Kopi Sore: Bertamu ke Rumah Sang Professor

Categories Artikel, Kegiatan, Kopi Sore

Apa jadinya bila geologist-geologist wanita bertemu dalam suatu ruangan? Simak ceritanya berikut ini.

ibu emmy

Sore hari sehabis hujan, di Jalan Kurnia no.9 Bandung, Profesor perempuan teknik pertama di Indonesia itu menyambut kami dengan hangat. Tentu saja tak lain tak bukan satu-satunya Prof. Dr. Ir Emmy Suparka.

Senin, 28 Mei 2012, kami GEAwati dari angkatan 2009 dan 2010 datang berkunjung ke rumah Bu Emmy. Bu Emmy menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah. Begitu kami sampai di rumah Bu Emmy, kami langsung dipersilakan masuk ke ruang tengah, dimana disana kami duduk lesehan dengan keranjang berisi gelas-gelas Aqua dan jeruk sudah menunggu.

“Sebelumnya yang pasti ketua rombongan ini menyampaikan dulu maksud datang kesini dong” ujar Bu Emmy langsung penuh canda dan disambut tawa dari kami semua. Asmi, sebagai ketua rombongan kami langsung menyampaikan maksud dan tujuan kami datang yaitu untuk bersilaturahmi dan sharing dengan Bu Emmy tentunya.

Setelah Asmi menyampaikan tujuan kami datang kesana, Bu Emmy yang waktu itu memakai kemeja putih casual mengatakan bahwa beliau sangat senang dengan kedatangan kami semua ke rumahnya. Menurut Bu Emmy, beliau senang karena bisa merasa menjadi orangtua kami karena menurut beliau, dosen merupakan sosok orangtua di kampus. Sebagaimana orangtua, kami dapat bertanya banyak hal kepada dosen, juga dapat meminta bantuan tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam perkuliahan. Bu Emmy juga mengatakan bahwa beliau akan membantu secara maksimal ketika ada mahasiswa yang bertanya padanya. Bu Emmy mengaku sangat senang mendapat kunjungan dari kami mahasiswanya karena beliau mengaku ingin lebih dekat dengan para mahasiswanya. Seringkali beliau menjadi dosen wali mahasiswa program magister atau lebih yang biasanya jarang bertatap muka, padahal beliau ingin lebih dekat dengan mahasiswanya.

Cerita-cerita dari Bu Emmy mulai mengalir. Cerita berawal dari perjalanan Bu Emmy untuk menjadi seorang geologist. Pada awalnya, ketertarikan Bu Emmy berawal dari suatu artikel yang pernah dibaca oleh beliau mengenai gunung api. beliau mulai berpikir bahwa ilmu tentang kebumian sangat menarik, dan Indonesia merupakan tempat yang sangat banyak mengalami kejadian-kejaidan geologi menurut Bu Emmy. “Berapa banyak ahli gunung api di Indonesia? Padahal Gunung apinya segitu banyak tapi ahlinya sedikit, yang ada malah ahli-ahli dari luar negeri” ujar Bu Emmy yang menyatakan bahwa hal itulah yang membuatnya ingin belajar lebih banyak tentang geologi. Ibu dari satu anak ini juga mengaku hobi dengan jalan-jalan, itu juga menjadi alasan penunjang mengapa beliau ingin belajar geologi.

 

Cerita berlanjut hingga pada akhirnya Bu Emmy mengikutin ujian masuk Teknik Geologi ITB. Ada cerita menarik yang beliau tuturkan tentang pengalaman beliau saat hendak mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi. Saat Bu Emmy masuk ke ruangan ujian, pengawas ujian di dalam ruangan mengatakan, “Mbak, salah masuk ruangan ujian ya Mbak?”. Bu Emmy sempat sedikit tersentak, namu dengan pede, beliau menjawab “Ruangan ujian masuk Geologi ,kan? Tidak salah kok” tutur beliau sambil masuk ke dalam ruangan. Suatu kejadian yang mungkin dapat membuat kita tertawa sekarang, namun hal tersebut memang terjadi kepada Profesor teknik wanita pertama di Indonesia ini karena memang dahulu jurusan teknik Geologi merupakan jurusan yang hanya diminati oleh laki-laki, sehingga kehadiran perempuan yang ingin masuk jurusan tersebut adalah suatu hal yang aneh bagi tanggapan kebanyakan orang.

Masa-masa awal perkuliahan di ITB, Bu Emy menjalani masa orientasi mahasiswa. Ketika itu para mahasiswa baru mendapat tugas untuk mengisi buku biodata dan harus disertai dengan tandatangan. Bu Emmy yang cantik dan berada di jurusan “sarang penyamun” pun semakin populer, sehingga tugas mengisi buku berisikan biodata dan tandatangan pun tidak menjadi masalah sama sekali. “Buku saya cepat pebuh”, aku Bu Emmy sambil tertawa. Beliau bercerita bahwa dulu senior-seniornya justru yang mencari mahasiswa yang bernama Emmy dari Jurusan Geologi, dan tentu saja Bu Emmy seolah tinggal menunggu bukunya diisi oleh orang-orang yang mencarinya.

Selama menjalani masa perkuliahan, Bu Emmy menetap di Jalan Maulana Yusuf no.11. beliau memliki motivasi dan semangat yang sangat tinggi dalam belajar yang akhirnya menjadikan Bu Emmy merupakan satu diantara  dua mahasiswi diantara banyaknya mahasiswa yang tidak banyak mengalami kesulitan dalam menjalani perkuliahan. Dalam sisi lain, beliau mengakui banyak mendapat bantuan dari teman-teman maupun seniornya bahkan dosen. Dosen-dosennya sering mengajaknya dalam studi sehingga kesempatan belajar bagi Bu Emmy semakin banyak. Saat belajar, Bu Emmy selalu berusaha untuk memiliki buku-buku pedoman perkuliahan sendiri dengan cara meminjam kepada senior, dan lagi-lagi Bu Emmy tidak mendapat kesulitan dalam hal tersebut. Dengan begitu, semangat dan keinginannya untuk belajar semakin tak terhalang.

Bu Emmy yang di masa-masa kuliah dapat dikatakan sebagai promadona kampus ini mengaku memiliki kepribadian yang cuek. Beliau tidak segan berteman dengan siapa saja. Beliau juga mengaku tidak canggung dengan teman-teman seangkatannya di geologi yang kebanyakan adalah laki-laki. Sifat cueknya ini pun membawa cerita lucu. Beliau bercerita dulu, saat mendengar MUSANG GEA tampil di suatu acara, Bu Emmy bingung sekali mengapa semua orang yang ada di sekitarnya tertawa dan dia tidak mengerti apa yang lucu dari keadaan tersebut. Sampai akhirnya salah satu temannya bilang dan menyuruh Bu Emmy untuk memerhatikan lirik dari lagu yang dibawakan. Ternyata lagunya berjudul “Bu Emmy” yang memang ditujjukan untuk beliau. Setelah itu baru Bu Emmy mengerti dan ikut tertawa. Kerika kami bertanya bagaimana perasaan beliau dibuatkan lagu tentang dirinya, beliau dengan ekspresi datar dan sedikit bingung berkata “ Ya sekarang geli aja kalau denger”, ujarnya lalu disambut tawa kami bersama.

Beliau bercerita bahwa beliau menyelesaikan pendidika S1 nya selama 5,5 tahun dengan total sks 160. Karena adanya G30S/PKI, masa kuliah Bu Emmy sempat terpotong selama 2 semester akunya.

Bu Emmy memilih mendalami studi di bidang hard rock. Alasannya adalah karena mineral merupakan sesuatu yang menarik, memiliki warna-warna yang indah dan dapat berubah-ubah, serta memiliki misteri tersendiri ujarnya. Beliau juga menceritakan bagaimana saat dulu beliau melalui masa sidang. Ketika keluar dari ruang sidang, beliau mengaku menangis karena bahagia dan bangga. Setelah 5,5 tahun perjuangannya kuliah, akhirnya beliau mendapatkan hasil yang stimpal dengan besar perjuangannya. Bu Emmy mendapatkan skor 8, yang katanya merupakan rekor terbaik di bidang hard rock yang terkenal sulit.

Bu Emmy memilih menjadi seorang dosen dalam karirnya karena beliau mengaku senang mengajar. Beliau senang saat berbagi ilmu dengan orang lain. Selama menjadi dosen di Prodi Teknik Geologi, beliau tidak pernah memiliki obsesi untuk menjadi pejabat akademik di Prodi Teknik Geologi ini. Semua dilakukannya murni semata karena kesenangannya mengajar. Beliau juga mengatakan tidak pernah berfikir untuk menjadi profesor pertama dalam bidang teknik, hal tersebut dilakukannya juga karena alasan dalam kesenangannya mengajar, “Dosen harus jauh lebih pinter dong daripada muridnya, makanya ibu belajar setinggi-tingginya biar selalu lebih tinggi daripada muridnya”, begitu ujarnya. Karena prestasinya itulah, Bu Emmy menjadi sering di undang untuk menghadiri seminar atau acara apapun di luar negeri. Bu Emmy mengaku sangat bersyukur atas kesempatan tersebut yang dapat membuatnya lebih banyak lagi belajar.

Saat kunjungan, Bu Emmy juga menceritakan pengalamannya saat menempuh pendidikan di Perancis. Selama pendidikan, Bu Emmy pernah menjadi asisten. Saat itu menjadi asisten merupakan hal yang luar biasa. Engan menjadi asisten itu, Bu Emmy jadi memiliki kesempatan yang lebih banyka lagi untuk belajar.

Hal yang sangat kami kagumi dari Bu Emmy adalah, walaupun beliau senang dengan geologi yang dapat dikatakan sebagai pekerjaan berat, namun Bu Emmy tetap pandai menari sebagai warisan dari masa kecilnya dahulu. Beliau bercerita pernah suatu saat ketika di Perancis, beliau dipanggil oleh Profesornya saat makan siang dan diminta untuk menarikan tarian Bali di acara yang akan diadakan malam harinya. Sangat mendadak. Saat itu juga Bu Emmy segera naik bus menuju apartemennya mengambil kostum tari dan kembali lagi ke tempat acara. Tanpa adanya persiapan dan orang ynag membantu dalam make-up dan memakai kostum,Bu Emmy berdandan sendiri dengan bantuan cermin kecil. “Sempat panik, kan tidak ada persiapan apa-apa tuh”, tapi kenyataan justru berkata sebaliknya. Seluruh teman-temannya memuji penampilan Bu Emmy yang luar biasa. Dan karena hal itu, esok harinya Bu Emmy langsung dikenal semua orang di kampusnya dan disapanya beliau setiap bertemu dengan orang lain

Menurut Bu Emmy, ketrampilan kita dalam seni, akademik, ataupun segala hal harus selalu dibawa bahkan ketika di luar negeri, “Kita itu duta darimana kamu berasal” begitu tutur dosen petrologi Teknik Geologi ITB ini.  Bu Emmy menganggap bahwa impresi amatlah penting apalagi jika kita berhadapan dengan lingkungan mancanegara. Hal itu sangat dipegang teguh oleh Bu Emmy. Terbukti juga selama beliau menjalani pendidikan di Perancis, beliau membangun relasi yang sangat baik dengan orang-orang disekelilingnya, baik dosen, teman, ataupun staff kampus lainnya.

Ibu Emmy benar-benar seorang wanita luar biasa yang serba bisa. Beliau tidak hanya hebat dalam urusan geologi, bebatuan, mineral, namun beliau juga sangat handal dalam urusan keputrian dan rumah tangga.

Ibu dari satu orang anak ini mengaku menguasai dengan baik hal memasak. Hal ini dikarenakan dari kecil Bu Emmy di tanamkan oleh orangtuanya caranya bertanggung jawab dalam hal apapun. Orangtua Bu Emmy memperlihatakan contoh yang sangat baik yaitu membagi-bagikan tugas-tugas maupun pekerjaan rumah ke setiap anak-anaknya. Oleh sebab itulah Bu Emmy sekarang pandai memasak karena dahulu sering kebagian tugas memasak di rumah. Tidak hanya itu, Bu Emmy juga pandai menjahit. Ketika beliau hamil, beliau sempat membuat hiasan dinding untuk diletakkan di kamar anaknya, juga pernah menjahit sendiri bajunya dan menjahitkan baju untuk anaknya.

Bu Emmy sangat menekuni pekrjaan dan kesibukannya di dunia geologi. Dengan relasi yang banyak, keramahannya, ketekunan dan kemampuan dan bakatnya yang luar biasa yang membuat beliau semakin di kenal banyak orang dan karirnya menanjak. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan Pak Suparka, senior geologisnya. Pak Suparka dan Bu Emmy menikah yang pada saat tu Pak Suparka sedang aktif menjabat di LIPI. Pasangan geologist merupakan sesuatu yang menantang bagi Bu Emmy. Bu Emmy mengakui tidak mudah pada awalnya menjalani rumah tangga dengan latar belakang profesi yang sama. Dan Bu Emmy merupakan wanita yang independen, beliau akan terus maju dalam hal apapun selagai beliau mampu. Pekerjaan sebagai seorang geologist yang mengharuskan beliau sering berpergian merupakan salah satu tantangan yang sulit saat beliau sudah menikah. Namun dikarenakan kesibukan suaminya yang sama, kedua pasangan suami istri ini saling mendukung satu sama lainnya. Di masa karirnya, Bu Emmy dan Pak Suparka juga saling melengkapi. Pernah suatu saat Bu Emmy dicalonkan menjadi calon Dekan, dan di saat yang sama Pak Suparka naik jabatan di LIPI yang tentunya akan membuat keduanya semakin sibuk setiap harinya. Dan Bu Emmy memutuskan untuk mundur dari pencalonan calon Dekan tersebut. Menurut beliau, tidak pas jika disaat suaminya semakin sibuk dalam pekerjaan, beliau sebagai istri juga justru malah menambah kesibukan. Bukti cinta Bu Emmy dan Pak Suparka yang selalu saling mendukung, saling mengerti dan saling melengkapi merupakan rahasia dibalik rumah tangga mereka, sesuatu yang sangat saay kagumi dan membuat kami semua wanita-wanita GEA yang datang tersenyum tersipu.

Wanita luar biasa ini sangat ahli dalam mengurus rumah tangga. Saat anaknya baru lahir, sebagai ibu muda yang sibuk dengan urusan pekerjaan geologi Bu Emmy dapat membagi waktunya dengan sangat baik. Pada 3 bulan pertama kelahiran anaknya, Bu Emmu mengurus sendiri anaknya tanpa bantuan dari pengasuh. Ketika masa cutinya habis, beliau mulai mempekerjakan pengasuh. Namun jangan salah duga, dengan keberadaan pengasuh tersebut Bu Emmy menjadikan pekerjaan sebagai fokus utamanya dan menyerahkan urusan anaknya selurhnya pada pengasuh, tetapi pengasuh anaknya hanya sebagai asisten yang melaksanakan seluruh “rundown” kegiatan harian dalam mengurus anaknya. Mulai dari jadwal makan, minum susu, tidur bahkan mandi semua tetap dalam kontrol Bu Emmy. Setiap hari hampir di seluruh kegiatan anaknya Bu Emmy memeriksa keadaannya dengan menelepon pengasuh anaknya tersebut. Saat anaknya memasuki masa sekolah, beliau memasukkan anaknya ke sekolah yang tidak jauh dari ITB. Di hari-hari pertama sekolah anaknya, Bu Emmy senantiasa menemani anaknya, mengantar sekolah, menjemput, juga menemani belajar anaknya. Hal yang luar biasa mengingat kesibukan beliau yang merupaka seorang geologis handal yang pasti memiliki sejuta aktivitas di setiap waktunya.

Bu Emmy selalu daat memposisikan dirinya dengan sanagt baik. Saat beliau dan Pak Suparka menghadapi pekerjaan yang sama, mereka saling mendukung namun tetap bersikap profesional. Misalnya ketika ada kunjungan kerja dalam rangka LIPI, Bu Emmy bisa ikut bersama Pak Suparka,namun ketika di lapangan Bu Emmy menempatkan dirinya sebagai asisten Pak Suparka. Sebaliknya, saat Bu Emmy harus pergi ke luar kota untuk menghadiri suatu acara ataupun untuk ke lapangan, Pak Suparka pun mengizinkan dan mendukung, “walaupun ngga tau ya kalau setengah hati”, ujar beliau tertawa. Satu hal lagi yang sangat saya kagumi dari Bu Emmy.

Kejadian yang sangat menarik bagi kami tentang pasangan romantis ini terjadi saat kami berkunjung. Ceritanya, saat kami sedang asyik mendengarkan cerita Bu Emmy, Pak Suparka yang hendak ke ruang makan turun dari tangga dan melihat serta tersenyum kepada kami, hendak izin untuk lewat. Dengan nada suara ala MC yang mengumumkan kehadiran bintang tamu, Bu Emmy memperkenalkan Pa Suparka kepada kami semua. Jujur saat itu adalah saat pertama kali saya melihat “The Legend Pak Suparka”. Saat beliau kembali dari ruang makan dan hendak naik lagi untuk shalat, Pak Suparka melewati Bu Emmy sambil membelai kepalanya. Spontan kami yang semua wanita terhenyak melihatnya dan langsung tersenyum dan tertawa senang sekali melihat betapa romantisnya pasangan legendaris geologist itu.

Di akhir dari kunjungan kami, beliau banyak memberi nasihat kepada kami bahwa untuk mencapai sesuatu janganlah cepat menyerah dan kalah dengan keadaan. Beliau berhasil melawan opini orang-orang bahwa geologi adalah dunia laki-laki, namu kenyataannya beliau berhasil dalam menjalani pekerjaannya sebagai geologist. Beliau juga mengatakan jangan takut dengan kesalahan dan kegagalan. Cepat bangkit dari kegagalan, “karena kalau kita gagal terus disesali, sedihnya jadi dua kali, capek kan! Jadi mending sekali aja”, tutur beliau.

Akhirnya saat kepulangan kami, kami semua GEAwati yang berkunjung berfoto bersama Bu Emmy yang sebenarmya menjadi penunda kepulangan kami karena terlalu asyik untuk berfoto. Maklum, namanya juga wanita-wanita muda…

Berikut beberapa dari kami yang sempat berfoto dengan Ibu Emmy :)

bu emmy———————————————————————————————————————

Oleh RR Figa Noveria Roosa (12010057)
Foto: Efrina Chandra Agusti Putri