Catatan Perjalanan Menelusuri Tangkuban Perahu

Categories Artikel, GEA Explorer, Kegiatan

Laskar pagi siap menghadapi tantangan hari ini, Selasa, 29 Mei 2012. Kali ini 4 anak dari GEA yaitu Malik, Lutfi, Aya dan Haris, yang akan saya sebut sebagai Laskar dalam tulisan ini, akan berjalan-jalan menelusuri Tangkuban Perahu yang terletak di sebelah utara kota Bandung. Jalan-jalan ini cukup berbeda dengan biasanya karena sang Laskar akan bersama anak-anak Sekolah Menengah Pertama dari Global Jaya yang berjumlah 80 anak. Inilah pengalaman pertama Laskar untuk menjadi teman belajar atau tour guide siswa – siswi SMP selama perjalanan untuk mengetahui tentang Tangkuban Perahu dan seluk-beluknya, ya apapun yang ingin mereka tanyakan terutama mengenai kondisi geologinya.

Perjalanan dimulai dengan siswa – siswi SMP Global Jaya dari Cihampelas menuju Tangkuban Perahu menggunakan dua bis dan Laskar pun terpisah di dua bis berbeda. Lokasi pertama tujuan rombongan ini adalah Kawah Domas, salah satu dari Kawah dari gunung Tangkuban Perahu. Kesan pertama yang masih teringat mengenai siswa – siswi SMP tersebut yaitu sebagian besar dari mereka terbiasa menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari karena sekolah ini merupakan sekolah internasional, sebuah kebiasaan yang sangat baik untuk dilakukan anak-anak seusia mereka.

Rombongan sampai di tempat pemberhentian bis kawasan Gunung Tangkuban Parahu sekitar pukul 11.00. Saat rombongan turun, kami langsung dibagi menjadi empat kelompok. Satu orang dari Laskar ini memimpin rombongan sekitar 20 siswa – siswi menuju lokasi tujuan pertama yaitu Kawah Domas yang berjarak 1,5 km dari terminal bis. Cuaca hari itu ternyata tidak bersahabat, ketika kami turun dari bis, mendung sudah terlihat. Sepanjang perjalanan, Laskar sedikit menjelaskan tentang Kawah Domas yang memiliki mata air panas. Belum sempat kami sampai di tempat tujuan, hujan mulai turun. Kami langsung memakai jas hujan dan siswa – siswi pun mengenakan payung yang mereka bawa. Guru – guru masih memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena sepanjang perjalanan pun tidak ada tempat untuk berteduh.

Setelah sampai di Kawah Domas, kami hanya bisa berteduh di warung – warung yang didirikan di dekat kawah. Kami takut jika siswa – siswi dipaksakan untuk turun ke kawah akan terjadi hal yang membahayakan. Suasana tidak terkondisi saat itu karena kami tidak diberitahu bagaimana rencana jika terjadi hujan demikian. Semua orang sudah terlanjur basah kuyup dan akhirnya banyak siswa – siswa yang tertarik untuk hujan – hujanan. Sebagian dari mereka ada yang berniat melihat mata air panas di sekitar kawah. Dengan penuh rasa khawatir kami menemani mereka dan menjelaskan bagaimana bisa terbentuknya air panas tersebut.Pertanyaan pun muncul dari salah satu siswa, ‘Apakah air tersebut mengandung gas berbahaya?’. Tentu saja berbahaya karena ada kemungkinan air kawah tersebut mengandung gas H2S, SO4 maupun CO2.  Akhirnya, hanya beberapa menit saja kami menikmati keindahan Kawah Domas disaat hujan turun. Setelah hujan agak reda, kami memutuskan untuk naik ke atas menuju terminal bis.

Perjalanan pulang lumayan melelahkan, jalur yang kami lalui cukup berbahaya karena jalan menjadi becek akibat diguyur hujan sebelumnya. Lutfi dan Aya menemani siswa – siswi yang tertinggal di belakang karena mereka bingung dengan arah jalan pulang sedangkan Malik dan Haris melesat jauh di depan bersama siswa –siswi yang mampu bergerak cepat untuk segera mendapatkan makan siang. Akhirnya tinggal satu anak yang tersisa bersama Lutfi, Aya dan beberapa guru dari SMP Global Jaya. Anak tersebut memiliki tubuh yang lumayan besar sehingga dia agak kesusahan untuk melalui jalan yang licin. Dua Laskar perempuan berusaha membantu sekuat tenaga untuk menjaga dia selama perjalanan agar tidak terjatuh dan guru – guru dari SMP Global Jaya pun memberi semangat kepada anak tersebut.

Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang, kami pun berhasil menyusul rombongan utama yang telah siap untuk santap makan siang. Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 13.00 dan tidak ada tanda – tanda bahwa cuaca akan cerah sehingga kita bisa menikmati pemandangan Kawah Ratu, karena jika cuaca seperti ini kemungkinan Kawah Ratu tidak akan terlihat sama sekali dan hanya kabut yang berkeliaran di sekitar kawah. Semua anak telah selesai makan dan membersihkan diri dari lumpur dan berganti baju dan kami pun siap untuk melanjutkan perjalanan. Semangat siswa – siswi Global Jaya tak terkalahkan oleh dinginnya suhu, memang sayang sekali jika mereka sudah jauh – jauh dari Jakarta akan tetapi tidak menilik ke kawah terbesar gunung yang memiliki bentuk seperti perahu terbalik ini.

Untuk mencapai kawah terbesar Gunung Tangkuban Perahu ini, Kawah Ratu, kami harus naik menggunakan angkutan khusus dari tempat wisata ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai Kawah Ratu dan benar seperti yang di duga sebelumnya, Kawah Ratu tertutup kabut sepenuhnya. Terlihat sedikit kekecewaan dimata anak – anak tersebut dan termasuk kami, sang Laskar. Melihat sedikit kekecewaan tersebut, Malik akhirnya memberi banyak penjelasan tentang Gunung Tangkuban Perahu dengan sedikit memberi gambaran di selembar kertas gambar ukuran A3.

Setelah penjelasan dari Malik selesai, kami berfoto bersama sebagai kenang – kenangan. Perjalanan pun berakhir pada pukul 15.00 dan rombongan pulang menuju tempat penginapan di daerah Cihampelas. Saat pulang, kami semua tertidur pulas di bis akibat kelelahan setelah melakukan perjalanan yang sangat menyenangkan hari ini. Semoga akan ada pengalaman – pengalaman berikutnya yag lebih mengasyikkan lagi yang bisa kami bagikan. Banyak hikmah yang bisa diambil dari perjalanan kali ini, salah satunya adalah alam itu bukan untuk dihindari akan tetapi alam butuh dimengerti. Ketika alam menginginkan hujan, kita tidak mampu untuk menghindarinya, akan tetapi kita harus mengerti bagaimana cara menyikapinya dengan baik.

 

Salam super dari kami, LASKAR ! hehe ^_^

 

Oleh
Lutfi Baiti (GEA’09)