanah sebanyak-banyaknya ke dalam tanah sehingga kerusakan airtanah dapat ditanggulangi.

Dengan kondisi saat ini saja Kampus ITB sudah tidak mampu meresapkan air hujan sehingga terbentuklah Danau Labtek (gambar 1). Apabila pembangunan dilaksanakan, bukannya akan semakin berkurang tingkat infiltrasi air hujan di kampus kita ini?

Jadi perlu ada upaya terbaik dari insinyur-insinyur ITB tentang rekayasa infiltrasi airtanah, baik dengan pembuatan sumur resapan, biopori, atau teknologi baru lain yang menunjang. Mungkin juga perlu dihitung berapa luas bangunan di ITB dibandingkan dengan luas daerah hijau yang bisa meresapkan air hujan ke dalam tanah sehingga kita tahu berapa banyak air yang harus kita resapkan menggunakan rekayasa infiltrasi ini. Ini merupakan sebuah upaya dan gagasan bagaimana Insitut Teknologi Bandung sebagai kampus (yang katanya) terbaik di Indonesia ini dapat menjadi contoh bagaimana pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Namun tentu saja ini hanyalah sebuah gagasan dari mahasiswa yang mungkin masih kurang banyak membaca dan mengerti permasalahan, perlu ada diskusi lanjut dan juga tindakan sehingga permasalahan airtanah ini dapat kita selesaikan. Semoga menginspirasi, dan mari kita berdiskusi.

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater,

 

Muhammad Malik Arrahiem
Anggota Biasa HMTG “GEA” ITB

 

Sumber : http://www.kbujabar.info/
Hutasoit, Lambok M. 2009. Kondisi Permukaan Air Tanah dengan dan tanpa peresapan buatan di daerah Bandung: Hasil Simulasi Numerik. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 3 September 2009: 177-188