Berbagi Inspirasi Lewat Bincang Inovasi


inovasi-`
Jum’at malam lalu, 22 Februari 2013 di ruang S2 gedung Prodi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung diadakan sebuah acara yang membahas mengenai terobosan baru yang dilakukan oleh beberapa kaum muda, yaitu Bincang Inovasi. Inovasi yang dipaparkan pertama adalah Desa Inovasi Mandiri, sebuah langkah untuk mewujudkan memajukan desa –desa di Indonesia. Menurut Aji, sebagai salah satu pendiri Desa Inovasi Mandiri alasannya memilih desa sebagai target inovasinya adalah adanya ‘gap’ yang besar antara gaya hidup di kota dan di desa dan desa merupakan salah satu pilar penting untuk ketahanan pangan bangsa ini. Program – program yang diusung oleh Desa Inovasi Mandiri terdiri dari Inovasi Produk dan Inovasi Distribusi diantaranya adalah Susu Listrik,Rumah Sehat, dan Desa Mandiri di Lembang. Program – program ini langsung dikelola oleh masyarakat desanya sendiri melalui sistem microfinace. Sistem microfinance ini dianggap sebagai sistem yang tepat untuk memajukan perekonomian masyarakat desa.”Kemiskinan bukan masalah ada uang atau tidak untuk menanggulanginya, tetapi bagaimana sistem yang tepat untuk membasminya”, tutur Aji. Desa Inovasi Mandiri juga merangkul pihak – pihak eksternal untuk berkolaborasi, mahasiswa dari beberapa universitas negeri melalui bidang keprofesiannya ikut turun membantu dan salah satu bank swasta ikut terlibat dalam pelaksanaan sistem microfinance untuk Desa Inovasi Mandiri ini. “Sulit untuk berinovasi hanya mengandalkan disiplin ilmu sendiri, harus ditanamkan mindset kolaborasi dengan bidang – bidang ilmu lain.” Beberapa langkah nyata yang telah ditunjukkan Aji dan teman – temannya pada program Desa Inovasi Mandiri berawal dari sebuah semangat besar yang bersumber dari polemik yang terjadi di sekitar mereka. Menurutnya bangsa Indonesia punya tiga potensi yang juga menjadi sumber permasalahan yaitu akademisi,bisnis, dan pemerintahan. “Jika berbicara pemerintah citra yang didapatkan adalah korupsi, jika berbicara bisnis pasti mengarah ke oportunis, dan jika bicara akademisi ya apa lagi kalau bukan apatis. Semuanya tergantung bagaimana intergrasi masing – masing.” Ungkap pria lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung ini. “Nah sekarang ini adalah bagaimana kita menjadi seorang intergrator untuk Indonesia yang lebih baik.” Aji juga menambahkan bahwa sebagai kaum akademisi jangan memandang masyarakat sebagai objek tetapi sebagai subjek, jadi berinovasilah untuk permasalahan yang terjadi di sekitar masyarakat. “Pemerintah uangnya banyak, programnya juga banyak masalahnya sumber daya manusianya sedikit.”

inovasi 2

Inovasi selanjutnya datang dari Bandung Berkebun, suatu komunitas yang melakukan kegiatan mananam pohon dan tumbuh – tumbuhan, beranggotakan dari berbagai kalangan dan profesi. Ardiansyah sebagai narasumber sekaligus anggota dari Bandung Berkebun memaparkan bahwa tujuan Bandung Berkebun adalah menciptakan lahan hijau di tengah carut – marut kota Bandung. Kenapa berkebun? Selain karena masalah lingkungan, Bandung Berkebun juga mengusung prinsip Fun Theory, ketika seseorang melakukan sesuatu yang menyenangkan maka orang akan lebih menikmati kegiatan tersebut. Menurut Ardiansyah masalah kepenatan masyarakat di kota biasanya karena kesibukan sehingga jauh dari alam ditambah sering makan makanan yang kurang sehat seperti fast food. “ Dengan berkebun stress jadi berkurang kita juga bisa menuah hasil dari tanaman yang kita tanam, kemudian diolah dan jadilah makanan yang sehat.” Beberapa event yang telah diselenggarakan oleh Bandung berkebun seperti Creative Farming : School Farming, Beberes Bandung yang tidak hanya bercocok tanam tetapi juga menghias dinding – dinding di kawasan perkampungan. 3E merupakan representasi dari Bandung Berkebun yaitu edukasi,ekologi, dan ekonomi. “Banyak pelajaran baru yang bisa didapatkan dalam kegiatan berkebun, nantinya apa yang kita lakukan itu akan bermanfaat untuk perbaikan lingkungan. Kemudian jika kita mampu memanfaatkan potensi dari berkebun maka kitapun bisa sekaligus menjadikanya sebagai peluang bisnis”, jelas Ardiansyah. Bandung berkebun mengajak kita melakukan hal – hal kecil yang jika dilakukan banyak orang akan berdampak luas. Kolaborasi dengan pihak – pihak atau komunitas lain sudah sering dilakukan oleh Bandung berkebun. Seperti Bandung Belajar Berkebun, Harvest Tasting Event berkolaborasi dengan Tunza Indonesia. Lagi – lagi ditekankan bahwa kolaborasi merupakan kunci sukses berinovasi. “ Hal yang terpenting dalam berinovasi adalah kolaborasi. Tanpa adanya kolaborasi pergerakan kecil yang kita lakukan sulit untuk menjadi besar.” Bandung Berkebun nampaknya telah menginspirasi Windy Kepala BRT HMTG GEA ITB untuk mengadakan GEA berkebun. Wah, ayo siapa lagi yang ingin ikut melakukan pergerakan kecil ini?! Segera digali, ditanam, dan disiram ya..

inovasi 3

Ternyata Inovasi tidak datang dari komunitas di luar tetapi juga datang dari dalam kampus ITB, Gelfi mahasiswa Teknik Kelautan ITB ternyata juga telah menyumbangkan kreatifitasnya untuk berinovasi melalui bidang keprofesiannya yaitu Odong – odong laut yang mengantarkannya menjadi juara pertama di salah satu kompetisi kelautan. Menurutnya kesuksesan yang diraihnya ini juga merupakan hasil dari kolaborasi dari sebuah the dream team. “Bentuklah sebuah dream team, yang orang – orangnya bisa saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.” Menurut Gelfi inilah saatnya mahasiswa – mahasiswa memanfaatkan apa yang mereka punya untuk berinovasi.

Inovasi yang dimiliki teman – teman pembicara di Bincang Inovasi ini bermula dari hal kecil yang mereka lakukan lalu dimatangkan dengan kolaborasi dengan banyak orang yang memiliki visi kesuksesan yang sama. Jadi, mulailah merealisasikan inovasi yang sudah lama ada di kepala dan jangan lupa ajak teman – teman untuk membantu menyukseskannya.

Leave a Reply