Geohumanism, Langkah Nyata Berkarya untuk Masyarakat.

Categories Geohumanism, Kegiatan

geohum

Geohumanism, merupakan salah satu kegiatan pengabdian masyarakat Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi ‘GEA’ ITB yang memiliki keunikan dan berbeda dengan pengabdian masyarakat lain dalam hal penentuan lahan. Pengabdian masyarakat ini bermula dari kegiatan ekskursi mahasiswa HMTG ‘GEA’ ITB yang sangat sering dilakukan di daerah Gunungmasigit, hingga akhirnya timbul simpati untuk mengabdi pada masyarakat Desa Gunungmasigit.

Tahun 2009

Inisiasi GEOHUMANISM pada tahun 2009 ini dimulai ketika angkatan 2006 sedang dalam tahap memimpin. Digawangi oleh Dhany Triamindo (12006005), GEOHUMANISM kala itu masih belum rapi dan terstruktur kepanitiaannya, baru sekedar konsep dan kajian.

Tahun 2010
Tahun 2010 GEOHUMANISM berada di bawah kepemimpinan Wildan Mussofan (12007021). Pada masa ini, pemetaan dimulai. Pemetaan yang dilakukan, selain berdasarkan data permukaan, juga menggunakan metode geolistrik. Geolistrik itu bukanlah listrik masuk desa, geolistrik merupakan metode geofisika yang menginjeksikan arus listrik ke bumi untuk mendapatkan gambaran bawah permukaannya. Pada tahun ini pula HMTG ‘GEA’ ITB mulai mengajak Himpunan Mahasiswa Kimia AMISCA ITB untuk bergabung dalam GEOHUMANISM. Sampai akhir kepengurusan BPH 2010-2011, ternyata tahap eksekusi masih belum terlaksana. Tongkat kepemimpinan pun diestafetkan ke Aliftama Febrian (12008019).

Tahun 2011
Kala ini GEOHUMANISM berhasil hingga eksplorasi tahap lanjut, sampai akhirnya drilling sumur untuk sumber air baru. Saat-saat itu merupakan saat-saat yang paling seru, GEA-GEA bergantian menjaga drilling, berlatih menjadi wellsite geologist. Sayangnya lapisan akifer yang dituju ternyata kurang ekonomis sebagai sumber air. Yang artinya tongkat geohumanism masih harus dilanjutkan ke kepengerusan berikutnya.

Tahun 2012
Edwin Yudha Nugraha (12009061) pun diamanahkan untuk melanjutkan GEOHUMANISM. Pada kepengurusan BPH Sony Malik Kartanegara (12009053) ini, gol utama yang diharapkan dari GEOHUMANISM adalah timbulnya empati massa GEA khususnya terhadap warga Desa Gunungmasigit. Sedikit berbeda dengan geohumanism sebelumnya, Edwin menggaet Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB untuk membuat infrastruktur. Jika di kepengurusan sebelumnya melakukan drilling, di bawah kepemimpinan Edwin GEOHUMANISM lebih memanfaatkan mata air, lalu pihak HMTL membuat desain dalam infrastruktur dan instalasi airnya.

KEADAAN WARGA?
Warga di Desa Gunungmasigit RW 14 mencapai 524 jiwa. Warga Desa Gunungmasigit masih banyak yang bekerja sebagai TKI dan buruh pabrik. Banyak warga di sana yang pendidikan formalnya hanya mencapai SMP, dan sedikit sekali yang mencapai SMA dan Perguruaan Tinggi.

Sangat disayangkan bahwa penduduk Desa Gunungmasigit belum memenuhi perilaku hidup bersih dan sehat. Meskipun hampir setiap keluarga memiliki MCK di rumah sendiri namun sistem pembuanganya masih belum jelas. Unit pelayanan kesehatan yang terdapat pada Desa Gunungmasigit hanya Puskesmas dan Posyandu.

EKSEKUSI !

Apa kata warga?
“Di musim kemarau saya biasa membeli air 5000L dengan harga Rp 100.000,- karena susahnya air disini disaat kemarau panjang” Pak Yono
“Saya biasa bolak-balik ambil air di mata air dengan ember besar…” salah satu warga Desa Gunungmasigit
“Kami sudah senang jika mahasiswa bisa membantu desa disini, dan kami tidak minta banyak, perbaikan bangunan di daerah mata airnya saja kami sudah senang” pendapat warga saat FDG.

Musim kemarau?
Mungkin ada permasalahan baru di GEOHUMANISM yang muncul, yaitu tentang debit air yang sangat kecil di saat musim kemarau. Ini yang menyebabkan warga sering mengantri air hingga larut malam.

Permasalahan ini mungkin bisa diselesaikan dengan memanfaatkan mata air yang lainya. Namun dalam kontruksinya akan memakan waktu yang lebih lama.

Mari Kita Bangun!
GEOHUMANISM saat ini tengah membangun infrastruktur di Desa Gunungmasigit. Kontruksi mulai dibangun pada tanggal 16 Juli 2012 dan diperkirakan akan selesai pada tanggal 17 Agustus 2012. Sampai detik ini proses pembangunan telah selesai hingga 90% pengerjaan. Proses pembangunan ini dikerjakan oleh warga Desa Gunungmasigit dengan gotong royong dan tanpa mengenal usia. Baik anak kecil maupun orang dewasa, semuanya turut serta dalam proses pembagunan ini.

Infrastruktur yang dibangun adalah bak penampung utama berukuran 7m x 2m x 1.5m yang disalurkan ke 3 tangki air cabang di sekitar rumah warga. Terdapat 3 sumber air alami di sekitar bak penampung utama yang dapat memenuhi kebutuhan air warga setiap harinya. Tangki air cabang diharapkan dapat memudahkan mobilitas warga dalam mengambil air, karena selama ini warga harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk mendapatkan air.

Pada tanggal 26 Agustus 2012 kami akan melaksanakan peresmian infrastruktur yang telah dibangun di Desa Gunungmasigit. Acaranya meliputi seremonial peresmian instalasi air dan hiburan yang akan dipersembahkan oleh warga dan massa kampus.

geohum

 

Oleh:
Ali Haikal (12010093)